Wednesday, May 2, 2018

Keberanian Bukan Untuk Tawuran

Oleh : Latifatul Khoiriyah, S.T ( Guru Sekolah Menengah dan Anggota Revowriter)


Setelah memakan korban nyawa karena tawuran, pada bulan ini juga terjadi peristiwa yang memprihatinkan terutama pada dunia anak dan pendidikan. 

Telah diamankan pelajar SDN 1 Sindangkasih sebanyak 15 orang mereka membawa senjata tajam berbagai jenis. Rencananya para siswa SD ini akan menyerang pelajar SDN 6 Sindangkasih, kejadian ini terjadi pada hari Jumat 20 April 2018 sekira pukul 10.00 WIB. Tepatnya di Kampung Baranangsiang, Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Purwakarta. 

Seorang warga mengetahui anak-anak berusia 10-13 tahun ini berkumpul di lapangan dan kepergok membawa senjata tajam, beruntung warga mengetahui dan segera dilaporkan ke Babinsa. Menurut  penuturan warga rencana tawuran diduga dipicu oleh permasalahan sepele, ada siswa SDN 6 yang lewat tidak permisi dulu, akhirnya ada cekcok kecil.

Kepolisian bersama babinsa pun akhirnya mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya 4 buah parang, 1 buah gear motor yang disambung ke ikat pinggang, 5 buah celurit rakitan. Selain itu 2 buah golok, 2 buah ikat pinggang dan 2 besi tumpul pun diamankan. (www.pikiranrakyat.com)

Miris sekali mendengarnya, Apa penyebab anak seumuran mereka membawa benda tajam dan menantang tawuran?. Benarkah itu keinginan mereka sendiri atau ada faktor lain yang mempengaruhi, lebih ngeri lagi  kalau sampai ada yang memfasilitasi. 

Anak-anak seusia mereka tengah memasuki tahap pertumbuhan untuk mencari aktualisasi diri. Sehingga, ketika ada yang mendukung, otomatis secara tidak langsung mendorong rasa keingintahuan mereka. Meskipun, hal itu merupakan prilaku menyimpang.  Faktor keluarga menjadi yang pertama. Membentuk anak menjadi pribadi yang baik atau bertindak menyimpang. Karena dari rumahlah pendidikan dimulai, dan ibu memiliki peran utama membangun pemahaman dan menanamkan kebiasaan, sebelum melepas anak anak mengenal dunia sekitar.  

Sosok Ibu Teladan

Adalah sosok sohabiyah mulia Muslimah Al-Khansa yang memiliki nama lengkap Tumadhar binti ‘Amr bin Syuraid bin ‘Ushayyah As-Sulamiyah ini menikah dengan Rawahah bin Abdul Aziz As Sulami. Dari pernikahan itu, ia mendapatkan empat orang anak laki-laki. Kasih sayang dan ilmu yang berlimpah ia berikan kepada anak-anaknya. Sehingga, keempat anaknya itu menjadi pahlawan Islam yang tersohor. Keempatnya wafat sebagai syuhada pada perang Qadisiyah.

Sebelum peperangan dimulai, terjadi perdebatan yang sengit di rumah Al-Khansa. Keempat putranya saling memperebutkan kesempatan untuk ikut berperang melawan tentara Persia. Mereka juga berdebat tentang siapa yang harus tinggal di rumah bersama ibunda mereka.Satu sama lain saling tunjuk menunjuk untuk tinggal di rumah bersama ibunya. Keempatnya memiliki keinginan besar untuk melawan musuh. Pertengkaran itu pun terdengar oleh Al-Khansa dan mengumpulkan semua anak-anaknya.

"Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian memeluk agama ini tanpa paksaan dan berhijrah dengan kehendak sendiri. Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya, kalian adalah putra-putra dari seorang lelaki dan dari seorang perempuan yang sama, tidak pantas baginya untuk mengkhianati ayahanda dari keempat anaknya ataupun membuat malu paman mereka atau mencoreng tanda di kening keluarganya. "Jika kalian melihat perang di jalan-Nya, singsingkanlah lengan baju kalian dan berangkatlah. Majulah hingga barisan depan, niscaya engkau akan mendapatkan pahala di akhirat tepatnya di negeri keabadian."

Ia pun memberikan ridha bagi keempat anaknya untuk berjihad. "Berangkatlah kalian dan bertempurlah hingga syahid menjemput kalian." Keempatnya pun bergegas menuju medan perang. Mereka saling berjuang melawan musuh-musuh Allah dan berhasil membunuh banyak pasukan Persia. Pada akhirnya syahid datang dan menjemput mereka.

Al-Khansa pun mendengar syahid keempat anak-anaknya. Namun, bukanlah air mata yang mengalir deras dari matanya, melainkan binaran tanda syukur dan ia berkata "Alhamdulillah, yang telah memuliakanku dengan syahidnya putra-putraku. Semoga Allah, segera menjemputku dan mempertemukan aku dengan mereka dalam naungan rahmat-Nya di Firdaus-Nya yang luas."

Begitulah kiranya ketika Islam menjadi panduan para ibu membangun karakter putra putrinya. Berbeda dengan sekarang, karena ketidaktahuan akan pentingnya pondasi keimanan, melahirkan generasi yang tak punya rasa takut berbuat menyimpang. Didukung kondisi masyarakat yang abai terhadap pergaulan. Semakin derasnya budaya asing memporakporandakan kehidupan anak dan remaja lewat tayangan tak bermoral, juga permainan yang melenakan.

Menjadi penting bagi ibu untuk terus belajar. Terutama tentang bagaimana Islam mencontohkan ketegasan dan keberanian pada anak, bukan untuk unjuk kekuatan sehingga dianggap jagoan. Namun sikap tersebut menjadi aspek pendukung perjuangan dalam mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Menunjukkan kasih sayang kepada sesama muslim dengan berbuat adil, bukan adu fisik apalagi tawuran.

“Dan orang-orang yang bersama dengan dia (Muhammad) adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka”(Q.S. Al-Fath:29).





Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

1 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!