Friday, May 25, 2018

Kekerasan Pada Anak Buah Busuk Sistem Sekuler


Oleh : Rut Sri Wahyuningsih

Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Medsos


Rekaman video percekcokan antar orangtua di depan restoran cepat saji di sebuah pusat perbelanjaan di Mall Kelapa Gading Jakarta Utara menjadi viral di media sosial. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 25 April 2018 . Kejadiannya bermula ketika anak-anak tersebut bermain di Play Ground ( taman bermain). Tiba-tiba anak perempuan tertendang oleh anak laki-laki.  Anak perempuan itu menangis. Kemudian ayah dari anak perempuan  marah lalu membalas dengan menendang anak laki-laki tersebut. Ibu dari anak  laki-laki itupun marah mengetahui anaknya ditendang. Kanit Reskrim Polsek Kelapa Gading AKP Syam Ramadhan membenarkan adanya peristiwa tersebut.


Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai tidak pantas seorang ayah berinisial J yang membalas anaknya yang ditendang bocah. Persoalan tersebut seharusnya bisa diselesaikan dengan baik. Menurut Komisioner KPAI Susianah, kekerasan kepada anak ini melanggar undang-Undang nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak , dengan ancaman hukuman  5 tahun penjara (detik.com/28/04/2018).


Sungguh, tidak sedikit fenomena kekerasan terhadap anak di Indonesia ini. Masih lekat dalam ingatan bagaimana seorang anak berusia 7 tahun, bernama Ari Hanggara yang meregang nyawa di tangan ayah kandung dan ibu tirinya hanya karena kesalahan sepele. Namun, hingga hari ini mereka yang mendapat sebutan orangtua karena mendapatkan amanah anak justru tidak berat melakukan tindakan kekerasan. Korban kekerasan terus berjatuhan. Dan kekerasan terhadap anak jika ditelaah lebih mendalam  berakar pada lepasnya pemahaman agama (Islam) di tengah individu, keluarga, masyarakat dan Negara. Berganti dengan paham kebebasan (liberalisme) dan kapitalisme. Tak ada lagi rasa takut bahwa perbuatannya akan membawa dampak yang merugikan pelaku dunia akhirat . segala sesuatu diukur atas dasar hawa nafsunya. Suka atau tidak suka, bukan halal haram.


Pemahaman tentang sebuah keluarga,bagaimana memenuhi hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga tidak cukup jika di dapatkan ketika setelah menikah, namun justru jauh sebelum seseorang memutuskan hendak berkeluarga dia harus paham untuk apa  dia berkeluarga. Hingga dengan pemahaman yang utuh itulah dia menjalani kehidupan berkeluarga, memperlakukan dan mendidik anak, dan lain sebagainya. Pemahaman itu yang hari ini berhenti di kursus-kursus pranikah yang minim nuansa keimanan yang shahih. Tak bertarget. Sehingga yang didapat oleh pasangan calon pengantin itu adalah solusi praktis terhadap persoalan keluarga yang ngambang . Akibatnya akan mudah goyah, pada akhirnya bermunculan berbagai persoalan kepada buruknya   keharmonisan rumah tangga, lemahnya ikatan  keluarga, ketidak pedulian masyarakat dimana dia tinggal. dan abainya . 


Tugas keluarga hari ini menjadi sangat berat. Berbagai persoalan yang timbul akan membuat seorang ayah, ibu, paman, bibi , kakek dan lainnya ringan melakukan tindak kekerasan.  Mudah mengambil jalan pintas , stress dan membenarkan diri sendiri hingga beresiko menjadi anarkhis . Butuh kehadiran negara yang berfungsi sebagai periayah atau pelayan bagi keluarga-keluarga muda. Bukan sekedar regulator keluarnya kebijakan kapitalistik. Terlebih ketika masyarakat yang sudah tidak lagi memiliki perasaan, pemikiran dan peraturan yang sama makin membuat keadaan bertambah parah. Tengoklah program perencanaan keluarga yang di opinikan oleh negara, sarat dengan kerangka berpikir kapitalistik. Penggambaran bahwa banyak anak banyak masalah telah menelan mentah-mentah akal sehat para orangtua. Sehingga ketika anggota keluarga mereka bertambah dengan adanya kelahiran berikutnya mereka justru menganggap sebagai sebuah bencana. Terbayang dipelupuk mata beratnya beban hidup ekonomi maupaun “pandangan negatif’ masyarakat yang  akan mereka hadapi. Padahal propaganda keluarga kecil sejahtera melalui program pembatasan kelahiran secara fakta tidak bisa dibuktikan kebenarannya, karena dalam sistem kapitalistik banyak orang merasakan kesulitan hidup bukan karena memiliki anak banyak. Justru hal ini menyalahi keyakinan seorang muslim bahwa rejeki ditangan Allah. Jelas   butuh adanya sistem aturan dari negara yang akan membantu usaha para orangtua  tersebut mewujudkan cita-cita luhurnya . Perlindungan Negara berupa sanksi ,hingga hari ini belum mampu  menjerakan pelaku kekerasan. Selain ringan dari sisi jenis hukuman juga tidak memberikan keadilan. Harus ada perubahan mendasar ditengah masyarakat hingga kehidupan berubah hanya berdasar pada akidah dan tolok ukur perbuatan berdasar syariat Islam. Penetapan sanksi benar-benar harus menjadikan kekerasan bukan sebagai alternative menunjukan arogansi.


Tauladan kita Rasulullah tidak hanya lembut terhadap istrinya , Rasulullah juga menjadi teladan dalam membimbing dan mendidik anak-anak. Beliau senantiasa berlaku lemah lembut kepada anak-anak. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata,” Rasulullah mencium cucunya, Hasan bin Ali ra . Waktu Al-Aqra berkata, “ Ya Rasulullah, saya punya sepuluh orang anak, dan belum pernah kucium seorangpun” Rasulullah menoleh ke Al-Aqra seraya bersabda,” Siapa saja yang tidak mau mengasihi maka tidak akan dikasihi” ( HR Bukhari dan Muslim). Menurut Ibnu Abbas ra Rasulullah bersabda “Seorang anak yang memandang kepada orangtuanya dengan pandangan cinta, akan dicatat Allah seperti amalan orang yang mendapat haji mabrur”. Nilai Islam inilah yang ditanamkan kepada keluarga muslim . Dimana hari ini hendak dihilangkan oleh orang kafir agar ikatan dalam keluarga melemah, yang kemudian berakibat melemahnya ikatan dalam masyarakat .  Islam menempatkan anak pada posisi strategis sebagai asset generasi masa depan. Karenanya Islam memberi aturan yang menjamin tercapainya fungsi strategis anak dengan aturan yang komperehensif diberbagai aspek kehidupan termasuk persanksian.


Semua hal diatas tidak akan diraih selama kita masih berpegang teguh kepada kapitalisme dan liberalisme. Keduanya justru menimbulkan kesengsaraan dan malapetaka bagi umat. sudah tiba saatnya untuk menerapkan hukum Allah dalam naungan daulah khilafah . Wallahu a’lam bish shawwab.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!