Monday, May 7, 2018

Ironi Dilan Dan Pernikahan Dini


Oleh: Eka Purwaningsih, S.Pd (Pemerhati Generasi)


Siapa yang tak tahu film Dilan 1990? Film yang sedang di minati oleh semua kalangan termasuk remaja. Bahkan orang-orang penting di Negeri inipun turut menonton dan memberikan apresiasi. Film ini bercerita tentang romansa percintaan remaja dengan semua pernak perniknya. Memberi sedikit gambaran kepada kita bagaimana potret pergaulan remaja. Mulai dari  remaja jaman now bangga dengan trend pacaran sampai tawuran hanya karena hal sepele. Mereka bangga mengunggah foto mesra bersama sang pacar, bergandengan tangan, berpelukan, bahkan berciuman sudah dianggap sebagai hal yang lumrah. Padahal pacaran merupakan pintu gerbang dari sebagian besar prilaku seks bebas dan maraknya kasus aborsi dikalangan remaja.

Respon yang berbeda didapati ketika ada dua sejoli yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) di Bantaeng, Sulawesi Selatan yang berhasrat mengikat janji suci di hadapan penghulu. Hal ini menjadi sorotan banyak kalangan dan menimbulkan polemik di tengah-tengah masyarakat. Terutama terkait batas usia pernikahan yang akan dinaikan, yang awalnya 16 tahun menjadi 20 tahun untuk perempuan dan 22 tahun untuk laki-laki lewat revisi UU No. 2 tahun 1974. Ini dilakukan utuk mencegah terjadinya pernikahan dini. Ditambah Kementrian pemberdayaan perempuan dan anak (PBPA) sudah meluncurkan secara nasional kampanye stop pernikahan anak sejak November 2017 (sindonews.com).

Bukankah menikah lebih baik dan mulia daripada 'menimbun' dosa dengan pacaran? Berbagai alasanpun dikemukakan. Mulai dari masalah kesehatan reproduksi, dampak psikologis, motif ekonomi yang menganggap bahwa pernikahan dini akan mengekang muslimah dengan tugas rumah tangga sehingga tidak dapat produktif bekerja. Kekhawatiran itu wajar, mengingat saat ini kita dikungkung dalam sistem Kapitalise-sekuer (memisahkan agama dari kehidupan). yang membuat kehidupan terasa sempit dan beban hidup semakin berat. Sistem ini, sejalan dengan pendidikan sekuer yang telah gagal mendewasakan pemikiran generasi. Mengakibatkan rendahnya minat membaca umat dan kemauan belajar umat terhadap ajaran Islam. Menghasilkan sistem sosial masif yang menstimulasi rangsangan seksual. Sehingga menghasilkan generasi yang cepat matang secara seksual, namun lambat dalam memiliki kematangan berfikir.

Negeri-negeri muslim terlalu risau karena mempercayai standar nilai yang di promosikan Barat melalui kaki tangannya. Padahal di Barat sendiri, terjadi kerusakan generasi akibat penerapan sistem yang rusak. Padahal, kedewasaan seseorang tidak bisa di ukur dari usianya. Banyak pasangan yang menikah di usia yang matang tetapi akhirnya berujung kepada perceraian, banyak pula pasangan yang menikah di usia muda tetapi pernikahannya sampai kakek-nenek bahkan hingga maut memisahkan. Sudah seharusnya  kaum muslimin kembali kepada standar syari'ah Islam. Syari'ah Islam sudah sangat jelas dalam menetapkan batas kedewasaan seseorang. Yakni ketika seseorang sudah akil baligh yaitu fase keatangan berfikir berfungsi optimal dan dibarengi dengan kesiapan memikul beban hukum serta bertanggung jawab atas setiap perbuatan yag dilakukan. Syariat Islam membolehkan pernikahan di usia muda.

      Seharusnya kita lebih fokus memikirkan bagaimana cara untuk mengganti sistem Kapitalisme-sekuler yang merusak generasi ini dan kembali kepada Islam. Bukan malah terjebak polemik dalam menentukan batas usia pernikahan.

       Semoga Negeri-negeri muslim mampu menjaga remaja dan generasi mendatang agar tidak lagi seperti Dilan yang dilanda trend pacaran. Tetapi menjadi generasi yang menyibukkan diri dengan belajar, gemar mencari literasi terhadap ajaran Islam. Agar tidak hanya matang dari sisi seksual tetapi jikapun jodoh datang diusia muda, mereka sudah matang dalam berfikir dan bertanggung jawab atas semua kewajiban dan tanggung jawabnya.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!