Friday, May 11, 2018

Inilah Rahasia Dibalik Jumlah Anggota dan Pendanaan HTI


Oleh: Epi Aryani (pegiat revowriter karawang) 

Banyak yang penasaran dengan jumlah anggota HTI dan pendanaannya. Sama halnya dengan pertanyaan Najwa Shihab dalam Mata Najwa edisi rabu (9/5/2018). 

Untuk jawaban pertama, mungkin bisa dibayangkan lah, tentu jumlahnya cukup banyak. Sampai bisa membuat lima hashtag bertengger di Tranding Topic Indonesia (TTI) selama dua hari berturut-turut. Karena semuanya menggunakan akun organik alias asli milik seseorang, bukan robot. Saya salah satunya, he.. Kesimpulannya bahwa mereka ada, nyata dan berlipat ganda. 


Untuk pendanaan, mungkin tidak banyak orang tahu, kecuali anggotanya sendiri. Bahwa HTI mendanai tubuhnya sendiri untuk bergerak secara massif, alias tidak ada yang mendanai. Misal, untuk pengadaan sebuah aksi simpatik yang memerlukan transport, konsumsi dan pengadaan logistik. Kira-kira sebanyak apa ya dana yang dibutuhkan? Apalagi HTI rajin mengadakan agenda besar dengan memobilisasi massa sampai memenuhi Gelora Bung Karno. Hebat bukan, kaya benar HTI ini.

Dan yang lebih tidak habis pikir, para anggotanya melakukan semua aktifitasnya tanpa bayaran sepeserpun. Jangankan dibayar, malah anggotanya yang membayar. Lha, ikutan HTI malah menguras tenaga, fikiran dan biaya pula. Bisa-bisanya.

Jika memang itu yang terjadi, kenapa HTI malah semakin besar? apa yang menggerakan anggotanya untuk all out memberikan sumbangsih atas pergerakan organisasi ini? 

 *Kekuatan Aqidah* 

Islam memerintahkan kaum muslim untuk menuntut ilmu. Dan inilah yang dilakukan oleh syabab/pemuda HTI. Menyibukan dirinya dengan pembinaan keislaman dan membekali dirinya dengan aqidah yang kuat. Karena aqidah yang kuat adalah modal utama bagi seseorang untuk taat kepada syariat/aturan islam.

Jika seseorang memiliki aqidah yang kuat, hukum syara seberat apapun akan membuat seseorang dengan mudah melakukannya. Secara sukarela. Tanpa paksaan. Karena dorongan tersebut muncul dari dalam dirinya sendiri.

Misal, ketika HTI mentabani/mengadopsi aktifitas leasing (baik kendaraan maupun rumah) adalah haram. Maka para anggotanya bersegera meninggalkan transaksi tersebut apapun resikonya. Walaupun harus kehilangan atau tertundanya memiliki harta benda yang diinginkan. Dan mengupayakannya dengan cara yang halal. Membeli cash misalnya.

Begitupun dengan aktifitas dakwah. Serius dilakukan walaupun harus mengorbankan waktu, tenaga, fikiran bahkan biaya.

Ini adalah efek dari mentajasad/menghujamnya aqidah di dalam dada seseorang hasil pembinaan.

 *Visi Keakhiratan*

Seorang muslim, meyakini betul bahwa hidupnya di dunia hanya sebatas persinggahan alias sementara saja. Tempat berlelah-lelah dalam berjuang meraih ridho Allah dan akan kembali ke kampung akhirat yang abadi. Maka, dia menginfakan dirinya demi akhiratnya, sesuai dengan firman Allah SWT

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; kemudian mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) dari pada Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (TQS. At-taubah: 111)

Dengan dorongan seperti ini, pengorbanan yang dilakukan bisa tanpa pamrih. Semua aktifitas hanya diniatkan untuk meraih ridho Allah semata.

Tidak ada motivasi terbesar selain satu kata: syurga.

Cukuplah kedua formula tersebut yang membesarkan HTI dan tersebarnya ide khilafah sampai saat ini. Dan tidak akan berhenti sampai tujuannya terpenuhi, yaitu melanjutkan kehidupan islam dalam bingkai khilafah ala minhaj annubuwah yang kedua, yang telah dijanjikan.

Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!