Sunday, May 13, 2018

Fenomena Menjamurnya “Tik Tok”


Oleh dr. Dina A. Fakhrina 

(Ibu Rumah Tangga, Aktivis Muslimah, Praktisi Kesehatan)


Akhir-akhir ini sedang ramai penggunaan sebuah aplikasi asal Cina yang disebut dengan Tik Tok. Tik Tok adalah platform sosial video pendek yang didukung dengan musik. Baik itu musik untuk tarian, gaya bebas, ataupun performa, para pencipta didorong untuk berimajinasi dan menyatakan ekspresi mereka dengan bebas. Video-video pendek itu kemudian dibagikan ke teman-teman dan dunia. 


Sebagian besar penggunanya adalah anak muda, terutama kaum hawa. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang berlenggak lenggok bak biduan dengan ekspresi centilnya sambil mengenakan hijab yang merupakan identitas seorang muslimah. Kemudian video yang disebut hasil kreasi tersebut diunggahlah ke dunia maya, semakin banyak yang melihat semakin senang lah sang empunya, berharap videonya bakalan viral. Tanpa melihat lagi dampak dan akibatnya. Tentu saja kebanyakan video tersebut tidak ada faedah atau unfaedah kalau kata anak zaman now. 


“Dan hendaklah engkau tetap di rumahmu dan janganlah berhias serta bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dulu.” (QS Al-Ahzab: 33)


Wahai Muslimah, jangan jadikan hijabmu fashion ketenaran, kembalikanlah dia pada fungsi asalnya sebagai barrier yang menghalangi keindahanmu dinikmati oleh yang tidak berhak. Ketika kau mengenakan hijab, maka harusnya itu menjadi alarm bagimu agar menjaga izzah dan iffah. Izzah adalah kehormatan perempuan sebagai seorang muslimah. Sedangkan iffah adalah bagaimana seorang muslimah dapat menjaga kesucian dirinya dengan menjadikan malu sebagai pakaian mereka. Malu adalah sebagian dari iman dan malu adalah akhlak islam.


Ya, tidaklah yang kau lakukan dengan aplikasi Tik Tok ini melainkan cerminan dari hilangnya rasa malu di dirimu, Wahai Pemudi! Bukankah kita sama-sama mengetahui bahwa betapa mudahnya naluri seksual laki-laki tergugah? Bahkan hanya dari kedipan matamu, gemulai suaramu, gerak tubuhmu, apalagi jika auratmu kau umbar.

Takutlah dengan dosa jariyah yang mengalir terus, bahkan jika dirimu tobat tetapi videomu yang menciptakan zina mata, zina hati, dan zina mulut tersebut masih berseliweran di dunia maya.


Belum lagi karena keasyikan main “Tik Tok” sampai tak terdengar tik tok suara jam yang terus melaju tanpa bisa dihadang. Sementara kita terus saja melakukan hal yang tak berfaedah bahkan sampai meninggalkan kewajiban, seperti kewajiban sholat. 

Padahal jika kau gunakan waktumu untuk hal yang bermanfaat seperti mengkaji Islam, membantu orang lain, dakwah, dan sebagainya, maka tentu itu jauh lebih baik, alih-alih menumpuk dosa jariyah. Waktumu takkan kembali, Wahai Sobat! 


Segala perintah dan larangan Allah tentu ada kebaikan di dalamnya dan sebagai hamba-Nya kita tidak memiliki pilihan selain mengikutinya jika tujuan kita adalah mencapai ridho-Nya. Bagaimana mungkin kita mengharap rahmat dari Allah untuk masuk surga sedangkan kita abai terhadap syari’at?


Tak bisa dipungkiri, fenomena ini merupakan salah satu imbas liberalisme sekulerisme yang memang membuka ruang seluas-luasnya bagi kebebasan, yang memandang kecantikan wanita adalah suatu aset yang harus diberdayakan, yang menganggap kreatifitas itu tanpa batas. Hingga beginilah akhirnya, generasi muslim menjadi korban fun, food, fashion dari para musuh Islam agar generasi semakin jauh dari Islam. Tak ayal, terbuktilah kini segala permasalahan generasi terjadi berakar dari lepasnya pemahaman individu, masyarakat, serta negara terhadap agama. 


Untuk mengarahkan anak muda agar terhindar dari aktivitas sia-sia yang tasyabbuh (mengikuti gaya orang kafir) menuju aktivitas berfaedah yang revolusioner perlu peran orang tua, lingkungan, hingga negara. Peran penting orang tua terutama ibu sebagai madrasatul ‘uula (sekolah pertama dan utama) yang mendidik dengan penuh cinta dan kesabaran. Lingkungan pun tak kurang perannya dalam membentuk kepribadian. Kemudian, sebagai pengatur dan pelindung yang menyempurnakan terbentuknya generasi rabbani adalah negara yang berada dalam sistem kepemimpinan sempurna, yaitu sistem Islam.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!