Friday, May 11, 2018

Dunia Pendidikan di Persimpangan Jalan


Oleh Ummu Hanif, Gresik



Dunia pendidikan di negeri ini tidak kering dari berbagai kontroversi. Setelah beredar berbagai foto kurang pantas di media sosial, mengenai pesta kelulusan siswa tingkat sekolah menengan umum (SMU), kini kita dikejutkan dengan adanya peserta SBMPTN yang melahirkan. Sebagaimana yang dilansir Okezone.com (8/5/2018), bahwa telah ditemukan bayi di dalam toilet kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa 8 Mei 2018. Belakangan diketahui, bayi itu baru dilahirkan dan ditinggalkan oleh seorang peserta ujian SBMPTN. Humas Universitas Hasanuddin Ishaq Rahman mengatakan, bayi dilahirkan oleh seorang peserta SMPTN berinisial IRF di toilet ruang Pusat Bahasa. IRF merupakan peserta asal Kabupaten Enrekang yang ikut ujian campuran untuk tiga jurusan tujuan.


Peristiwa hamilnya siswa sekolah menengah memang bukanlah peristiwa baru, banyak kasus serupa yang telah terjadi. Kondisi ini seakan mengatakan, bahwa pergaulan bebas sudah menjadi hal lumrah bagi remaja saat ini. Hingga kita perlu bertanya, ada apa dengan dunia pendidikan kita? Bukankah visi misi pendidikan nasional salah satunya untuk membentuk insan berkarakter? Ketika hasil yang nampak seperti ini, lalu karakter seperti apakah yang sebenarnya dimaksud?


Ketika kita mau merenung lebih dalam, kondisi ini tidak terlepas dari kultur sistem pendidikan di Indonesia, dimana saat ini telah terjadi sekularisasi pendidikan yang luar biasa. Selama ini, agama tersingkir dari kehidupan sekolah. Pelajaran agama mendapat porsi yang relatif sedikit. Berbagai bidang keilmuan digeluti mahasiswa tanpa pedoman agama. Kurikulum sains kering dari nilai-nilai spiritual. Kalaupun diajarkan agama, hanya sebatas retorika yang tidak menyentuh implementasi. 


Maka, kiranya inilah moment yang tepat untuk kembali menguatkan nilai-nilai spiritual sebagai landasan dalam berbagai jenjang pendidikan. Sudah saatnya dihentikan sekularisasi pendidikan, dimana kurikulum pendidikan kering dari nilai-nilai spiritual. Kurikulum pendidikan harus dilandasi agama (baca: Islam), sehingga diharapkan akan menghasilaknsiswa yang memiliki kecerdasan spiritual. Bukankah dalam konteks peningkatan sumber daya manusia modern saat ini, kecerdasan spiritual sudah menjadi trend kebutuhan yang tak bisa dielakkan? Lantas mengapa justru poin penting ini diabaikan?


Karena itu, tidak pada tempatnya pesantren yang mengajarkan pendidikan agama malah dicurigai karena dituduh mengajarkan kekerasan/terorisme. Dan yang lebih penting, keterikatan kepada Sang Pencipta merupakan pengontrol perilaku utama manusia. Keterikatan kepada syariat agama ini akan menjadi pengendali utama manusia dalam berbuat. Sebaliknya, ketika agama lepas dari nurani, sifat kehewananlah yang muncul. Insya Allah, dengan nilai-nilai spiritual ini budaya pergaulan bebas di sekolah –bahkan dimanapun-- akan bisa dihentikan.

Wallahu a’lam bi ash showab



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!