Friday, May 4, 2018

Kartini Tanpa Konde, Para Muslimah Pengukir Peradaban


Oleh : Dini Prananingrum,ST

(Penggiat Revowriter Yogyakarta, Pembina Kajian Annisa Yogyakarta)


Para perempuan muslimah telah banyak menorehkan sejarah emas peradaban gemilang. Terukir dalam sejarah islam yang mengajarkan banyak keteladanan serta inspirasi yang amat indah untuk dilukiskan mengalahkan perempuan manapun di dunia ini. 


Tidak ada teladan terbaik bagi perempuan selain para shahabiyah dan muslimah di era peradaban Islam yang mendapatkan jaminan ridha dan diridhai Allah. Tidak ada kemuliaan selain kemuliaan meneladani napak tilas generasi shahabiyah dan muslimah  yang mengagumkan dalam segala dimensinya. Baik pendidikan, ekonomi, politik, sosial dan berbagai keuatamaan mereka yang menakjubkan hati setiap insan. Merekalah sebaik-baik teladan dan inspirasi. 

Muslimah Pengukir Peradaban

Ketika gagasan pendidikan dan pengajaran seorang Kartini baru sebuah wacana yang tertoreh dalam kumpulan suratnya, yang dibukukan oleh JH Abendanon pada tahun 1911M . Di Fes, Maroko tahun 859M sebuah Universitas pertama di dunia dibangun oleh seorang muslimah. Adalah Fatimah Al-Fihri, lahir 1216 tahun silam atau tepatnya 800M. Berhasil mendirikan Universitas Al-Qarawiyyin. Bahkan jauh sebelum Al Azhar, Cambridge, Harvard, Oxford didirikan. 

Fatimah Muhammad Al-Fihri nama lengkapnya juga dijuluki Oum al Banine, yang berarti ibu dari anak-anak Fes. Fatimah Al-Fihri hidup dalam sebuah keluarga yang sangat kaya dan keturunan bangsawan. Namun memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dia tumbuh bersama saudara perempuannya Mariam. Kedua saudara ini merupakan putri-putri yang shalihah dan berpendidikan. Mereka pun sangat mencintai ilmu agama islam dan sains khususnya arsitektur. Fatimah dan Mariam memiliki visi dan misi untuk kemajuan masyarakat. Mereka mewarisi sejumlah besar uang dari ayahnya yang di gunakan untuk membentuk komunitas studi. Dengan membangun masjid dan sekolah bagi masyarakat setempat.  Kompleks ini kemudian dikenal sebagai masjid dan sekolah Qarawiyyin. 

Universitas Al-Qarawiyyin memainkan peran utama dalam menyebarkan cahaya pengetahuan dan tonggak pertukaran budaya antara peradaban Islam dan Eropa. Pada abad 12M berkembang menjadi sebuah Universitas yang menjadi pusat penting pendidikan dan merupakan Universitas Islam paling bergengsi pertama di dunia. Berdasarkan UNESCO dan the book Guinness World Records, Universitas Qarawiyyin adalah Universitas pertama dan tertua yang memberikan gelar bagi para lulusannya.  Para pembelajar dari seluruh dunia menempuh perjalanan ke universitas tertua ini untuk mempelajari Islam, astronomi, bahasa, sastra, dan sains.  Angka Arab dan nol mulai dikenal dan digunakan di Eropa melalui universitas ini.

Banyak ilmuwan terkemuka yang lulus dari universitas ini. Di antara ilmuwan terkemuka yang menjadi alumninya terdapat beberapa nama seperti Ibn Rushayd Al-Sabti (wafat 1321), Mohammed Ibn Al-Hajj Al-Abdari Al-Fasi (wafat 1336), Abu Imran Al-Fasi(wafat 1015), Allal al-Fassi, Abd el-Krim el-Khattabi, Ibn Khaldun, Muhammad Taqi-ud-Din al-Hilali, Abdullah al-Ghumari dan beberapa tokoh lain. 

Fatimah Al Fihry adalah sosok muslimah yang sukses menggabungkan Islam dengan pendidikan. Bahwa pendidikan dan Islam tidak terpisah dari urusan kehidupan. Ini bukan hanya sebuah contoh bagaimana pendidikan dan agama bergabung disudut kecil dunia, namun menyoroti peran besar dan terhormat bagi perempuan dalam masyarakat yang mampu memberikan kontribusi luar biasa bagi kegemilangan peradaban. 


Sama seperti halnya Fatimah Al Fihry, perempuan di masa kegemilangan peradaban Islam lain yang luar biasa adalah Mariam “al Astralabiya” al Ijliya (al ‘Ijliyah bint al ‘Ijli al Asturlabi). Adalah seorang ilmuwan dan penemu pada abad 10 Masehi di Aleppo, Suriah. Dia merancang astrolube yang digunakan dalam astronomi untuk menentukan posisi matahari, planet-planet dan navigasi. Desainnya sangat inovatif sehingga ia diperkerjakan oleh penguasa kota di mana ia tinggal. Akibat keahliannya dan kepintaranya, banyak ilmuwan Eropa yang berkiblat padanya. Sehingga, ilmu astronomi dapat berkembang pesat seperti saat ini.


Mariam merupakan seorang perempuan muslimah pemberani dan canggih dalam dunia ilmu pengetahuan. Kehadirnya cukup menjadi bukti kesuksesan peradaban Islam memberi perhatian besar terhadap perempuan. Kegigihan, dan keunikan bakat yang di miliki Mariam Al Asturlabi patut untuk ditumbuh-kembangan di tengah kehidupan umat Islam saat ini.

Shahabiyah Teladan Inspiratif

Tak hanya muslimah generasi terdahulu yang memiliki rekam jejak inspiratif. Namun para shahabiyah mulia memiliki gagasan dan jasa yang tentunya lebih fenomenal. Contohnya Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq ra, salah seorang istri Nabi dan juga cendekiawan muda. Mendapat gelar “Faqihat ul Ummah” (ahli hukum dari umat). Karena pengetahuan tentang hadits dan keahliannya dalam hukum Islam. Meriwayatkan lebih dari 2200 hadits dari Nabi saw. Para sahabat banyak mendulang ilmu dari beliau. 

Aisyah ra. juga memiliki peran besar atas bidang pengetahuan lainnya. Termasuk obat-obatan, puisi, sastra dan sejarah orang-orang Arab. Sahabat, Urwah bin Az-Zubair ra. mengatakan tentang Aisyah, “Saya belum pernah melihat (laki-laki atau perempuan) yang memiliki pengetahuan lebih tentang Al-Qur’an, perkara wajib, apa yang halal dan haram, puisi, sastra, sejarah orang Arab, silsilah mereka, daripada Asiyah”. 

Begitupun Asy-Syifa binti Abdullah ra. dari suku Quraisy Al-Adawiyah, adalah seorang sahabiyah yang mulia, cerdas, memiliki banyak kelebihan, dan merupakan salah satu tokoh perempuan Islam yang menonjol. Di dalam dirinya terhimpun pengetahuan keislaman dan keimanan. Pemilik nama asli Laila ini dikenal sebagai seorang guru perempuan pertama dalam Islam. Dia juga termasuk wanita yang disebut di dalam firman Allah surat Al-Mumtahanah ayat 12 karena termasuk wanita muhajirin angkatan pertama yang berbaiat kepada Rasul Saw. 

Asy-Syifa merupakan istri dari Abu Hatsmah bin Hudzaifah bin ‘Adi. Ia menjadi salah satu dari sedikitnya perempuan di masa pra Islam yang bisa membaca tulis. Setelah masuk Islam, ia yang mengajari para muslimah, salah satunya adalah Hafsah binti ‘Umar bin Khaththab,  istri Rasulullah  saw.  Selain bisa membaca dan menulis, Syifa pun juga memiliki keahlian dalam bidang ruqyah. Karena kepandaiannya ini, ia dihadiahi rumah khusus di Madinah oleh Rasul saw. Selain itu, Asy-Syifa binti Abdullah juga termasuk salah seorang perawi hadits. Dia meriwayatkan beberapa hadits dari Nabi saw, juga dari Umar bin Khathab.

Asy-Syifa, perempuan dengan kecerdasan ini, mendakwahkan Islam melalui karunia yang diberikan Allah kepadanya. Amirul Mukminin, ‘Umar bin Khaththab sering meminta pendapatnya tentang berbagai masalah. Ia bahkan  menunjuk As-Syifa untuk menangani persengketaan pasar. Dengan mengangkatnya menjadi qadhi hisbah. Syifa Binti Abdullah wafat di zaman Umar bin Khaththab  pada tahun 20 H. Tentunya setelah banyak mengabdi untuk kepentingan umat.

                

Shahabiyah Rasul terakhir  yang menjadi inspirasi bagi kejayaan perempuan masa kini, adalah seorang perempuan yang dari rahimnya lahir empat syuhada, yang gugur di medan perang ketika membela Islam. Dialah perempuan yang dipanggil Al-Khansa ra. Seorang penyair hebat dan terkenal di masanya yang bernama asli Tumadhir binti ‘Amr bin Al-Harits bin Syarid. Rasulullah pun memuji syair dari Al-Khansa melalui sabdanya “Aduhai, wahai Khansa’, hariku terasa indah dengan syairmu.” (Al-Ishaabah VIII/66)


Al Khansa adalah perempuan penyair yang bijaksana dan cerdas. Juga memiliki semangat  juang yang besar dalam membela Islam. Ia sering berjihad bersama kaum muslim lainnya. Tak heran semangat juang ini menurun kepada ke-empat anaknya. Khansa bersama ke-empat putranya ikut dalam perang Qadisiyah pada masa kekhalifahan ‘Umar bin Khaththab.


Di sinilah jiwa kepahlawanan Khansa diperlihatkan kepada keempat putranya melalui pengarahan pada malam terjadinya pertempuran sengit. Inilah penggalan wasiatnya pada malam itu “Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah mengetahui pahala besar yang telah disediakan Allah untuk kaum muslim yang berperang melawan orang-orang kafir. Ketahuilah, bahwa negeri yang kekal lebih baik daripada negeri yang fana. Putra-putraku, sabarlah, tabahlah, bertahanlah dan bertaqwalah kepada Allah Semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung. Jika kalian melihat genderang perang telah ditabuh dan apinya telah berkobar, maka terjunlah ke medan laga dan serbulah pusat kekuatan musuh, pasti kalian akan meraih kemenangan dan kemuliaan, di dalam kehidupan abadi dan kekal selama-lamanya”


Setelah mendengar nasehat itu, keesokkan harinya putra-putra Khansa segera terjun ke medan perang dengan gagah berani. Keempatnya pun syahid di perang tersebut. Mendengar syahidnya anak-anaknya, Khansa merimanya dengan penuh keimanan dan kesabaran.  Kalimat luar biasa pun keluar dari mulutnya “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan anakku dengan menjadikan anak-anakku sebagai syuhada’. Aku berharap kepada Rabbku agar kiranya Dia berkenan mengumpulkan aku bersama mereka di hamparan kasih sayang-Nya yang abadi.”


Penyair terhormat ini tutup usia pada tahun ke-24 hijriyah pada masa ‘Utsman bin ‘Affan di sebuah perkampungan Badui. Kecerdasan, kesabaran dan cara mendidik anak  yang dilakukan Khansa sudah selayaknya menjadi teladan bagi setiap perempuan. 


Masih banyak shahabiyah dan juga muslimah sesudah masa Rasulullah saw yang telah menorehkan jasanya. Juga berhasil mengukir peradaban gemilang hingga layak dijadikan inspirasi para perempuan. Semoga melalui kisah muslimah pengukir peradaban ini, para perempuan kini merubah kiblat keteladanan mereka kepada  para Kartini tanpa konde tersebut. Wallahu a’lam.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!