Tuesday, May 8, 2018

GERNAS BAKU; Efektifkah? 


Oleh: Linda Wijayanti



"Ayah..bunda..

Bacakan aku buku

Baca buku..

membuat aku tahu


Ayah..Bunda..

Bacakan aku buku

Baca buku..

Membuat aku pintar.


Ayah bunda bacakan aku buku

Baca buku aku jadi berilmu.


Ayo ayah,bunda ikuti Gernas Baku,

Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku.

Ayo ayah, bunda ikuti Gernas Baku

Tanggal lima Mei itu dimulai

Tanggal lima Mei itu dimulai." 


Lirik lagu GERNAS BAKU tersebut menghiasi hari-hari Guru PAUD dan TK di seluruh negeri khatulistiwa akhir-akhir ini. Menghapal lirik. Menyanyi. Menghapal. Latihan. Untuk disuguhkan pada launching resmi serentak Gernas Baku (Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku) 5 Mei ini di seluruh Indonesia.

Program Gernas Baku ini diluncurkan oleh Kemendikbud dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh tanggal 2 Mei. Tujuan utamanya yakni guna mendapatkan dukungan dari masyarakat meliputi orang tua, warga sekolah, secara terorganisir untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca pada anak. 

Selain itu, tujuan lainnya adalah untuk menumbuhkan minat baca pada anak. Meningkatkan komunikasi. Menyampaikan ide anak. Meningkatkan jiwa imajinasi. Daya pikir anak. Mempererat hubungan sosial emosi orang tua dan anak, serta meningkatkan rasa ingin tahu. (MalangTimes.com) 

Gerakan di bawah koordinasi Direktorat Pembinaan Keluarga, Ditjen PAUD dan Dikmas Kemdikbud ini, diinisiasi guna mendukung inisiatif dan peran keluarga dalam meningkatlan minat baca anak melalui pembiasaan di rumah, di satuan pendidikan PAUD, dan di masyarakat. (Bulelengpemkab.go.id) 


/Menimbang Keefektifan Gernas Baku di Tengah Arus Sekulerisme / 

Program Gernas Baku ini adalah program yang sangat luar biasa di tengah-tengah rendahnya minat baca  di Indonesia. Seperti yang dilansir dari Republika.co.id, yang bersumber dari Antara, Kepala Perpustakaan Nasional Muh Syarif Bando mengatakan bahwa minat baca di Indonesia masih rendah. Menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara. (Selasa, 20/2). 

Sedangkan di kawasan ASEAN, Indonesia menempati urutan ketiga terendah di atas Kamboja dan Laos. (Republika.co.id). Membuat kepala begidik. Mengelus dada. Betapa rendahnya minat baca masyarakat kita. Melirik buku saja tak mau. Apalagi membaca. 

Penyebabnya, masyarakat lebih asyik menonton televisi, mendengarkan radio, dan bergelut pada dunia maya dibandingkan membaca buku. Istilahnya, masyarakat Indonesia lebih suka berkirim SMS atau BBM-an, Facebook-an atau Twitter-an dibandingkan membaca buku. (Rebuplika.co.id) 

Fenomena kecenderungan masyarakat kita yang lebih suka pada hal-hal yang berbau IT. Hiburan. Tontonan. Sungguh hal yang tidak mudah merubahnya dengan hanya sosialisasi saja. Apalagi di tengah arus sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Pendidikan hanya sekedar formalitas untuk mendapatkan legalitas kerja. Pendidikan hanya sekedar ijazah. Pendidikan hanya sekedar untuk mencari materi. Uang berlimpah, rumah mewah, titel yang tinggi dan jabatan yang empuk. 

Sehingga, musti ada hal yang lebih dalam yang dilakukan untuk meningkatkan minat baca. Ada hal lain yang lebih dalam dari sekedar mencanangkan Gernas Baku pada instansi pendidikan, orang tua, anak didik dan masyarakat. Yakni menanamkan pemahaman yang mendasar tentang hakikat hidup. 


Buku di dalam Islam

Pendidikan di dalam sistem Islam adalah pendidikan yang berlandaskan Aqidah Islam. Yang membentuk pola sikap dan pola pikir yang Islami (Sakhsiyah Islamiyah). Sehingga akan tertanam iman yang kokoh dan ketaqwaan pada RabbNya pada jiwa-jiwa masyarakatnya. Semakin berilmu, iman semakin mengurat dalam. Semakin berilmu, semakin takut pada Allah untuk bermaksiat.

Buku adalah hal yang penting di dalam sistem pendidikan Islam. Sebab, dengan buku cakrawala wawasan semakin luas. Pemikiran semakin cerdas. Sebab buku adalah jendela dunia. Sumber belajar. 

Tak pelak. Buku dijamin keberadaannya oleh Daulah. Perpustakaan pun disediakan. Bahkan, penulisnya mendapatkan upah yang luar biasa sebagai penghargaan terhadap buah pikir yang dituangkan. Buku pun dapat diakses dengan mudah. Gratis. 

Disamping itu, Masyarakat pun didorong untuk berlomba-lomba menuangkan gagasannya ke dalam tulisan. Buku-buku tentang Tsaqofah Islam diberikan penghargaan yang tinggi. Sehingga royalti diserahkan di awal kesepakatan. Bukan saat penjualan buku hingga nasib penulis pun digantungkan. 


Memotivasi Minat Baca Buku

Untuk itu, dalam rangka meningkatkan minat baca buku untuk semua elemen masyarakat. Musti dilakukan hal-hal yang mendasar dan mendalam. Bukan sekedar mencanangkan program yang akan mudah terombang-ambing di permukaan. 

Membongkar Aqidahnya. Dengan membongkar pemahamannya yang mendasar, akan menguatkan pijakan saat melakukan hal-hal ibadah maupun mu'amalah lainnya. Pemahaman yang bukan Islami mustinya disingkirkan. Menggantinya dengan pemahaman Islam tentang hakikat hidup. Bahwa hidup adalalah untuk beribadah. Dari Allah, untuk Allah dan akan kembali kepada Allah. Hingga setiap tarikan nafas dan laku kita adalah buah dari keimanan dan ketaqwaan. 

Selain itu, guna mendorong minat baca pada anak. Orang tua musti menancapkan pemahaman tentang hakikat ilmu dan orang berilmu. 

Dalam surat Al Mujadillah ayat 11, Allah telah menjelaskan bahwa orang yang beriman dan berilmu akan mendapatkan derajad yang tinggi di sisi Allah. 

"... niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajad. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S Al Mujadillah: 11) 

Patut dipahamkan juga bahwa menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim. Dari buaian hingga liang lahat. Dan buku adalah salah satu sumber ilmu. Jendela dunia. 

Di samping itu, orang tua pun musti memberikan tauladan yang baik. Dengan melihat orang tuanya yang gemar membaca. Anak-anak akan terbiasa dengan buku. Sebab anak adalah peniru yang ulung. Jadi, jangan heran ketika orang tuanya pecinta buku, anaknya pun akan menjadi pelahap buku.

Selanjutnya, menggunakan metode menghormati anak ketika anak melakukan perbuatan baik. Sesuai anjuran Imam Ghazali dalam Juz III buku Ihya'-nya, " Jika tampak pada diri anak kecil budi pekerti yang bagus dan perbuatan yang terpuji, maka sangat perlu anak tersebut dihormati dan diberi hadiah yang menggembirakannya. Juga dipuji di hadapan orang-orang, untuk mendorong agar selalu berbudi pekerti yang baik dan berperilaku terpuji." 

Maka, tak ada hal lain yang lebih menancap dan bertahan saat digerus zaman selain kembali pada Islam. Menjadikan Islam sebagai way of life dalamengarungi kehidupan. Hingga tercipta keluarga yang mabda'i. Menjadikan ilmu dan buku sebuah kebutuhan. Sebab jikalau ingin menggenggam dunia, maka dengan ilmu. Bila ingin akhirat. Maka dengan ilmu. Dan jika menginginkan keduanya, maka dengan ilmu. Dan buku, adalah salah satu sumbernya. 

Wallahu 'alam bishshowaf



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!