Monday, May 7, 2018

Emak Negarawan


Oleh : Yati Azim

.

Kota cantik di siang hari emang begini. Panas. Sruuuttt...sruutt, suara sedotan air es kelapa muda dari gelas transparan membuat Raihana semakin ambisi menyiram dahaga.  


"Hushh, malu!" Bisik Aisyah.


"Ini nikmat, say. Tiada duanya dech" Raihana tak pedulu. Sepasang mata laki-laki berkulit kuning langsat itu menatap adegan menggelitik. Ia berdecak. Geleng-geleng. Raihana tertawa lebar.


"Eh, bukan begitu juga, Rai. Ada adabnya lho. Tak baik." Bisik Aisyah malu. Ia beristighfar dalam hati. Raihana emang gokil. Seminggu mengenal Raihana membuat Aisyah kewalahan.


"Sabar Pak, tunggu antri. Ga usah melirik minuman saya ya. Memang begini Palangkaraya, Pak. Panas poolll dahh." Rihana semakin menjadi-jadi, ia membuat si lelaki nampak terkekeh. Aisyah tak iya gublis.


"Mari Pak, duduk. Tak baik munum sambil berdiri" Raihana sok repot. Kursi plastik kuning ia sodorkan. Aisyah tertegun! Kedua telapaknya menutup wajah. Alamak!


Sambil menunggu jemputan, para pelajar SMP paling senang nongkrong di seberang sekolah. Tempat yang sangat nyaman, apalagi banyak jajahan yang siap mengganjal perut keroncongan. 


Sebuah mobil mewah berwarna merah tepat berhenti di depan Aisyah dan Raihana. 


"Eh say, aku udah dijemput tuh. Duluan yaa." Raihana bergegas dan melambai tangan.


"Assalamu'alaikum, Rai. Salam buat mamah kamu. Hati-hati" 


"Wa'alaikumussalam. Oke say, insyaallah. Dadahhh..."


***


Tiga hari kemudian.


"Rai, mamah tidak bisa jemput. Mamah hari ini mendadak berangkat ke Jakarta." Suara telepon dari seberang. 


"Truss Raihana gimana, Mah? Rai belum terlalu tau kota ini. Ini bukan Muara Teweh, kota kecil kita kemaren."


"Oh Gini aja, Rai nebeng Aisyah aja. Sekalian Rai kenalan sama mamah Aisyah. Gimana?" Lanjut Raihan tiba-tiba inspiratif.


"Oke. Tut!" Telepon putus. Ih, mamah. Umpat Raihana.


Suasana sekolah berjalan seperti biasanya. Tak ada yang beda. Namun di perjalanan pulang Raihana yang tampak tak biasa. Ia terpaku dengan emak Aisyah. Beliau begitu santun dan bersahaja. Setiap tutur kata terangkai apik nan menakjubkan. Raihana terbawa suasana yang begitu indah. Simpatik. Bayangan emaknya menari-nari di kepalanya. Raihana menghayal yang bukan-bukan.


"Betul ini rumah Raihana?" Mobil berhenti tepat di pintu gerbang rumah besar tingkat dua. Raihana kaget, kok sudah sampai. Buyar lamunnya.


"Eh..iya, iya betul. Terimakasih, bu. Saya merepotkan nih." Riahana bergegas.


"Kalo mamah Rai keluar kota. Lalu, Raihana sendiri aja ya di rumah?" Tanya mamah Aisyah memalingkan wajahnya ke balik setir.


"Ini kali pertama mamah ke luar kota selama kami pindah ke Palangkaraya, bu." Ia memegang rambut pendek sebahunya, dielus-elus dan menatap kaca kecil pada sebelah tangan.


"Bagaimana jika Rai nginap di rumah Aisyah saja. Tapi, coba telepon dulu mamah Rai, Raihana coba minta ijin." Tawar bu Alya, mamah Aisyah.


"Kenapa harus ijin, bu? Tak perlu ijin kok, pasti mamah kasih. Rai udah biasa kok, yang penting Rai bisa jaga diri."


"Ohya, kalau mamah Rai cari gimana?"


"Kan tinggal telepon bu. Simpel khan?"


"Menurut saya, Raihana tetap harus minta ijin jika ke luar rumah. Orang tua harus tau kondisi anaknya. Supaya tidak repot jika terjadi sesuatu dan lain hal."


"Oh gitu..."


"Iya, nak!"


***


Raihana banyak bertanya tentang Aisyah dan bu Alya. Suasana rumah Aisyah menjadi ramai. Mereka juga banyak diskusi tentang kehidupan. Malam ini mereka saling mengetahui kebiasaan masing-masing. Sebagai anak bungsu yang satu-satunya cewek, Aisyah nampak asik ada teman bermain dan belajar. Apalagi abang Aisyah sudah berkeluarga dan ada juga yang mondok. Kehadiran Raihana di rumah sederhana mereka semakin menambah keakraban.


Sedangkan Raihana masih dengan kegokilannya. Bu Alya sering geleng-geleng dibuatnya. Ia mengerti kenapa tingkah Raihana begitu, itu yang terjadi pada generasi kebanyakan hari ini. Kalau tidak sering diingatkan, Raihana begitu vokal ngelantur kemana-mana.


"Eh, say. Emak kamu ini udah seperti politikus. Sangat mengerti tentang masalah negeri kita. Aku takjub. Kamu bersyukur Aisyah." Ucap Raihana saat bu Alya keluar kamar dan pamit untuk tidur.


"Emak kamu juga khan begitu, Rai. Apalagi emakmu orang wakil rakyat. Tentu tau banyak solusi untuk negara kita."


"Aku takjub saja. Sebagai ibu rumah tangga, kok emak kamu tidak gaptek dan gapol ya?"


"Maksudmu, gapol? Itu istilah apa sih?"


"Gagap politik, say!"


"Oww..." Aisyah angguk-angguk.


***


Hari kedua Raihana di rumah Aisyah. 


"Kita hari ini ikut mamah ke majelis Ilmu, Rai." Aisyah menyodorkan hijab syarie. "Pake kostum ini ya, ancang-ancang kamu belajar nutup aurat, coba mulai latih dari hari ini. Mau?"


"Kenapa harus berhijab?" Ucap Raihana sambil menyambut hijab ungu dari tangan Aisyah.


"Fungsi hijab ini untuk menutup aurat, say. Allah perintahkan muslimah yang udah baligh wajib nutup aurat secara sempurna." Aisyah tersenyum. 


"Nah, kamu udah haid khan? Haid itu cirinya bahwa kamu udah baligh. Gitu lho, say..."


"Oh begitu. Pantesan kamu tertutup, trus gitu bajunya. Ternyata aku baru tau bila ini perintah Allah."


"Di dalam al-Qur'an udah Allah sampaikan kok. Itulah kenapa kita harus tau isi kandungan al-Qur'an, harus baca dan mengamalkan. Biar kita tau maunya Allah itu apa."


"Ishh, aku belum bisa baca Qur'an say."


"Masa?"


"Iya, serius!" Jelas Raihana menyakinkan. Aisyah sedih. Segede ini, Rai. Ah, dilema. 


Dan. Mereka semua sudah siap. Setelah sholat asar, yang sebenarnya baru kali ini Raihana lakukan secara berjamaah, membuat dia hanya bisa lirik-lirik saja. Gimana mau khusyu, ah.


***


Aisyah berbisik "Mulutmu ditutup, Rai! Kok jadi melongo gitu sih."


"Hushhh, lagi konsentrasi. Emakmu cerdas. Ini ilmu keren amat dahh. Sayang terlewati." 


Raihana serius mengikuti majelis Ilmu yang materinya langsung disampaikan oleh bu Alya. Meski target acara khusus untuk ibu majelis ta'lim, tapi cocok juga buat remaja seperti Aisyah dan Raihana. Membahas tentang kenakalan remaja yang top hanya di sini. Makanya Raihana begitu tersirami. 


"Islam itu hebat yah, ternyata solusi tuntas." Ucap Raihana kagum. 


"Alhamdulillah, harus bangga dong."


"Yup. Betul. Tak kuasa menolak, say."


"Nah, gitu." Mereka terkekeh di sela acara.


Usai acara, Raihana lebih kalem. Ia banyak mendapat informasi baru. Padahal sebelumnya Riahana sangat ogah jika mamahnya ngajak diksusi tentang dunia politik. Bikin mumet. Tapi semenjak kenal bu Alya, semua tersibak begitu cepat. Riahana bercita-cita menjadi muslimah negarawan. 


"Aku akan belajar intensif sama emakmu, Aisyah!" Ucap Raihana kemaren.


"Alhamdulillah. Aku punya sahabat yang sepemikiran dong. Kita tunjukkan jika masa depan hanya bisa dipimpin oleh Islam. Kiprah muslimah sangat penting, kata emakku harus dilatih dari sekarang." Jelas Aisyah. 


"Emak Negarawan itu ternyata emakmu, say. Semoga emakku juga bisa fokus berjuang untuk Islam. Besok-besok bu Alya harus bertemu sama emakku."


"Aamiin yaa Allah. Setuju pake banget, Rai." Aisyah tersenyum. Raihana terus mengangguk setuju. Ia baru kali ini merasa hidup sesungguhnya. Banyak mimpi yang akan ia wujudkan.


TAMAT


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!