Tuesday, May 15, 2018

Kerjasama RI-China, Untuk Siapa?


Oleh : dr. Toreni Yurista, 

Pemerhati sosial, tinggal di Bogor

Sedih hati ini ketika mendengar pertemuan Presiden Jokowi dengan Perdana Menteri (PM) Li Keqiang ternyata kembali menghasilkan kesepakatan kerjasama proyek infrastruktur, khususnya pembangunan pelabuhan dan sejumlah waduk.


Mengapa Indonesia tidak belajar dari yang telah lalu? Sepanjang kerjasama dengan China, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sampai miliaran dolar. Mega proyek infrastruktur juga sudah jelas merugikan rakyat.


Banjir produk baja impor China telah menyebabkan produsen baja nasional kolaps. Serbuan tenaga kerja asing menghasilkan angka pengangguran yang tinggi, terlebih setelah pemerintah mengesahkan UU tenaga kerja asing.


Alasan pemerintah mempertahankan kerjasama dengan China demi pemerataan kesejahteraan patut dipertanyakan. Jika rakyat Indonesia ternyata terus tekor, maka sebenarnya rakyat mana yang ingin disejahterakan pemerintah?


Investasi dan proyek bersama yang merugikan ini tidak layak disebut kerjasama, lebih tepat disebut imperialisme. Sayangnya, pemerintah seperti tak berdaya menolaknya. Malah, pemerintah menjadi penjaga setia kepentingan asing.


Tak dapat dipungkiri, pemerintah negeri-negeri Islam memang sedang mengalami kemunduran yang luar biasa dalam peran politik luar negeri. Penyebabnya tidak lain karena mereka tidak menjadikan Islam sebagai asas yang mengatur politik luar negeri


Islam sebagai agama yang syamil mengharuskan penguasa mendahulukan umat di atas kepentingan pemilik modal. Apalagi terhadap negara-negara yang memiliki kepentingan ideologis, Islam mewajibkan bersikap waspada.


Kerjasama bilateral harus sama-sama menghasilkan maslahat. Produk barang dan jasa yang berpotensi mengacaukan ketahanan negara, termasuk serbuan tenaga kasar dari asing, tidak diperbolehkan dalam Islam.


Apabila mau sedikit saja menengok ajaran Islam, niscaya kita akan menemukan banyak strategi politik luar negeri yang mampu melindungi umat dari imperialisme. Semua itu ini telah dicontohkan oleh Rasulullah sehingga Islam mampu berjaya sampai berabad-abad lamanya.


Penulis: dr. Toreni Yurista, pemerhati sosial, tinggal di Bogor







   





Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!