Friday, May 18, 2018

Kartini dan Perjuangan Wanita Indonesia Sepanjang Zaman


Oleh : Siti Ruaida S.Pd Pengajar di Mts P.Antasari Martapura


Setiap bulan April kita memperingati hari Kartini tepatnya pada tanggal 21 April. Tentunya akan banyak sekali kegiatan yang dilaksanakan mulai dari anak Taman Kanak-Kanak sampai orang dewasa seperti emak emak tidak kalah sibuk terlibat dalam perayaan hari Kartini. Mulai lomba busana kartini sampai lomba masak semuanya didekasikan dan dihubungkan dengan perjuangan dan jasa Ibu Kartini untuk kaum wanita keluar dari era kegelapan menuju era terang menderang sesuai judul buku beliau "Habis gelap terbitlah terang".

Ibu Kartini adalah tokoh wanita yang diidentikkan dengan pembawa

perubahan bagi kaum wanita. Sebenarnya bagaimana bentuk perjuangan beliau untuk wanita, ternyata di zaman beliau sedikit sekali kaum wanita yang tersentuh pendidikan, beliau salah seorang yang beruntung bisa bersentuhan dengan pendidikan karena kebetulan beliau anak seorang bangsawan. Seperti umumnya wanita saat itu beliau menikah di usia muda dengan seorang bangsawan.  dan alhamdulillah beliau mendapatkan ijin untuk belajar bahkan mendirikan sekolah untuk mencerdaskan wanita dengan menganjarkan menjahit, menyulam, memasak dan sebagainya secara cuma-cuma. 


Sosok Ibu Kartini yang membawa perubahan merupakan pejuang di zamannya untuk merubah adat tradisi yang dianggap mengekang peran wanita, dengan pemikirannya sebagai wanita yang terpelajar, ia mengingankan wanita juga harus mendapatkan pendidikan yang diwujudkannya dengan mendirikan sekolah untuk wanita, agar wanita menjadi sosok yang cerdas dan tangguh.

Kartini yang bersahabat dengan seorang wanita Eropa bernama Rosa Abendenon dan sering saling bercerita melalui surat. Sahabatnya menceritakan kehidupan wanita Eropa yang menurutnya adalah sosok wanita yang punya pemikiran dan cita citanya yang tinggi untuk maju. Sedangkan Kartini berkisah tentang kehidupan wanita Jawa yang terkekang adat tradisi, hal ini memicu Kartini untuk berjuang memberikan pendidikan secara gratis dengan mendirikan sekolah disekitar rumah beliau di Jepara dan Rembang, yang Kartini dedikasikan untuk wanita.


 Perjuangan Kartini tidak berlangsung lama ternyata Allah berkehendak lain, Kartini tidak dikarunia umur panjang diusia 25 tahun beliau dipanggil oleh yang maha kuasa. Tapi nyala api perjuangan Kartini selalu ada dihati wanita Indonesia, dan menjadi inspirasi perjuangan wanita di zamannya dan sampai saat ini.


Perjuangan wanita Indonesia memang sepanjang masa. Ada banyak tokoh wanita yang berjuang diberbagai daerah seperti Dewi Sartika, Rasuna Said, Rohana Kudus yang membuka sekolah untuk wanita, mendirikan sekolah untuk mencerdaskan wanita di zamannya. Ada Cut Nyak Dhien yang gigih melawan Belanda bahkan beliau harus dibuang ke Sumedang karena Belanda ingin memadamkan api perjuangan beliau. Ada Cut Muetia yang pantang menyerah mengangkat senjata melawan Belanda. Ada Siti Manggopoh yang ditakuti  Belanda karena perjuangan dan kegigihannya dalam Perang Balasting (pajak uang).


Bahkan di daerah Kalimantan  Selatan kita juga memiliki tokoh ibu pejuang seperti Aluh Idut yang memiliki nama asli Siti Warkiah yang lahir ditahun 1905 dimasa-masa pergulatan perjuangan melawan penjajah Belanda dan beliau oleh orang tua dididik sebagai pejuang untuk melawan kesewenangan dan kezoliman para penjajah. Tumbuh dilingkungan pejuang menjadikan beliau bukan perempuan biasa yang hanya sibuk dengan urusan rumah tangga, tapi mengangkat senjata melawan Belanda. Begitu juga dengan Ratu zaleha yang juga mengangkat senjata melawan Belanda. rela mengorbankan harta jiwa raga untuk masyarakat untuk mengusir Belanda agar tidak ada lagi penindasan. Hal ini mereka lakukan tentu karena dibangun diatas pemikiran dan ketakwaan, bahwa ada hal yang buruk yang menimpa rakyat khususnya wanita yang tidak boleh dibiarkan, hàrus ada gerakan perubahan untuk kebaikan bersama. Hingga mereka sampai rela meninggalkan kegembiraan mereka berkumpul dengan anak dan keluarga karena harus selalu ada dalam barisan perjuangan untuk membela kepentingan rakyat. 


Begitulah tokoh wanita zaman old lalu bàgaimana wanita zaman now. Wanita sekarang dikepung oleh pemikiran liberal kàpitalis yang sangat menakutkan, lebih horor dari pada bedil dan meriam Belanda. Karena perang pemikiran dan serangan budaya liberal yang menyerang tanpa aba-aba dan dalam kesenyapan tanpa peringatan, Tiba tiba sudah meluluh lantakan rumah tangga menjadi berkepìng-keping. Bagaimana tidak ketahanan keluarga menjadi rapuh karena serangan kapitalisme yang menggempur generasi dengan gadget, fashion, aksesoris sampai kuliner yang dikampanyekan oleh artis idola mereka yang penuh ambisi membuka àurat dan bergàul bebas dengan lawan jenis tanpa batasan.


Hidup di zaman now tentu memerlukan sosok wanita yang tangguh, peduli dengan lingkungan dan generasi. Mampu berjuang untuk memastikan para wanita dan generasi bisa selamat dari kondisi saat ini dari serangan pemikiran ditengah sistem sekuler kapitalis atau penjajahan gaya baru yang menjauhkan manusia dari agama dalam pengaturan kehidupan, yang pada akhirnya menimbulkan permasalahan diberbagai aspek kehidupan seperti masalah moral dan budaya. Krisis sosial dan krisis generasi bahkan krisis ekonomi dan politik.


Sosok wanita yang bagaimanakah yang mampu menghadapi tantangan penjajahan gaya baru atau new imperialisme ini. Tentulah sosok wanita negarawan yang punya visi misi untuk negeri agar mampu menghantarkan wanita dan generasi mampu menghadapi tantangan zaman. Mengokohkan ketahanan keluarga menjadi benteng dalam menangkal serangan new imperialisme. Ditengah-tengah lemahnya peran negara dalam menjàga wanita dan generasi. Wanita sebagai tiang negara berperan penting dalam keluarga untuk mengcounter  paham-paham liberal. Kondisi ini mengharuskan semua wanita untuk tampil menjadi Sosok wanita pejuang,  bàik dia sebagai ibu rumah tangga maupun yang berkiprah disektor publik harus tampil menjadi wanita pejuang sebagai penjaga generasi dan tiang negara.


Kaum wanita di era globalisas ini memang digempur ide-ide barat sehingga menuntut kaum wanita sebagai ibu berperan paripurna dalam menjaga generasi dari gempuran budaya barat yang merusak tatanan sosial budaya timur. Generasi now disuguhi pemikiran dan budaya yang dijajakan melalui televisi, film media sosial. fashion, artis idola yang dibayar mahal untuk menjajakan gaya hidup barat yang merusak.


Bagaimana peran wanita Indonesia dalam menjaga generasi dan negara , tentu hanya akan bisa dilakukan oleh wanita yang memiliki kesadaran pemikiran dan mendedikasikan dirinya sebagai wanita yang bertakwa yang paham bahwa tugas pokok wanita adalah sebagai ibu dan rabbatul bayt, serta menjaga kehormatannya sebagai wanita, sehingga menjadi tiang penguat bagi  bangsa. Hal ini juga menjadikan wanita  produktif dan berdaya dàlam menghadapi tantangan zaman dan menjadi energi dalam masyarakat untuk menghadapi berbagai persoalan seperti penyakit moral yang melilit generasi seperti kenakalan remaja, narkoba, geng motor, miras oplosan, pergaulan bebas, LGBT, prostitusi, kekerasan terhadap wanita dan anak, serta penculikan anak dsb. Hal ini akan bisa terlaksana apabila wanita mendapatkan dukungan dari penerapan tatanan nilai islam atau ideologi yang menjamin terlaksananya peran pokok wanita. Hingga mereka mampu membangkitkan generasi dan melakukan perbaikan ditengah-tengah masyarakat.


Kita melihat dan merasakan bagaimana wanita Indonesia berjibaku dalam tugas besar untuk penyelematan generasi dan masyarakat dari gempuran budaya barat. Bagaimana kegalauan dan kelelahan mereka menghadapi serangan tanpa bayangan, peluh dan air mata serta semangat teraduk menjadi satu. Tetapi selalu ada harapan dimata wanita Indonesia untuk menjadi lebih baik. Wanita Indonesia selalu bersemangat dalam mengkaji ilmu agar menjadi pencerah dan lentera ditengah kegelapan dan kebobrokan zaman. Mata mereka selalu bersinar karena disana ada semangat Kartini. Cut Nyak Dhien, Cut Muetia, Rasuna Said, Aluh Idut Ratu Zaleha dan sejuta sinar dan inspirasi dari tokoh wanita Indonesia sepanjang zaman.


Bisa dipastikan jasa ibu Kartini dan Jasa wanita Indonesia tak terbalaskan. Bagaimana perjuangan mereka tentu tidak diragukan lagi, untuk mencetak generasi tangguh, selalu ada semangat untuk menata diri menjadi lebih bàik menuju peran paripurna sebagai ibu yang melahirkan putera-puteri(umm) sekaligus sebagai pendidik generasi(murabbiyah ajyal).  Wallahua'lam


Penulis adalah Guru IPS di MT.s Pangeran Antasari

Member Akademi Menulis Kreatig (AMK)

Kalsel

#PenulisBelaIslam



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!