Monday, May 7, 2018

Kendalikan Pelajar dari Tawuran dengan Solusi Islam



Oleh: Winda Yusmiati, S.Pd

(Ibu Rumah Tangga dan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia)



Tawuran seolah menjadi budaya buruk di kalangan remaja saat ini. Kasus tawuran yang terjadi di Indonesia sungguh mengkhawatirkan. Tawuran antar pelajar hampir terjadi di seluruh kota besar maupun kecil, baik antara pelajar SMA dan SMK atau SMP dan MTs.

Fakta terbaru, kasus tawuran antar pelajar SMA dan SMK terjadi di Kendal, Jawa Tengah. Seperti yang dilansir oleh jateng.tribunnews.com, belasan pelajar SMA dan SMK yang berasal dari kota Semarang diamankan petugas Reskrim Polres Kendal. Mereka diduga terlibat tawuran dua kelompok pelajar di jalan lingkar Kaliwungu, Kamis (19/4/2018) malam. Tawuran masal tersebut menyebabkan seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan asal Kendal meninggal dunia.

Kasus tawuran antar SMP dan MTs terjadi di Sukabumi, Jawa Barat. Polres kota Sukabumi menangkap empat orang pelajar SMP yang diduga menjadi pelaku pemukulan yang berujung pada kematian siswa MTs. Seorang pelajar Madrasah Tsanawiyah (Mts) Arrahmah, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi Zidan Nurholis (15 tahun) meninggal dunia pada Sabtu (28/4/2018). Korban sebelumnya mendapatkan pukulan dengan menggunakan kayu oleh empat pelajar SMP Negeri Sukalarang, Sukabumi. (nasional.republika.co.id)

Dua kasus di atas hanya contoh kasus dari beberapa kasus tawuran antar pelajar yang terjadi di negeri ini.

Miris! Yang terlibat kasus tawuran adalah para generasi muda. Generasi yang seharusnya menjadi pemegang estapet perjuangan bangsa justru malah sebaliknya, menjadi generasi-generasi yang “cacat” dalam akhlaknya.


Pendidikan Sekuler, Akar Masalah Tawuran Remaja

Suntikan paham sekulerisme berupa pemisahan antara kehidupan dunia dan akhirat (agama) telah menjangkiti dunia pendidikan di negeri ini. Bukti yang menunjukkan betapa sekulernya sistem pendidikan di negara ini ditunjukkan dengan paradigma pendidikan nasional yang sekuler. Hal ini bisa dilihat dari UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang dan jenis pendidikan bagian kesatuan (umum) pasal 15 yang berbunyi: jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagamaan dan khusus. Dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan agama dan umum.

Pendidikan yang sekular-materialistik saat ini merupakan produk dari ideologi kapitalisme yang terbukti telah gagal mengantarkan manusia menjadi sosok pribadi yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islam. Paradigma pendidikan yang didasarkan pada ideologi sekular, yang tujuannya sekadar membentuk manusia-manusia yang berpaham materialistik dalam pencapaian tujuan hidup, hedonistik dalam budaya masyarakatnya dan individualistik dalam interaksi sosialnya. 

Oleh karena itu, diakui atau tidak, maraknya tawuran di Indonesia menunjukkan indikasi kegagalan ide-ide sekulerisme yang telah merasuk dalam dunia pendidikan.

Oleh karena itu semakin jelas akibat paradigma pendidikan nasional yang sekuler-materialistik yang memisahkan nilai-nilai agama (Islam) dengan kehidupan, kualitas kepribadian anak didik di Indonesia semakin memprihatinkan. Bagaimana tidak, pendidikan agama di sekolah umum hanya dipelajari 2 jam per-minggunya. Maraknya tawuran antar remaja adalah bukti bahwa pendidikan tidak berhasil membentuk anak didik yang memiliki kepribadian Islam.

Bagaimana dengan pemerintah? 

Sikap pemerintah yang seolah-olah tidak mau tahu. Sikap pemerintah saat ini malah mendukung para peserta didik untuk terlibat tawuran. Bagaimana tidak, untuk memperingati Hardiknas pemerintah menganjurkan untuk menonton film Dilan. Seperti yang kita ketahui film Dilan sangat erat dengan remaja yang terlibat tawuran dalam kesehariannya.

Solusi Untuk Generasi Penerus Negeri

Untuk itu wahai para remaja, kita butuh membentengi diri dengan ilmu agama agar tidak mudah jatuh dalam kemaksiatan kepada Allah yang akan merugikan diri kita didunia, terlebih lagi di akhirat kelak.

Tanamkan pada diri bahwa kalian sebagai generasi muda muslim, bukanlah generasi yang hidup dengan emosi yang menggebu-gebu tanpa adanya kontrol, kendali dari aturan agama. Tentu, pelajar muslim tidak akan melibatkan dirinya dalam bentrok, perkelahian, atau tawuran pelajar yang bisa berakibat fatal, seperti menghilangkan nyawa seseorang. Ke-muda-an-nya bukan diwujudkan dengan aktivitas sia-sia tanpa tuntunan aturan agama. Sibukkan diri dengan aktivitas yang akan mendatangkan keridha-an Allah, serius dalam belajar ilmu dunia dan akhirat (agama) untuk meraih kesuksesan kita di dunia dan akhirat.

Apalagi kita adalah generasi pilihan yang membawa kebenaran dari Allah. Mampukah kita mengikuti jejak-jejak mereka yang berhasil mengukir sejarah dengan perstasi yang mengagumkan di atas kebenaran yang hakiki. Coba kita lihat bagaimana sosok Umar bin Khattab, Abu Bhakar ash Shidiq, Ali bin Abu Thalib, ataupun tokoh al Khawarizmi (penemu angka nol), Ibnu Sina (Ahli Kedokteran), Ibnu Ar-Razi (Ahli Kimia) dan lain-lainnya.

Masya Allah! Mereka adalah buah dari keberhasilan pendidikan dalam Islam. Kemurnian ajaran Islam yang bersumber dari Allah mampu melahirkan generasi-generasi yang kokoh pribadinya, melebihi tangguhnya karang di lautan.

Untuk mencetak generasi yang tangguh yang mumpuni keilmuan dan keahliaannya serta paham terhadap agamanya, idealnya, kita membutuhkan pendidikan sebagaimana pendidikan dalam Islam. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk generasi yang berkepribadian Islam (pola pikir dan pola sikap Islam) yang tangguh dan membekali anak didik dengan ilmu serta keterampilan yang bermanfaat sebagai bekal hidupnya. Semua ini akan terwujud ketika aturan-aturan Islam diterapkan secara kaffah (menyeluruh) dalam setiap aspek kehidupan sehingga Islam mampu menjadi rahmatan lil ‘alamin. 


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!