Tuesday, May 22, 2018

Indonesia Darurat Terorisme


Oleh: Fahmiyah Tsaqofah Islamiy (Politisi remaja)


"Indonesia darurat terorisme". Bagaimana tidak? Kabar tentang rentetan ledakan bom di beberapa titik di Indonesia menjadi dalih banyak pihak agar pemerintah segera mensahkan revisi UU Anti Terorisme. Bahkan jika revisi UU ini tidak segera rampung, maka tuntutan pembuatan Perppu lah yang menjadi senjata cadangan untuk mengatasi kasus terorisme yang tengah mengintai negri ini. (CNNIndonesia, 13/05/2018)


Disamping isu terorisme, di sisi lain kabar daerah seperti para muslimah yang memakai pakaian syar'i disertai cadar tengah di diskriminasi dengan tidak diperkenankan menaiki angkutan umum, diintrogasi, bahkan digeledah isi tas dan barang bawaannya membuat masyarakat mengindikasikan keterkaitan mereka dengan isu bom terorisme, walaupun beberapa waktu yang lalu pasca terjadinya bom yang meledak di 3 gereja di Surabaya pemerintah sendiri mengemukakan di hadapan publik bahwa isu terorisme ini tak ada kaitannya sama sekali dengan motif agama.


Masyarakat seolah menjadikan berita diduganya 2 wanita bercadar terduga teroris yang ditangkap saat akan masuk Mako Brimob (kumparan.com 13/05/2018) dan berita ISIS yang mengklaim bertanggungjawab atas bom yang meledak di Surabaya (CNNIndonesia, 13/05/2018) sebagai bukti kecurigaan mereka terhadap orang-orang yang berpakaian syar'i, bercadar, berjanggut, bercelana cingkrang, dan kelompok-kelompok yang getol menyuarakan Islam. Pasalnya, jika melirik pada kasus penikaman yang terjadi di paris pada hari sabtu, 12/05 Serangan yang diklaim oleh kelompok ISIS itu saat ini sedang diselidiki oleh otoritas kontraterorisme Prancis. Polisi berhasil mengidentifikasi bahwa pelakunya adalah seorang pria yang memiliki kewarganegaraan Prancis tetapi lahir di Chechnya, tempat ekstremisme Islam telah lama berkembang. 


Masih erat kaitannya dengan hal ini, pasca bom di 3 gereja yang terjadi di Surabaya meledak, media asal Inggris, The Guardian, memuat laporan bertajuk "Indonesia Church Attacks: Two Dead After Bombs Target Sunday Masses" mengaitkan tragedi bom Surabaya dengan beberapa serangan kelompok ekstremis terhadap umat minoritas di Indonesia. Bahkan  dalam artikel situs Express.co.uk yang berjudul "Churches Targeted in Bomb Attack Across Indonesia City of Surabaya", The Weekend Australia mengaitkan ledakan bom Surabaya dengan fakta bahwa Indonesia telah bergumul dengan militansi Islam dalam 15 tahun terakhir.


Kejadian semacam ini sangat sering menjadi pusat perhatian publik. Isu terorisme yang kerap menjadi sorotan media tak jarang memberi stigma negatif terhadap Islam dan pemeluknya.


Fakta semacam inilah yang akhirnya menjadikan masyarakat was-was dengan pihak-pihak yang getol menyuarakan kebangkitan Islam. Akibatnya, segala hal yang berbau keinginan penerapan Syari'at Islam  dalam seluruh aspek kehidupan berusaha ditumpas dengan labelling cap ekstrimis, teroris, penyebar ideologi radikal, dan semacamnya.


Padahal, ajaran Islam sendiri melarang pemeluknya membunuh orang kafir yang tidak memerangi kaum Muslimin (Qs. Al-Mumtahanan: 8), selain itu dalam Alquran secara tegas melarang perusakan tempat-tempat ibadah pemeluk agama lain (Qs. Al-Hajj: 40). Maka tidak mungkin apabila kasus-kasus semacam itu di klaim bahwa seorang muslim pelakunya.


Akibat adanya opini yang menyesatkan bahwa teroris identik dengan aktivis dakwah atau kelompok dakwah tertentu yang kesannya taat syari'at, bahkan menghubungkan dengan mereka yang memperjuangankan syari'at dan khilafah, tak sedikit masyarakat yang mulai mencurigai kajian-kajian keislaman bahkan menjustifikasi mereka sebagai kelompok radikal yang anti pancasila, perusak kedamaian dunia, dll.


Tak sedikit pula kita temui para orang tua yang melarang putra putri mereka untuk mengikuti kajian-kajian yang mengajak mereka untuk mentaati syari'at dengan alasan berhati-hati agar tidak direkrut menjadi bagian dari teroris, dan sebagainya.


Padahal, justru apabila Islam tidak dikaji dengan benar yang terjadi adalah kerusakan dimana-mana. Karena Islam sejatinya memiliki tatakrama dalam melakukan dakwah dan jihad. Tidak membunuh wanita, anak-anak, orang yang lemah. Tidak merusak tempat-tempat umum seperti rumah sakit, gudang penyimpanan makanan, dll. Tidak boleh merusak pepohonan dan rumah ibadah. Semua jelas diajarkan oleh Islam.


Maka sudah sepatutnya masyarakat mewaspadai tuduhan-tuduhan keji yang disematkan kepada Islam. Karena Islam sejatinya bukanlah agama yang perlu ditakuti, karena aktivis Islam yang memperjuangkan syari'atNya bukanlah orang-orang yang radikal bahkan ekstrimis seperti tuduhan-tuduhan tak berdasar yang menyebar di mana-mana. Namun, justru mereka memperjuangkan yang haq, yakni Islam. Islam yang apabila diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan akan nampak kemaslahatan bagi seluruh alam.

Wallahu a'lam bis showwab



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!