Sunday, May 20, 2018

Islam Selamatkan Negeri


Oleh: Nor Aniyah, S.Pd


Islam adalah pedoman hidup yang membawa kesejahteraan dan rahmat bagi semesta alam. Sebagai agama yang sempurna, Islam mengatur urusan pribadi, masyarakat dan negara. Islam yang kaffah ini menuntut setiap Muslim mendakwahkannya  menyeluruh, mulai dari akidah, syakhsiyah, syariah, dakwah maupun sistem untuk memerintah.


Rasulullah saw dan para sahabatnya menjadikan akidah Islam sebagi fondasi peradaban. Mereka membangun peradaban dengan menegakkan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Kaum Muslim pun hidup sejahtera sampai sekitar 13 abad lamanya. 


Namun, kita lihat sungguh berlainan dengan keadaan zaman sekarang. Kesengsaraan meliputi seluruh manusia di dunia. Penyebabnya tidak lain karena meninggalkan aturan Sang Pencipta. Sistem hidup yang dipakai bukanlah meneladani Rasulullah saw. Tapi, memakai sistem yang bertentangan dengan Islam, yakni kapitalisme-demokrasi.


Yang terjadi meratanya kesengsaraan pada umat. Sedangkan negara-negara kapitalis terus menjajah negeri-negeri Muslim dengan rakus. Mengeruk kekayaan alam dan memaksakan aturan hidup mereka. Jika sistem kapitalisme ini tidak segera dicabut, maka yang akan terus menjadi korban adalah rakyat. 


Islam merupakan ideologi yang berasal dari Allah SWT sesuai dengan fitrah dan mampu memberikan solusi atas semua masalah yang dihadapi manusia sepanjang hidupnya. Sistem Islam akan menyelamatkan negeri dari segala bentuk penjajahan. Visi besar yang mulia untuk mensejahterakan seluruh masyarakat, bisa terwujud dalam institusi Khilafah. 


Berdasarkan istilah syar’i kata “khilafah” merupakan padanan bagi kata imamah dan imarah al-mu’minin. Syaikh al-‘Allamah Muhammad Najib al-Muthi’i (w. 1406 H) mengatakan, “Al-Imamah, al-Khilafah dan Imaratul-Mu'minin adalah sinonim.” (Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, 19/191).


“Khilafah mengarahkan seluruh umat berdasarkan sudut pandang syar'i dalam meraih kemaslahatan mereka di akhirat dan kemaslahatan mereka di dunia yang mengacu pada akhirat. Sebab, segala kondisi di dunia, menurut syariah diukur berdasarkan kemaslahatannya di akhirat. Ia pada hakikatnya adalah pengganti Shahib asy-Syar’ (Rasulullah) dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia dengan agama.” (Ibn Khaldun, Muqaddimah Ibn Khaldun, 239).


Khilafah merupakan bagian dari syariah Islam yang mulia. Menegakkan Khilafah jelas merupakan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Hal ini adalah pandangan mayoritas ulama mu’tabar. Istilah Khilafah, banyak digunakan dalam hadits Rasulullah saw. Di antaranya:

“Ada era kenabian di antara kalian. Dengan izin  Allah era itu akan tetap ada. Kemudian ia akan diangkat oleh Allah jika Allah berkehendak untuk mengangkatnya. Setelah itu, akan ada era Khilafah yang mengikuti Manhaj Kenabian.” (HR. Ahmad).


Sedangkan pemimpin yang memangku pemerintahan dalam Khilafah adalah khalifah. Kata jamaknya khulafa. Hal ini juga disebutkan dalam banyak hadits Rasulullah saw. Di antaranya dalam hadits penuturan Abu Hurairah  ra berikut:


“Bani Israil dulu diurus oleh para nabi. Ketika seorang nabi wafat, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sungguh, tidak seorang nabi pun setelah aku. Yang ada adalah para khalifah hingga jumlah mereka banyak.” (HR. Muslim).


Sistem Khilafah adalah sistem pemerintahan yang bersumber dari syariah Islam. Khilafah adalah ajaran Islam. Karena bersumber dari syariah Islam maka terpancar banyak kemaslahatan ketika Khilafah kembali tegak. 


Kata Khilafah sudah makin akrab di telinga kita. Salah satu kelompok dakwah yang kita sering dengar menyuarakan kata “Khilafah” yaitu Hizbut  Indonesia (HTI). HTI menyatakan diri konsisten memperjuangkan tegaknya  sistem Islam ini. 


HTI kini menjadi ramai diperbincangkan. Media sosial  pun viral. Tagar #HTILayakMenang, #HTILanjutkanPerjuangan, #IslamSelamatkanNegeri, #7MeiHTIMenang, dan #UmatBersamaHTI berjejer menjadi trending topic di Twitter pada tanggal 6-7 Mei 2018 lalu. Khususnya, selepas persidangan gugatan HTI atas keputusan pencabutan Surat Keputusan Badan Hukum Perkumpulan (SK BHP) di Pegadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta beberapa waktu lalu. 


Kalau diteliti, apanya yang salah? HTI hanya mendasarkan prinsip dakwahnya pada amal nyata dakwah Rasulullah saw di Makkah hingga beliau berhasil mendirikan Negara Islam di Madinah. Berdakwah dengan pemikiran, politis dan tanpa kekerasan. Kelompok dakwah ini tak pernah sekalipun terbukti berbuat onar atau bertindak yang melanggar hukum. 


Hanya sistem Islam yang dapat menyelamatkan negeri dari segala bentuk penjajahan. Banyak juga yang mengakui bahwa bangsa ini dan umat Islam sangat membutuhkan adanya kiprah perjuangan penegakan khilafah yang dipimpin HTI, untuk menyelamatkan dari cengkraman neo-kapitalis dan neo-liberalis.


Di antara aksi penting yang pernah dilakukan HTI, yaitu menolak UU Migas, UU SDA, UU Penanaman modal, UU Sisdiknas dan sebagainya. Melakukan penolakan atas kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) di tahun 2010, menolak perpanjangan kontrak Freeport (Oktober 2015) agar pemerintah mengelola tambang tanpa campur tangan asing, menolak kezaliman kesehatan dari BPJS, hingga menjadi yang pertama kali lantang menyuarakan ‘Haram Memilih Pemimpin Kafir’ di Jakarta 4 September 2016 lalu.


Di tengah krisis moral dan sosial yang menimpa generasi negeri, HTI berkontribusi positif dalam pembinaannya mencetak SDM yang bertakwa dan berkarakter mulia bagi bangsa juga memberikan kepedulian. Memberikan bantuan saat terjadi bencana alam, seperti tsunami Aceh (2004), gempa Jogyakarta (2006), dan lainnya. 


Banyak pihak menilai, boleh jadi hanya orang-orang zalim dan buta mata hatinya yang tidak mampu melihat kebenaran. Tertutup oleh harta dan kemilau dunia. Mereka ingin mempertahankan kekuasaan. Hingga mengeluarkan putusan yang tidak berkeadilan.


Faktanya dukungan berbagai kalangan umat terhadap HTI dan perjuangannya semakin meningkat. Banyak kalangan yang membela HTI. Seperti gerakan 1000 Advokat Bela HTI terus menemani proses pengadilan. Kalangan ulama, santri dan mahasiswa pun memberikan mendukung. Karena memang murni memperjuangkan dakwah dan ajaran Islam.


Ibarat bola salju yang berputar, gaung kebangkitan Islam makin terdengar. Realita menunjukkan khilafah semakin difahami oleh umat sebagai ajaran islam dan solusi berbagai masalah. Meski dilontarkan fitnah, dan tuduhan tak berdasar terhadap dakwahnya, HTI makin dikenali dan berada di hati umat. Pasalnya, visi dan misi HTI bukan sekadar mengembalikan Khilafah 'ala Minhaj Nubuwwah, tetapi untuk kebangkitan dan kemerdekaan umat dari cengkeraman penjajahan Timur dan Barat.


Kita mesti ingat, dahulu ketika Rasulullah saw berdakwah untuk membebaskan manusia dari pengabdian terhadap sesama manusia menjadi pengabdian semata pada Allah SWT, beliau saw pun dituduh dengan bermacam stigma negatif. Dituduh tukang sihir, orang gila, pemecah-belah bangsa Quraisy, dituding melawan keyakinan nenek moyang terdahulu. Rasulullah saw pun pernah diembargo, dihalang-halangi, hingga diancam mau dibunuh. Tapi, beliau saw tetap tegar dalam perjuangan dakwah. 


Meneladani pada sikap Rasululah saw tersebut, maka walau apapun terjadi dakwah harus tetap dijalankan. Karena dakwah adalah perintah Allah SWT bukan dari manusia. Dakwah juga merupakan wujud cinta kita pada negeri. Lanjutkanlah perjuangan! Kelak setiap orang akan mendapatkan hasil atas segala perbuatan.[]



*) Pegiat di Komunitas “Muslimah Banua Menulis” 


Biodata Penulis:

Nor Aniyah, S.Pd,  berdomisili di Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan. Alumnus dari STKIP PGRI Banjarmasin. Saat ini menjadi pembina di Komunitas Remaja Cinta Islam (KRCI), Kalsel dan tergabung di Komunitas “Muslimah Banua Menulis.”

Penulis bisa dikontak lewat email: noraniyah014@gmail.com








Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!