Thursday, May 3, 2018

Generasi 'Lipstik' di Zaman Kapitalistik

Oleh : Sunarti


Hiruk pikuk kaum Emak menyiapkan peringatan satu hari besar. 

Mulai dari mempersiapkan baju/kebaya, rok, make up, hingga aksesoris. 

Tak tanggung-tanggung, Emak, rela merogoh kocek hingga ratusan ribu untuk biaya rias anak-anaknya.

Suasana yang merajalela hampir ke seluruh para Ibu di seluruh negeri. 

Menjadi bangga saat anak-anaknya berpenampilan cantik. Lipstik jadi pemulas bibir, eye shadow jadi pemerah pipi. 

Berkonde, bersanggul dan berpunuk unta jadi penghias kepala. 


Sebagaimana virus, menyerang siapa saja yang kekebalan tubuhnya lemah. 

Virus demam berdandan/tabaruj menyerang juga para Emak. Emak yang kekebalan terhdap peradaban juga lemah. Latah mengikuti budaya berdandan yang tak murah harganya. 

Tak jarang beradu cantik antara Emak dan Anak. 

Membanggakan diri tampil cantik, elegant dan menawan. 



Peradaban telah membuat kaum wanita berlomba-lomba mempercantik diri. 

Demi penghargaan dan eksistensi diri. 

Peradaban juga telah berhasil mengajak para Emak berbondong-bondong membanggakan diri.


Begitu selesai acara, usai pula kehebohannya. 

Tidak ada yang berbekas dalam benaknya. Sebatas kesenangan dan berfoto ria.

Sebagaimana lipstik di bibirnya, yang keberadaannya hanya sebagai pemanis saja. Pudarlah moment peringatannya. 


Emak Mempersiapkan Generasi Lipstik.


Wanita identik dengan kecantikan. Ini adalah ladang yang empuk untuk dijadikan konsumen. Bedak dan lipstik sekarang jadi modal para wanita untuk berdandan. Belanja kebutuhan dapur, itu nomor sekian. Yang penting 'dandan' dulu. Jadilah Emak konsumen manis di dunia kecantikan. Kesempatan ini dijadikan promosi besar-besaran oleh produsen. Tak ayal jika Emak semakin ketagihan belanja bedak dan lipstik. Bahkan,  tak cukup dengan hanya bedak, tapi perlengkapan kecantikan yang lain, tak luput dari lirikan Emak. 


Di sisi lain,  kaum feminis berhasil menancapkan satu pemikiran. Yaitu eksistensi diri. Ini menambah Emak dan Anak makin  merasa memiliki derajat tinggi.

Fenomena yang lambat, namun pasti, yang akan merusak anak negeri. Keberhasilan kaum feminis menggeser keteladanan Emak. Tak lagi bertauladan pada yang seharusnya. Namun bertauladan pada wanita Barat. 


Jadilah prioritas utama Emak adalah berdandan. Bukan memenuhi kebutuhan keluarganya. Kesibukan hanya untuk mempercantik diri dan anak.


Seandainya maklumat Emak dan juga masyarakat adalah para Shahabiyah.

Pastilah keteladanan bukan lipstik, konde dan kecantikan. Betapa generasi ini tidak sibuk berdandan. 

Dan para Emak tidak sibuk menyiapkan lipstik.


Sayang, arus kesetaraan dan emansipasi telah menggeser keteladanan. Dalam generasi lipstik Sirah shahabiyah tak pernah ada yang kenal. Generasi masa kini lebih memilih merasa elok dengan bersanggul dan berlipstik daripada menutup aurat.


Keteladanan Pada Shahabiyah Nusaibah Binti Ka'ab. 


Nusaibah binti Ka'ab.

Siapa yang tak kenal perempuan kuat yang satu ini? 

Beliau, wanita tangguh yang terkenal dengan kegigihannya membela agama Allah dan Rosulullah Muhammad. 

Motivasi Beliau terhadap suami dan anak-anaknya menjadikannya penghuni surga. 

Nusaibah binti Kaab terkenal juga sebagai "perisai Rasulullah".

Bahkan sahidnya Beliau dijemput oleh ribuan Malaikat.


Tidak hanya perang di Padang Uhud yang menjadi saksi kehebatannya, beberapa jihad, seperti Hudaibiyah, Perang Khaibar, Perang Hunain, dan Perang Yamamah diikuti Nusaibah. Dalam berbagai pertempuran itu, Nusaibah tak hanya membantu menguruslogistik dan merawat orang-orang yang terluka, tapi juga memanggul senjata menyambut serangan musuh.


Seorang wanita, selain menjadi istri yang tangguh, Beliau bisa mencetak anak-anaknya menjadi mujahid dan menjadi pelindung Rosulullah. Jiwa pantang menyerah, tak takut darah memerah bahkan tak takut kematian. 


Menjadikan jiwa raga, semangat dan ketangguhannya yang seharusnya menjadi tauladan muslimah.

Nusaibah tak pernah merasa dinomor duakan meski sempat Rosulullah melarang ke medan perang.

Namun Nusaibah masih bisa menggunakan keahliannya merawat para prajurit yang terluka.


Dalam kisahnya,  Nusaibah mendorong suami dan putra-putranya untuk maju ke medan perang.  Dengan mempersiapkan pedang dan kuda-kuda yang tangguh. 

Tak terbersit keberatan hati sediktpun akan syahidnya suami dan putranya. Bahkan, pada saat dirinya tinggal sebatang kara, Beliau mengajukan diri sebagai bagian pasukan perang. Tubuhnya terluka, tidak dipikirkan lagi. Dalam benaknya hanya melindungi Nabi Allah. Nusaibah mempersiapkan generasinya sebagai penghuni surga. 


Pesan menggugah Shahabiyah ini seharusnya menjadi teladan para Emak dan Anak. Keteladanan yang jelas menuju pahala dan surga. Bukan keteladanan pada kesenangan dunia. 


Waallahu alam bisawab


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!