Sunday, May 13, 2018

Kado 'Pahit' untuk Guruku


Oleh Shintia Rizki Nursayyidah, S.Pd. (Alumni Universitas Pendidikan Indonesia)


Sedih. Miris. Ingin marah. Berkecamuk rasanya dalam hati ini melihat sebuah video yang menunjukkan aksi tidak terpuji dua bocah SD yang beradegan seperti orang dewasa di depan teman-temannya. Tak kalah mencengangkan adalah perbuatan tersebut yang dilakukan masih di dalam lingkungan dan jam sekolah (Harianriau.co, 27/4/18).

Lalu, siapa yang salah dari kejadian ini? Lagi-lagi para guru yang terkena imbasnya. Pasti semua bertanya, hal tersebut dilakukan di sekolah, lalu kemana gurunya? Tidak adakah guru yang turun tangan untuk menghentikan aksi dua bocah SD tersebut? Ya, pertanyaan yang sangat wajar. Namun, perlu kita ketahui bahwa kejadian ini terjadi tentu bukan sepenuhnya salah guru. Pembentukan moral dan karakter siswa bukan hanya kewajiban guru di sekolah, tapi yang berperan penting juga adalah keluarga, masyarakat, dan negara.

Sungguh, ini adalah kado pahit untuk para guru di hari pendidikan nasional ini. Bagaimana tidak? Kejadian ini telah mencoreng citra dunia pendidikan, juga telah menorehkan luka yang dalam bagi para guru.

Di sekolah, para guru telah berupaya untuk membentuk moral siswa. Namun, di luar sekolah, para siswa dihadapkan dengan gempuran pornografi yang sangat mudah mereka akses di situs-situs online. Belum lagi masyarakat pun seolah "pura-pura tidak tahu" dengan kejadian-kejadian yang ada di sekitarnya. Seperti yang pernah saya saksikan sendiri. Pernah suatu kali, ada seorang anak kelas 1 SD di suatu wilayah, sedang melakukan "oral seks" di motor. Tapi tak ada satu pun orang yang mengambil tindakan. Bukan tidak tahu, toh anak tersebut melakukannya di ruang publik. Ketika ditanyakan alasannya, bukan urusan saya atau tidak mau ribet berurusan dengan orangtua/keluarga anak tersebut. Apatah lagi orangtua anak tersebut seperti tak peduli apapun yang dilakukan anak tersebut. Innalilahi. Sudah sedemikian parah memang kondisi saat ini. Pondasi keluarga rapuh, amar ma'ruf ditengah masyarakat minim, lalu penjagaan negara juga tidak ada. Buktinya, anak-anak begitu mudah mengakses video porno.

Kejadian demi kejadian yang menimpa siswa-siswi bangsa ini, sekali lagi, tidak bisa hanya "mengkambinghitamkan guru". Sudah guru bebannya berat untuk melaksanakan administrasi pendidikan yang berlebih, ditambah penghargaan terhadap guru juga begitu minim. Gaji yang tidak seberapa pun -masih jauh dari UMR-, itupun kadangkala ditunggak 3 bulan. Tentu hal ini menjadi tambahan pikiran guru untuk mencari pundi-pundi rupiah di tempat lain. Sungguh menyedihkan.

Jika kita menelisik akan kita dapati bahwa segala permasalahan ini akibat diterapkan sistem Kapitalis-Sekuler. Dengan memisahkan urusan agama dari kehidupan menjadikan keluarga-keluarga muslim menjadi keluarga yang rapuh, jauh dari Islam sehingga minim penanaman aqidah kepada anak. Begitupun dalam masyarakat, penerapan kapitalisme-sekuler menjadikan masyarakat yang individualis.

Berbeda jika yang diterapkan adalah sistem Islam. Dalam sistem Islam, terdapat tiga pihak yang bertanggung jawab untuk menghasilkan generasi yang berkualitas, yaitu: pertama keluarga, yang menjadi wadah pertama pembentukan generasi Islam melalui ayah dan ibu. Setiap orangtua kaum muslim akan mendorong anak-anaknya untuk selalu bertaqwa kepada Allah Swt. dengan cara menjalankan segala perintah dan menjauhi laranganNya. Dengan hal tersebut, seorang anak akan takut untuk berbuat maksiat kepada Allah.

Kedua, masyarakat yang menjadi lingkungan tempat generasi Islami itu tumbuh dan hidup bersama anggota masyarakat lainnya. Islam telah mendorong masyarakat untuk melakukan koreksi, muhasabah terhadap individu rakyat, jama’ah, maupun penguasa, misal mereka melakukan tindak kriminal (melanggar hukum Allah Swt.). Masyarakat muslim akan selalu melaksanakan amar ma’ruf nahiy mungkar. Dengan hal itu, akan semakin memantapkan individu untuk selalu berjalan sesuai dengan aturan Islam. 

Ketiga, Negara Islam. Negara akan berperan penuh untuk menjaga ‘aqidah umat, dengan jalan menerapkan hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan penjagaan ‘aqidah umat.

Oleh karena itu, untuk menghentikan persoalan-persoalan yang mendera dunia pendidikan kita ini, tidak hanya guru tapi seluruh elemen harus bersinergi agar kembali menerapkan syariat Islam secara kaffah sehingga lahir darinya para siswa yang memiliki kepribadian Islam dan unggul dalam sains dan teknologi. Generasi muslih shalih inilah yang tentunya diharapkan para guru, karena dengan hal itu, para guru tidak akan mendapatkan kado pahit melainkan mendapatkan kado terindah, yakni pahala yang tidak pernah terputus.

“Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).

Penulis adalah Pemerhati Pendidikan dan Pengurus Komunitas Generasi Cinta Negeri



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!