Wednesday, May 9, 2018

Fenomena Berebut "kursi" di Politik Demokrasi


Oleh : Ummu Ali


Menjelang tahun 2019 banyak bertebaran spanduk  ditepi jalan. Memromosikan paslon pasangan calon penguasa lima tahun ke depan. Pemimpin yang diharapkan membawa perubahan. Pemimpin yang bisa menjadi pengayom dan penjaga. untuk Negeri Indonesia tercinta. Sebagian besat masyarakat nampaknya tidak mau diam. Mulai melek politik.  ingin ikut bersuara. Terbukti ini menjadi perbincangan cukup panjang di kalangan masyarakat. Wajah baru yang semula tak pernah ditemui oleh banyak masyarakat. Tiba-tiba maju dan mencalonkan diri sebagai paslon. baik tingkat Daerah, Propinsi dan juga Pusat.  Yang sangat menggelitik dari perbincangan ini, mereka yang paling banyak berpastisipasi memberikan bantuan secara spontanitas saja yang akan dipilih. Bahkan ada seorang dari salah satu masyarakat yang mengharapkan uang sebagai dalih kartu suaranya telah memilih calon tersebut. sudah menjadi rahasia umum hal seperti itu terjadi.

Tak jarang kita melihat berita di televisi menjelang pesta demokrasi ini. setiap calon berkunjung dengan dalih berjanji untuk memperbaiki jalanan yang masih belum beraspal misalnya, asalkan suara masyarakat memilihnya sebagi wakil rakyat. jelas nampak, politik demokrasi dibangun atas asas kemanfaatan. bukan atas asas meriayah(mengurus) rakyatnya yang diipandang sebagai amanah. politik demokrasi, memaksa pelakunya agar bekerja ketika ada imbalan dan memperoleh kemanfaatan. janji-janji mereka  akan merealisasi apa yang diinginkan rakyat jika rakyat memberikan suarnya pada si calon.

Hal itu baru sekedar janji yang diucapkan. Yang lebih ngeri lagi belum jadi wakil rakyat si calon sudah mengadakan kegiatan, sebagai bentuk kampanye mereka. dengan harapan dia bisa membeli suara masyarakat agar terpilih di Pemilu nanti. Contoh saja: beberapa kasus calon mengadakan agenda semisal jalan santai, konser musik, perlombaan bareng secara gratis. Berapa dana yang dikeluarkan dalam kegiatan itu. tentu bukan nilai yang sedikit.

Masyarakat sudah pandai memilih dan menilai. Hal ini perlu kita kritisi adalah dengan menjadi calon saja mengeluarkan uang segitu banyaknya. Untuk memposisikan menjadi penguasa.. Dana dari man dia dapat? Berapa gaji yang didapat ketika sudah duduk di kursi jabatant? Kalau dihitung secara logika tidak akan sampai dana itu menutup semua pengeluaran di kampanye pesta demokrasi dengan jabatannya dalam satu periode. Itulah gambaran bagaimana biaya mahal yang dikeluarkan dalam memilih pemimpin di sistem Demokrasi. 

Jika di era demokrasi sekarang berebut kursi kekuasaan agar menjadi nomor satu mulai dari kepala desa, bupati, gubernur sampai tingkat presiden. Tapi coba bandingkan dengan Pemimpin kita zaman Umar bin khatab ketika diangkat menjadi Pemimpin Umat saat itu apa yang dikatakan? Apakah senang kegirangan? Memberikan ucapan terimakasihkah kepada ummatnya saat itu? TIDAK. Yang dikatakannya adalah Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Tubuhnya kegemetaran karena Amanah yang dia pikul sangat berat hisabnya kelak di Akhirat. Khalifah Umar menangis tersedu-sedu. Sampai ucapannya pun menyayat hati. Selubang Jalan yang menyelakai seekor keledai pun dia akan bertanggung jawab di akhirat. Sampai suatu malam tiba Khalifah Umar Patroli dan menemukan salah satu rakyatnya kelaparan dengan merebus batu untuk mngelabuhi anaknya. Tak berlama-lama sang Khalifah segera membawakan gandum dan beberapa potong daging dengan pikulannya sediri.

“Wahai Umar ini adalah tugasku membantumu utuk memikulnya”, kata sahabatnya.

“ apakah dirimu mampu memikul dosa dan tanggungjawabku kelak diakhirat?”, sahabatnya terdiam dan terintih hatinya.

Tapi yang ada sekarang malah menginginkan dirinya untuk dipilih dengan lantang dan jauh dari rasa amanah yang jauh lebih berat hisabnya. jelas berbeda dalam sistem Islam. Yang memandang jabatan sebagai amanah yanh harus dijalankan dengan penuh tanggunh jawab dan sesuai aturanNya. bukan menjadikan jabatan untuk meraih kemanfaatan materi. Sungguh hanya kembali pada syariat islam semua akan memudahkan kita. Jadi telah jelas solusi yang ada adalah kembali pada syariat islam yang sudah terbukti sejak 1300 tahun lamanya.

Allahu a'lam



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!