Wednesday, May 9, 2018

Hasil Pendidikan Karakter


Oleh: Layin Syamil,S Pd


Pendidikan karakter telah lama dpeebincangkan pakar pedidikan di berbagai negara. Pendidikan karakter di Indonesia mulai dimasukkan kurikulum sekolah sejak kurikulum KTSP dan dilanjutkan  K13.  Segala upaya dikerahkan untuk program pendidikan karakter. Training guru, program pndidikan kaarakter,bimbingan mental dilaksanakan. Ada PPK ( Penguatan Pendidikan Karakter ) di K13.. Kalau kita amati ,saat ini  masih banyak siswa yang bohong, nyontek, berlaku tidak sopan terhadap guru. Bahkan ada siswa menyerang guru hingga meninggal. Jumlah siswa yang melakukan pergaulan bebas masih cukup besar. Data remaja yang terlibat sex bebas bisa dilihat di berbagai hasil surve. Salah satu hasil surve yang dilakukan Komite Perlindungan Anak Indonesia tahun 2013  menunjukkan 62,7% remaja dI Indonesia telah melakukan hubungan seks di luar nikah.  Kita juga bisa melihat dari lingkungan kita bahwa fakta remaja penganut sex bebas nyata adanya. Demikian juga ada  remaja yang suka miras dan narkoba.

Tampaknya mencetak generasi unggul, berakhlak mulia masih sulit dicapai. Mengapa demikian?  Ada banyak faktor ,antara lain kurikulum dan pendidik. Tentu salah satu yang harus berbenah para pendidiknya.

Berikut ini sepenggal cerita hasil pendidikan karakter ala Rosululloh. Beliau teladan bagi para pendidik.

Diceritakan  Khalifah Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu memiliki kegemaran melakukan ronda malam sendirian untuk melihat langsung kondisi rakyatnya. Sepanjang malam ia memeriksa keadaan rakyatnya secara langsung dari dekat.

Ketika melewati sebuah gubuk, Khalifah merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik. Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Khalifah Umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.

“Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini,” kata anak perempuan itu. “Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.”

“Benar anakku,” kata ibunya.

“Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak,” harap anaknya.

“Hmm, sejak ayahmu meninggal penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan,” kata ibunya. Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu. “Nak,” bisik ibunya seraya mendekat. “Kita campur saja susu itu dengan air. Supaya penghasilan kita cepat bertambah.”

Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Ah, wajah iu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya. “Tidak, Bu!” katanya cepat. “Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air.” Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada pembeli.

“Ah! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu,” gerutu ibunya kesal.

“Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada pembeli?”

“Tapi tidak akan ada yang tahu kita mencampur dengan air! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita,” kata ibunya tetap memaksa. “Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!”

“Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apapun kita menyembunyikannya,” tegas anak itu. Ibunya hanya menarik nafas panjang. Sungguh kecewa hatinya mendengar anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun, jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya.

“Aku tidak mau melakukan ketidakjujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku yakin, Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,” kata anak itu. Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres. Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.

“Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!” gumam Khalifah Umar. Dia beranjak meninggalkan gubuk itu kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.

Keesokan paginya, Khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Diceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.

“Anakku menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya,” kata Khalifah Umar. “Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang MahaMelihat.” Ashim bin Umar menyetujuinya.


Luar biasa sahabat hasil didikan Rosulullah. Pendidiknya tentu lebih  hebat dari yang didik. Semoga kisah ini menginspirasi  para pendidik .Sudah seharusnya para pendidik  introspeksi diri dan mencontoh Rosulullah dalam mendidik generasi. Wallahu A'lam.




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!