Monday, May 28, 2018

Generasi Rusak "Salah Siapa"?


 Oleh : Siti Ruaida S.Pd


Seorang remaja putri Den (16 th) yang baru lulus sekolah menengah pertama di Kecamatan Boyolongu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur telah membuat heboh karena dia dihamili oleh HEM (14 th) seorang anak kelas V SD.


Kasus Ini bukan kasus yang pertama sebelumnya banyak kejadian serupa , bahkan anak perempuannya yang masih berstatus murid SD. Jadi kejadian ini bukan hal baru bahkan untuk kasus yang sudah sering kita dengar untuk yang kesian kali. Pertanyaannya mengapa kasus seperti ini terus berulang apa yang menyebabkan  rusaknya generasi ini. Bagaimana langkah-langkah yang sudah dilakukan untuk mengatasi dan menghentikan berulangnya kasus serupa  Dan apa akibatnya jika kasus ini tidak bisa diatasi bagi kelangsungan generasi dan umat.


Kondisi generasi hari ini ada dipersimpangan, mereka hidup diera kebebasan teknologi yang mewarnai pemahaman mereka. Konten pornografi jumlahnya tidak lagi ribuan tapi jutaan. Hidup di era internet yang serba memudahkan mereka. Internet menjadi rujukan dan tempat menemukan jawaban dari segala pertanyaan yang bermain dikepala mereka. Mudahnya mengakses segala sesuatu menyebabkan mereka dewasa sebelum waktunya. Satu sisi mereka belum memiliki kematangan  dari sisi pemahaman alias masih labil.


Masalah ini harus kita uraikan secara gamblang untuk mencari solusi tuntas agar tidak berulang lagi. Diawali dengan peran orang tua sebagai pengemban amanah yang Allah titipkan yaitu anak- anak untuk investasi masa depan diakhirat bukan hanya didunia. Allah akan menanyakan amanah tersebut, warna apa yang orang tua berikan kepada anak karena anak adalah selembar kertas putih, orang tualah yang memberi goresan hitam putihnya seorang anak manusia.


Orang tua perlu merenungkan, goresan yang sudah diberikan kepada anak. Tentu sebagai orang tua sudah merencanakan ketika seorang anak terlahir. Masalahnya bagaimana dan apa harapan orang tua dipengaruhi pola pikir (aqliah) dan pola sikap (syaksiah) yang mereka miliki untuk digoreskan kepada anak.


Orang tua yang memiliki aqliah Islam dan syaksiah Islam akan menghantarkan anak untuk memiliki aqidah yang kuat yang didasari aqliah atau pemahaman tentang agama terkait dengan ketentuan atau syariat Islam. Hingga dengan pemahamanya, anak memiliki kemampuan untuk mengkaitkan perbuatannya dengan kesadarannya sebagai hamba Allah, yang harus tunduk dan patuh kepada perintah dan larangan Allah.Anak paham bagaimana pergaulan antara laki-laki dan perempuan, paham tentang aurat, paham tentang ihtilat semua menurut pandangan Islam.


Setelah hal ini dilakukan oleh orang tua. Langkah berikutnya memilihkan lingkungan yang baik, sekolah yang mampu mewujudkan cita-cita dan harapan orang tua agar anak menjadi generasi terbaik di dunia dan akhirat. Sungguh ini adalah cita-cita dan harapan besar semua orang tua yang ternyata tidak semudah teori, ternyata banyak unak dan duri yang harus dihadapi karena tidak didukung oleh sistem yang baik, sehingga membuat orang tua tertatih dan ada dalam keterbatasan serta kelemahan untuk membimbing anak sesuai ketentuan agama. Perjuangan orang tua yang pastinya akan mendapatkan pahala besar terlepas dari hasil. Allah melihat kerja keras orang tua diakhir zaman ini untuk menghasilkan  generasi sholeh sholehah harapan umat.


Pertanyaannya Sudahkah di zaman now ini orang tua memainkan perannya sesuai dengan tuntutan sang pembuat hukum. Ternyata peran orang tua dalam menanamkan  aqidah islam  telah bergeser tepatnya terkontaminasi dengan pemikiran dan pemahaman yang jauh dari Islam. Pola pikir Liberalisme Kapitalisme tanpa sadar telah merubah pemahaman orang tua dengan mengedapankan kesuksesan dunia yang memang pada kenyataannya lebih mudah untuk  diraba, dinukmati dan dirasakan hasilnya oleh orang tua dan pada akhirnya menumbuhkan kebanggaan dalam diri ketika sukses duniawi. Tapi lupa dan terabaikan kesuksesan akhirat.


Sejatinya pemahaman orang tua sangat penting dalam menamkan aqidah dan memberikan pendidikan pada anak. Kondisi hari ini seperti contoh kasus diatas dan berulangnya kasus. Sudah memberi gambaran akan lemahnya aqidah generasi , mereka tidak mencerminkan anak yang paham akan agama dengan benar tepatnya telah terkontaminasi dengan pemahaman asing yaitu paham kebebasan (Liberalisme) paham serba boleh yang melepaskan keterkaitan dengan hukum Allah yang sempurna. Malah mengadopsi hukum buatan manusia yang serba boleh tadi untuk kesenangan sesaat, alias nikmat membawa sengsara.


Dalam hal ini negara memainkan peran sebagai pelindung anak dan orang tua untuk memastikan kekuatan pondasi aqidah mereka karena akan berpengaruh langsung pada kokohnya negara. Generasi yang kokoh aqidahnya akan mengokohkan negara. Generasi adalah pemegang tongkat estafet untuk mewujudkan cita-cita negara. Negara harus memastikan orang tua paham akan tugas  pokoknya menjaga dan mendidik anak. Negara berkepentingan untuk membekali orang tua dengan ilmu yang cukup. Hingga generasi berkualitas baik.


Negara menjamin  kesejahteraan warga negara dengan Kemudahan untuk memenuhi nafkah keluarga yang diwajibkan pada seorang laki-laki dapat dipenuhi oleh negara dengan kemudahan mendapatkan pekerjaan yang bisa menjamin kesejahteraan keluarga. Sehingga orang tua bisa berbagi tugas supaya tidak terabaikan penafkahan dan hadhonah dengan penanaman aqidah melalui sentuhan ibu yang fokos mendidik mengokohkan aqliah dan syaksiah anak. 


Negara menyediakan sekolah, kurikulum terbaik dan sarana pendidikan yang lengkap tanpa membebani orang tua. Sebagai bentuk perhatian dan adanya kepentingan negara akan generasi terbaik untuk keagungan dan kebesaran sebuah negara yang punya visi dan misi untuk tingginya sebuah peradaban.


Akhirnya perlu kerjasama semua pihak orang tua, masyarakat terlebih negara sebagai pemegang kekuasaan untuk menjamin kelangsungan kehidupan warga negara terutama generasi muda agar bisa menyeimbangkan perkembangan kedewasaan mereka secara biologis dan kedewasaan secara pemikiran. Agar menjadi generasi yang memiliki konsep yang jelas dalam berpikir yang menjadi landasan dalam berbuat hingga menjadi dorongan dalam bertingkah laku adalah pemahaman dan keimanannya bukan hawa nafsu.


Akhirnya kontrol dan perlindungan negara menjadi sangat penting. Penjagaan aqidah warga negara dari arus informasi yang bisa merusak generasi harus ditutup dan pemberian sangsi yang tegas dari negara apabila ada pelanggaran terhadap hukum yang ditetapkan.


Penulis Guru IPS di MTs Pangeran Antasari

Member AMK KALSEL 


  



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!