Friday, May 4, 2018

HOTS UN Bukti Tak Jelasnya Arah Pendidikan


Oleh : Meika Nurul Wahidah/ Mahasiswi ULM Pendidikan Sejarah 2016)


Ujian Nasional merupakan salah satu topik dalam dunia pendidikan yang dinanti siswa  di akhir jenjang pendidikannya.  Ujian Nasional tiba, nyatanya mereka semakin dibuat risau, dengan sulitnya soal UNBK. Seperti pemberitaan yang dilansir dari Detiknews, tentang berbagai keluhan siswa akibat sulitnya soal UNBK. Di sisi lain, Republika.co.id mengatakan bahwa soal HOTS UN SMP disesuaikan dengan kemampuan siswa. Dalam pemberitaan tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy memberikan nasehat agar siswa SMP tidak risau dengan adanya soal HOTS yang membutuhkan daya nalar tinggi, beliau mengatakan bahwa soal HOTS tetap ada dan tingkat kesulitannya disesuaikan dengan kemampuan siswa SMP.

Pernyataan yang berbeda dilansir dari Detiknews, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) justru menemukan malpraktik dalam dunia pendidikan dikarenakan soal yang diujikan tidak pernah diajarkan. Pada sumber yang sama, KPAI melakukan gugatan terhadap soal-soal HOTS karena dinilai menyulitkan siswa. Dikatakan soal HOTS merupakan tuntutan kurikulum agar siswa memiliki keterampilan berfikir sesuai perkembangan zamannya. Adanya soal HOTS dalam UNBK dinilai kurang adil, pasalnya penulis mengatakan bahwa mayoritas guru belum mampu merencanakan dan mengembangkan pembelajaran HOTS, tak lain dikarenakan mereka belum memahami konsep kurikulum 2013. Dengan demikian ketika pembelajaran siswa tidak HOTS, maka bagaimana mungkin siswa mampu menjawab soal HOTS.  Ada kesenjangan yang tajam antara kurikulum dengan kemampuan guru dalam mengimplementasikannya, menjadi salah satu sebab kerisauan siswa menghadapi dunia pendidikan saat ini.

Fenomena HOTS dalam dunia pendidikan semakin menunjukkan ketidakjelasan arah dan tujuan penerapan sistem pendidikan Indonesia. Pasalnya dalam kurikulum 2013 yang baru diterapkan beberapa tahun terakhir, pendidikan memiliki tujuan untuk membentuk karakter siswa, tidak hanya menuntut siswa unggul dari segi intelektualnya, namun dari segi sikap dan akhlaq pun harus bersinergi. Hal ini menandakan bahwa adanya kebijakan pendidikan dengan menerapkan HOTS pada soal UNBK, dinilai tidak tepat. Perlu kita pahami bahwa HOTS merupakan bentuk soal dengan taraf berfikir tinggi. Namun apa jadinya, jika soal-soal yang menuntut siswa untuk berfikir tinggi, tidak diseimbangi dengan kemampuan atau adanya latihan untuk berpikir tinggi.  Ditambah lagi  belum meratanya pengenalan soal-soal HOTS di lingkungan sekolah akan semakin membuat siswa kelimpungan.

Tak hanya di Indonesia, nyatanya kebijakan yang sama pernah diterapkan di Barat, namun output yang dihasilkan tak mampu membentuk keterampilan berfikir siswa.  Istilah HOTS menjadi sebuah nama yang dinilai penting untuk menunjang pendidikan abad 21. Sayangnya HOTS tidak didukung adanya standar pengukuran dalam setiap bidang ilmu.  Walhasil penerapan HOTS dalam dunia pendidikan mengalami penolakan dan ditinggalkan. Berbicara tentang pendidikan barat, identik dengan pemikiran sekulernya, yakni memisahkan agama dari kehidupan. Pastinya kebijakan yang dibuat bukan berdasarkan Islam, hal ini mengindikasikan bahwa sebagus apapun manusia membuat kebijakan untuk hidupnya, ia tak akan mampu menandingi aturan penciptanya. Karena Sang Penciptalah yang paling tahu aturan apa yang tepat untuk hambanya, termasuk mengatur tentang sistem pendidikan agar selaras dengan kehidupan manusia.

Coba kita tengok bagaimana pendidikan dalam Islam, kebijakan-kebijakan yang diatur dalam dunia pendidikan Islam, punya landasan kuat yakni Al-Qur’an dan Hadist, keduanya merupakan sebuah landasan dasar, legalitasnya langsung dari Sang Pencipta. Maka pastilah terjamin kualitasnya. Dan hanya Islam yang punya aturan dalam mengatur sistem pendidikan. Sistem pendidikan Islam merupakan satu-satunya sistem yang diharapkan mampu mewujudkan generasi pembangunan peradaban cemerlang. Contohnya saja kemunculan para ilmuan besar yang tak hanya ahli dalam bidangnya, tetapi mereka juga memiliki sikap dan kepribadian luhur sesuai dengan Islam. Diantaranya Ibnu Sina, Imam Syafi’ie, dan masih banyak lagi tokoh lainnya yang hingga saat ini menjadi penyumbang peradaban dunia, baik pada masanya hingga masa sekarang. Terlebih untuk mencapai target pendidikan pada kurikulum 2013 yakni pendidikan karakter, maka pendidikan Islam adalah pilihan yang tepat untuk mewujudkannya. Karena sistem pendidikan Islam, mengatur tentang bagaimana membentuk karakter seseorang, terlebih dari segi sikap dan perilaku. 



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!