Sunday, May 13, 2018

Khilafah, Tren Politik Jaman Now


Oleh : Aulia Rahmah


     Hampir seabad umat Islam di seluruh dunia kehilangan seorang kholifah. Penjamin terlaksananya Syariat Islam, pelindung umat, dan penjaga kewibawaan.

     Abad ke - 17 menjadi tragedi bagi Kekhilafahan Utsmaniyah. Kholifah dan para gubernurnya mulai silau dengan kemewahan kehidupan di negara - negara barat. Bentuk infrastruktur yang megah memaksa kholifah untuk membangun yang serupa di negaranya walau kondisi keuangan negara kurang memadai.

     Melalui kontrak kerja infrastruktur khilafah, spekulasi dari negara asing dijalankan. Efeknya, hutang negara melambung tinggi. Berbagai jenis pajak diberlakukan, gagal panen hingga kemiskinan melanda. Iming - iming hutang dari kreditur asing menggiurkan, jadilah negara terjebak hutang.

    Khilafah diambang kebangkrutan. Para gubernur menuntut kemerdekaan bagi daerahnya masing - masing. Mesir, Tunisia, Arab, dan yang lainnya. Dengan meminta dukungan adidaya Rusia, Inggris, dan Perancis terciptalah Nation State. Model negara bentukan asing yang sedikit demi sedikit menelanjangi umat Islam dari Ideologinya.

     Wilayah Kekhilafan Utsmaniyah yang membentang dari sebagian Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia diibaratkan kenduri bagi adidaya asing. Nation State membuka jalan intervensi asing untuk menguasai sumber daya alam negara khilafah. ( Eugene Rogan, Dari Puncak Khilafah sejarah Arab - Islam )

     Nation State adalah bagian dari ashobiyah. Menolak ajaran Islam lalu berupaya melanggengkan kedzaliman. Rohingya, Indonesia, Palestina dan bekas kekuasaan Khilafah Utsmaniyah yang lain kini menjadi korban penjajahan atas nama Nation State. Merdeka tapi tak menghasilkan kesejahteraan yang signifikan. Hutang negara menumpuk. Kemiskinan tak terkira jumlahnya. Korupsi menjadi - jadi. Kemaksiatan merajalela. Pengusaha asing dipuja - puja. Rakyatpun semakin tertekan.

     Khilafah bukanlah monster yang layak ditakuti. Bukan pula Drakula yang haus darah. Khilafah adalah ajaran Islam, warisan Nabi Muhammad Saw. Dengan khilafah hidup manusia berujung keharmonian. Hak - hak individu, masyarakat, dan negara terpelihara. Khilafah menutup pintu bagi asing untuk menguasai dan memecah belah persatuan umat. Empat abad sudah cukup untuk kita ikrarkan " Say no to Nation State, back to Khilafah "

     Saatnya partai politik tidak hanya mempertahankan pragmatisme sesaat. Lebih dari itu hendaklah seluruh anggota partai memperkaya diri dengan ilmu2 Islam dan membina masyarakat agar paham Syariat Islam, lalu bersama - sama melakukan dukungan dan kontrol pada negara agar selalu mengikuti pemikiran dan perasaan masyarakat yang telah terdidik dengan pola pikir dan pola sikap islami.

      Kapitalisme - Sekularisme dengan berbagai derivatnya, termasuk Nation State dan Demokrasi bukanlah solusi. Mengambil Kapitlisme sama dengan menjerumuskan diri pada jurang kebinasaan. Padahal Allah berfirman. " .....janganlah kau binasakan dirimu pada jurang kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah.  Sesungguhnya Allah menyukai orang - orang yang berbuat kebaikan " ( Tqs. Al baqarah : 195 ). 

     Bagi partai kekuasaan bukanlah ajang menyalurkan nafsu cinta dunia. Kekuasaan adalah jembatan untuk menyebarkan rahmat di seluruh alam yang mengantarkan pada ridha Allah Swt. Khilafahlah sistem yang kompeten untuk Indonesia kini.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!