Thursday, May 3, 2018

Kredit Pendidikan yang Tak Mendidik


Oleh: Yunita Gustirini

[Pendidik, tinggal di Bandar Lampung] 



Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengusulkan agar perbankan mengucurkan dana pendidikan. Hal tersebut disampaikan dalam rapat terbatas yang membahas soal 'Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.' Bertempat di kantor Presiden, Kamis 15/3/2018. 


Usulan tersebut disambut oleh Bank Rakyat Indonesia dengan meluncurkan Briguna Pendidikan. Kredit pendidikan yang ditujukan untuk mempercepat peningkatan SDM di Indonesia. 


"Kunci pembangunan ada pada sumber daya manusia. Student loan ini menjadi trigger untuk memacu pendidikan," tutur Kuswiyoto, Direktur Corporate Banking BRI.


Pada tahap awal, student loan ini ditujukan bagi para mahasiswa Universitas Airlangga,      Universitas Brawijaya, Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjajaran, Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung. 


Menyasar para mahasiswa S1 dengan plafon pinjaman Rp50 juta maksimal 7 tahun. Juga mahasiswa S2 dan S3 dengan plafon pinjaman Rp250 juta maksimal 10 tahun. Kredit pendidikan ini dikenai bunga 0,53% flat per bulan. 


Upaya semacam ini seakan terlihat baik. Pemerintah melalui pihak perbankan seolah mendukung tersedianya SDM berkualitas di Indonesia dengan menggelontorkan sejumlah besar dana pinjamam pendidikan. Padahal sejatinya, upaya ini bagaikan trap, jebakan yang akan menjerat para mahasiswa. Tak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. 


Dalam kacamata Islam, negara (pemerintah) berkewajiban meri'ayah (mengurusi) rakyatnya sebagai pertanggungjawaban jabatannya pada Allah, Tuhan Semesta Alam.


Sebagai penguasa, pemerintah berkewajiban memfasilitasi kebutuhan mendasar rakyatnya. Meliputi jaminan sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Semua harus dipenuhi sebagai penunaian kewajiban. Bukan sebagai perniagaan yang mengambil keuntungan dari rakyatnya.


Pendidikan atau menuntut ilmu adalah kewajiban yang dititahkan Allah Swt. Seperti tercantum dalam firman-Nya, "Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”


Rasulullah Saw memperkuat kewajiban mencari ilmu dengan sabdanya, 


طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ


Artinya : ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)


مَنْ أَرَا دَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَالْاآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ


Artinya : ”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu." (HR. Turmudzi)


Pemimpin adalah pengganti tugas kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia. Maka pemimpin harus mengatur rakyatnya agar sesuai dengan aturan syariat. Semua dilakukan demi merealisasikan kemaslahatan rakyatnya dalam urusan dunia dan akhirat. 


Dalam kredit pendidikan tersebut, ada bunga yang ditetapkan. Walau terlihat ringan, riba tetaplah riba yang Allah melarangnya. 


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافاً مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ . وَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (TQS. Ali Imron: 130) 


Nabiallah Muhammad Saw pun mengingatkan kita untuk menjauhi riba. Karena riba laksana perbuatan yang menjijikkan.


الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ


“Riba itu ada 73 pintu. Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi, shahih)


Rasulullah Saw pun menegaskan terkait riba, 


إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ


"Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri. (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).


Seharusnya pemerintah melindungi rakyatnya dari dosa. Bukan malah menjerumuskan ke dalam api neraka. Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. 


Maka waspadalah dengan trap yang seolah tampak indah. Padahal berujung pada murka Allah.


Semakin rindu pada penerapan sistem Islam. Sistem terbaik dari Penguasa Semesta. Yang pasti membawa pada kemaslahatan. Mari bersama memperjuangkan kembalinya. 

Wallahua'lam.




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!