Sunday, May 13, 2018

Guru Mulia, Siswa Beradab


Oleh : Mulyaningsih, S.Pt


Dunia pendidikan kembali digegerkan oleh oknum guru yang tidak bertanggung jawab. Selayaknya, guru seharusnya mempunyai akhlak yang terpuji. Namun, Kholik (guru SDN 6 Cempaka) bertindak melebhi koridor. Entah setan mana yang sedang mengganggu dirinya. Pasalnya lebih dari 20 siswa yang menjadi korban cabul yang dilakukan oleh guru ini. 

Kholik melakukan perbuatannya di dalam ruang kelas dan di ruang hasta karya serta di rumah dinasnya sendiri. rumah dinasnya terletak di UPT Cempaka Baru. Motif yang disampaikan kepada siswanya ialah les privat dan tak segan untuk mengajak si korban untuk menginap di rumahnya. Dari sinilah ia leluasa untuk melancarkan aksinya. Ia pun sempat mengancam kepada beberapa korbannya bahwa mereka tidak akan diberikan nilai bagus. Dengan ancaman seperti itu, maka korbannya mau tidak mau akan menuruti kemauan Sang Guru.

Ulah bejadnya diketahui setelah adanya laporan dari salah seorang korban kepada polisi. Korban tersebut didampingi oleh orang tuanya melaporkan tingkah bejad Sang Guru. Walaupun harus melalui drama pengejaran terlebih dahulu, karena si pelaku berhasil melarikan diri sampai ke Pontianak. “Tiga minggu melakukan pengejaran, akhirnya pelaku berhasil ditangkap di Pontianak pada 3 Mei 2018,” ujar Brigadir Jenderal Rachmat Mulyana (Kepala Polda Kalsel).

Dari hasil pemeriksaaan sementara didapati bahwa pelaku mempunyai kelainan seks. Pelaku suka terhadap sesama jenis. Ia merasa puas setelah melakukan hal tersebut kepada para korbannya. Menurut Ketua RT 30, RW 10 Kelurahan Cempaka, Kasnari mengatakan bahwa selama ini Kholik dikenal aneh. Ia lebih suka bergaul dengan anak-anak ketimbang dengan orang sebayanya. Sang Guru tersebut juga sering mengajak para korbannya untuk berbelanja dan jalan-jalan. Bahkan dari pengaduan sang Istri, Kholik dinilai lebih suka kepada anak-anak daripada kepadanya. Selama mereka menikah tiga bulan lamanya hanya pernah digauli tiga kali saja. Kholik sekarang sudah bercerai dengan istrinya (Rabu, 9 Mei 2018, Radar Banjarmasin).

Masih saja ada oknum guru yang tega berbuat hal tersebut pada anak muritnya. Sosok guru yang seharusnya menjadi teladan serta panutan berubah menjadi sosok yang menyeramkan dan mempunyai akhlak tidak terpuji. Lantas kemudian adalah kenapa Sang Guru tersebut tega melakukan hal yang demikian? Tak adakah rasa takut dan khawatir terhadap apa yang selama ini dia lakukan? Itulah mungkin pertanyaan yang akhirnya muncul dibenak kita.

Pandangan Islam 

Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Agama yang tak hanya mengurusi masalah ibadah hamba kepada Robbnya saja. Namun mengatur seluruh permasalahan manusia yang lain, baik menyangkut dengan dirinya sendiri ataupun dengan orang lain. Islam mengatur akan itu semua. Tak ubahnya dalam bidang pendidikan, islam sangat peduli terhadap hal tersebut. Karena dalam Islam pendidikan termasuk dalam kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi. Dan menjadi kewajiban bagi setiap muslim.

Pendidikan menjadi sorotan utama bagi negara. Karena memang negera berkewajiban untuk menyelenggarakan proses pendidikan tersebut. Termasuk pula didalamnya adalah menyediakan sarana dan prasarana yang mumpuni. Agar kelak pendidikan tersebut berdampak nyata pada guru, murid dan pihak-pihak yang lainnya. Sangat pentingnya keberadaan guru, di dalam AL Qur’an dijelaskan beberapa keutamaan guru atau pendidik.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (TQS Al Mujadala11)

“Tinta para ulama lebih tinggi nilainya daripada darah para syuhada.” (HR Abu Daud dan Turmizi)

Firman Allah SWT dan Sabda Rasulullah tersebut menggambarkan betapa pentingnya kedudukan seorang yang mempunyai ilmu (pendidik). Dengan bekal ilmu tersebut maka akan memudahkan manusia untuk selalu berpikir dan menganalisa hakikat seluruh fenomena yang ada di dunia ini. Dengan begitu, akan menambah rasa keimanan terhadap Allah SWT. Bahkan pendidik memikul tanggung jawab untuk membimbing, mengarahkan serta membentuk karakter dari peserta didik setelah orang tua. Dengan beban yang begitu besarnya maka dalam Islam derajat pendidik itu lebih tinggi. Bahkan dalam Surat At Taubah “ Tidak sepatutnya bagi mukmin itu pergi semua (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. ”

Seorang guru seharusnya mempunyai modal yang cukup besar agar murid yang di didiknya tidak salah langkap. Aqidah yang kuat inilah yang nantinya menjadi pondasi pada saat ia mengajar. Muatan aqidah akan selalu disampaikan manakala sang guru menjelaskan pelajaran, baik itu ilmu pengetahuan alam ataupun sosial sekalipun. Semua mata pelajaran harus berbasis pada aqidah Islam tadi. Dengan begitu maka belajar mengajar akan kondusif serta meminimalisir kejadian-kejadian yang tak sepantasnya dilakukan oleh guru seperti gambaran kasus diatas.

Ditambah juga dengan adanya konsep belajar yang tak hanya transfer ilmu. Melainkan benar-benar menyampaikan ilmu sampai murid tersebut memahami ilmu tersebut. Kadang yang terjadi sekarang adalah hanya transfer ilmu belaka. Tanpa memperdulikan bahwa murid (peserta didik) memahami ilmu tersebut apa tidak. Karena dalam Islam ilmu lil amal. Ilmu itu harus sampai pada pengamalan (diamalkan) dalam kehidupan ini. 

Kemudian harus adanya ketegasan dari tangan pemerintah terkait dengan kasus diatas. Termasuk didalamnya adalah pemberian sangsi yang tegas. Agar nantinya tidak ada lagi oknum baik guru ataupun yang lain yang berani untuk melakukan atau melaksanakan hal yang serupa. Inilah fungsinya negara nanti. Negara mampu membentengi antara pendidik serta peserta didik sama-sama menggunakan asas aqidah Islam sebagai pondasi. Insya Allah ketika pondasi tersebut dibangun maka akan pencetak peserta didik yang luar biasa pada agama plus keahlian yang lain.

Tentunya hal tersebut hanya bisa diterapkan jika sistem yang ada sesuai pada hakikat manusia, sesuai dengan fitrahnya. Hanya dengan sistem Islam yang mampu menjadikan pendidikan sebagai tonggak awal dari peradaban serta mampu mencetak generasi yang tangguh. Akan mencetak pula guru serta generasi yang berakhlak mulia (mempunyai adab) yang sesuai dengan Islam. Dan tentunya akan menjadi generasi yang mempunyai karakter khas yang diimbangi pula dengan ilmu pengetahuan yang mumpuni. Akankah kita rindui masa-masa itu? Marilah sedari sekarang berjuang bersama agar sistem tersebut mampu segera diterapkan dalam kehidupan ini. Sehingga mampu merubah keadaan sekarang serta mampu melahirkan peradaban gemilang seperti yang pernah tertoreh pada zaman dahulu ketika Islam diterapkan. Wallahu a’lam. [ ]

Mulyaningsih, S.Pt

Ibu Rumah Tangga

Pemerhati keluarga, anak dan remaja

Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!