Wednesday, May 9, 2018

Bersatu Kita Teguh, Bercerai kita Runtuh


Oleh : Hafidhah Silmi

(Anggota remaja smart club Magetan - jatim)


Hari Jumat kali ini (27/4/2018) bisa dibilang hari yang begitu bersejarah bagi masyarakat di semenanjung Korea.

Setelah bertahun-tahun berseteru, hari ini menjadi langkah pertama bagi pihak Korea Utara dan Korea Selatan untuk menyatukan visi dan misinya dalam perdamaian.

Bagaimana tidak?

Pada hari ini Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, dan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, berjumpa untuk pertama kalinya.

Pertemuan dua pemimpin negara yang saling berseteru ini membuat publik bersemangat karena di era-era pemerintahan sebelumnya hal ini sendiri tak pernah terjadi.

Menilik dari sejarah yang ada, peristiwa ini juga menjadi kali pertama seorang pemimpin Korea Utara menjejakkan kakinya di Korea Selatan sejak Perang Korea di tahun (1950-1953)

Warga Korea pun makin sumringah kala melihat kedua pemimpin saling berjabat tangan di Garis Demarkasi Militer yang memisahkan korea utara dan korea selatan.

Hari ini, Korea Utara dan Korea Selatan selangkah lagi tinggal kenangan. Kedua pemimpin negara tersebut sepakat mengakhiri perseteruan. Karena hakikatnya kedua negara adalah satu. Terpisah pasca Perang Dunia II, 1945. Lalu meletus perang saudara The Forgotten War 25 Juni 1950 hingga 27 Juli 1953. Perang yang menorehkan jutaan luka.

Saya langsung ingat buku The Girl. Kisah nyata gadis 5 tahun, korban perang saudara dua Korea. Memisahkan dia dari ibu kandungnya. Diadopsi keluarga Amerika Serikat dengan segala tragedinya. Sempat tertukar orangtua asuh, hingga akhirnya bertumbuh menjadi wanita tanpa identitas: Korea atau Amerikakah dirinya?

Disebut Korea, memang ia lahir dan memiliki wajah Asia. Tapi, sama sekali tak mampu berbahasa Korea. Tak mengenal budaya nenek moyangnya. Disebut gadis Amerika, tapi mengapa wajahnya berbeda. Mata sipit, rambut tidak pirang, dan tinggi badan ala Asia. Padahal ia tinggal dan bertumbuh di lingkungan budaya liberal Amerika.

Jadilah ia teralienasi dari lingkungan. Dibully. Dilecehkan secara seksual sejak usia belia. Nyaris bunuh diri. Menyaksikan sahabat Koreanya --sesama anak adopsi-- yang memilih mengakhiri hidupnya. Kabur dengan pacar, hamil dan melepaskan anaknya diadopsi seperti nasib dirinya. Lee Myonghi, gadis itu, sungguh mengalami karma.

Namun, seiring usia, ia berhasil mengobati luka jiwa yang menganga dengan menulis dan membagi kisahnya. Sebuah kisah traumatis, yang boleh jadi menjadi aib bagi individu yang sulit melupakan noktah hitam dalam hidupnya.

Kisah yang mewakili korban-korban perang lainnya yang mengalami kesuraman serupa. Ending yang mengharukan adalah, setelah 37 tahun, Lee Myonghi akhirnya bertemu kembali dengan ibu kandungnya di Korea Selatan.

Kisah yang bagi saya membuka perspektif tentang banyak hal: dampak psikologis adopsi, kejamnya kehidupan liberal di Amerika Serikat, pedihnya perjuangan seseorang yang terasingkan dari negara nenek moyangnya, hingga kehangatan cinta keluarga sedarah setelah mengalami pahitnya sebuah perpisahan yang terpaksa. Sungguh, luar biasa penderitaan yang diakibatkan oleh sebuah peperangan.

Perang Korea, tak hanya membelah dua negara: Korea Utara dan Korea Selatan. Juga mencerai-beraikan orang-orang sedarah dari tanah leluhurnya. Adalah fitrah jika dua negara akan bersatu kembali. Ego politik kekuasaan pada akhirnya akan runtuh oleh bisikan hati nurani. Maka, persatuan Korea bukanlah mimpi. Sebagaimana Jerman Barat dan Jerman Timur telah menjadi bukti.

Analogi yang sama untuk negeri-negeri Muslim bekas negara Khilafah Islamiyah. Bukan mustahil jika kelak akan bersatu kembali. Sebagaimana prediksi-prediksi para pakar yang menyebutkan, abad Khilafah akan tegak kembali. Seperti Lembaga Intelijen Nasional (NIC) Amerika Serikat yang menyebut 2020 akan muncul kekuatan baru, salah satunya Islam. Bukan GR, bukan over pede. Tapi perputaran politik dunia itu sungguh tak terduga. Sekonyong-konyong Korea berdamai, siapa sangka?

Memang, umat Muslim yang tercerai-berai dalam banyak peta ini, belum menyadari, bahwa sesungguhnya mereka adalah satu negara. Ini karena dahulu negaranya begitu besar dan luas. Meliputi berbagai suku bangsa, ras dan golongan. Hingga beragam dan berbeda-beda, meski disatukan dalam aqidah Islam.

Juga, karena perpisahan itu begitu lama. Sejak 1924, ketika Mustafa Kemal Ataturk menghapuskan sistem Kekhilafahan yang terakhir berpusat di Turki. Akibatnya, Turki menjadi negara sekuler. Bahasa Arab digantikan Bahasa Turki. Budaya Islam berganti budaya sekuler yang liberal. (Persis seperti Korea Selatan yang ter-Amerika-kan setelah berpisah dari Korea Utara yang masih didominasi nilai-nilai luhur ke-Korea-annya).

Bangsa-bangsa yang semula menjadi bagian Turki Ustmani, akhirnya memisahkan diri. Sayangnya, pemisahan itu tidak menyisakan nama “induk negaranya”. Bukan terpecah menjadi Khilafah Utara, Khilafah Selatan, Khilafah Barat, Khilafah Timur, Khilafah Tenggara dan sebagainya. Saking banyaknya di segala penjuru arah.

Melainkan terpecah menjadi negara-negara bangsa bernama Irak, Iran, Turki, Arab Saudi, Yaman, Suriah, Mesir, Palestina, Libya, Qatar, Chechnya, Indonesia dst. Inilah yang membuat umat sulit menerima kenyataan tentang satunya mereka dalam wadah Khilafah. Padahal ini adalah sejarah tak terbantahkan.

Sungguh, andai umat Islam paham bahwa mereka tadinya adalah satu, niscaya peleburan negeri-negeri Islam itu adalah sebuah kerinduan. Lantas, bagaimana kans-nya jika kekuatan negara sekuler juga kian bersatu? Eropa bersatu. Jerman bersatu. Cina bersatu. Korea bersatu.

Justru itu. Jika Islam terlambat bersatu, merekalah yang akan memegang tampuk kekuasaan dunia dan menciptakan the new world order dengan ideologi liberalnya. Peta global tentang ini juga sudah banyak dikuliti oleh para pakar. Jangan sampai umat Islam hanya terpesona menyaksikan kejutan demi kejutan politik dunia tanpa bisa berbuat apa-apa.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!