Tuesday, May 8, 2018

Berkah Ramadhan Menuju Kebangkitan Umat


Oleh : Ummu Azizah fisikawati


Ramadhan segera tiba, mari kita sambut dengan penuh suka cita, walau kita sedang berduka karena saat ini umat Islam masih menderita. Ramadhan adalah bulan yang mulia, bulan yang serat dengan makna, bulan yang penuh ampunan, dimana pintu -pintu surga dibuka, janganlah kita biarkan amalan kita sia -sia, karena belum tentu tahun depan kita bisa berjumpa. 


Marilah kita jadikan ramadhan sebagai momentum peruabahan menuju ketakwaan agar syariat Islam diterapkan dalam kehidupan sehingga kita hidup dalam keberkahan. Kita jadikan ramadhan sebagai bulan kebangkitan, dimana pemikiran islam dijadikan patokan dalam perbuatan, Al-qur'an dan sunah dijadikan sumber aturan kehidupan sehingga kita kembali mengalami kejayaan.


Namun selayaknya kita berpikir apakah kaum muslim benar-benar telah meraih kebangkitan dan kebahagiaannya yang hakiki? Bangkitnya manusia adalah disebabkan pemikirannya tentang segala sesuatu, yang bermuara pada sebuah jawaban yang mendasar. Jawaban yang akan membentuk akidah manusia, yang akan menentukan tujuan hidup dan tujuan aktivitas yang dilakukan dalam kehidupan ini.


Selanjutnya sudahkah kita raih tujuan utama puasa di bulan Ramadhan? Allah swt telah menjelaskan kepada kita tujuan dan hikmah puasa yang harus kita raih, sebagaimana firman-Nya yang berbunyi:


﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾


“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa”. (QS al-Baqarah [2]: 183).


La’allakum tattaqûn (agar kalian bertakwa). Itulah hikmah yang akan diraih oleh orang-orang yang berpuasa menurut ayat ini, Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah rahimahulLah dalam kitabnya, Zad al-Muhajir ila Rabihi, juga berkata, “hakikat takwa adalah mengerjakan ketaatan kepada Allah atas dasar iman dan mengharapkan ridha-Nya, baik atas perkara yang Allah perintahkan maupun yang Allah larang, lalu melakukan apa saja yang Allah SWT perintahkan karena mengimani perintah-Nya dan membenarkan janji-Nya, serta meninggalkan apa saja yang Allah larang karena mengimani larangan-Nya dan takut terhadap ancaman-Nya."


Inilah taqwa, dan inilah yang diharapkan akan terwujud setelah menjalankan ibadah puasa, maka sudahkah taqwa itu terpatri dalam diri kita? Sudahkah kita laksanakan segala perintah dan larangan-Nya? Sudahkah syari’at-Nya kita terapkan untuk mengatur segala urusan kita?


Kita lihat di Indonesia, bagaimana khamr tidak dilarang penggunaannya dan tidak dihukum peminumnya, bahkan dijual bebas di banyak tempat di kota-kota besar. Prostitusi yang kian merajalela, bahkan kesannya difasilitasi oleh pemerintah. Hukum-hukum Islam yang dicampakkan dan diganti dengan hukum sekuler buatan manusia, yang tentu saja menyebabkan kerusakan dan kesengsaraan ditengah-tengah kehidupan umat Islam, kemiskinan, kriminalitas, rusaknya moral anak bangsa, juga pelecehan agama Islam yang akhir-akhir ini marak dilakukan, sungguh semua itu merupakan buah pahit dari dicampakkannya hukum-hukum Islam dalam mengatur kehidupan.


Padahal ketakwaan itu harus direalisasikan oleh individu, juga masyarakat yaitu dengan senantiasa terikat dengan hukum-hukum Allah SWT didalam kehidupan. Caranya adalah dengan menjadikan halal dan haram atau Syariah Islam sebagai standar dalam kehidupan. Dengan kata lain, yang halal diambil dan dilaksanakan sedangkan yang haram dijauhi dan ditinggalkan.


Maka sungguh tidak ada jalan lain untuk meraih totalitas dalam ketakwaan juga kebangkitan umat ini, selain dengan penerapan Islam secara kaffah yang dilindungi oleh konstitusi Khilafah. Allah SWT berfirman:


﴿ وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ﴾


“Jika saja penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan bagi mereka pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi”. (TQS al-A’raf [7]: 96).


Sesungguhnya ayat tersebut memerintahkan penduduk negeri agar mereka beriman dan bertakwa dalam kehidupan bermasyarakat, dilain sisi Allah SWT juga menjanjikan kepada siapapun yang beriman dan bertakwa, disaat yang bersamaan kemakmuran dan kesejahteraan dalam penghidupan dunia, sebaliknya jika kita berpaling dari ketaatan kepada-Nya, yakni dengan mencampakkan syariat-Nya, maka sungguh baginya kesengsaraan dan penghidupan yang sempit sebagaimana yang umat saat ini rasakan, Allah SWT berfirman:


﴿ وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى﴾


“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dia pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta”. (TQS. Thaha [20]: 124).


Oleh karenanya, metode yang ditempuh untuk meraih kemenangan dan kebangkitan hakiki adalah dengan menegakkan kekuasaan yang didasari dengan aqidah Islamiyah, yaitu pemerintahan Islam, Khilafah Rosyidah ‘ala minhajin nubuwwah. Inilah kekuasaan yang telah Allah SWT janjikan untuk meraih kebangkitan hakiki, bebas dari kemalangan, kerusakan, dan kesempitan hidup di dunia, juga bebas dari jilatan api neraka yang panas dan menyakitkan di akhirat kelak.


Untuk meraih kebangkitan hakiki yang hanya bisa diraih dengan Islam, Islam Rahmatan Lil’alamin yang mampu menjaga lima hak dasar setiap manusia, yang pertama (adz dzoruriah al khomsah ) yakni hifdzud diin (menjaga/melindungi penganut agama). Kedua hifdzun nafs (menjaga nyawa setiap manusia). Ketiga hifdzul ‘aql (menjaga manusia dari mengkonsumsi sesuatu yang menghilangkan akal). Keempat hifdzul maal (menjaga harta). Dan kelima hifdzun nasl (menjaga keturunan, kehormatan, kemuliaan wanita dan menjaga manusia dari perzinaan apalagi seks bebas).


Kata mutiara yang disampaikan Imam Malik ini semakin menegaskan kita, "bahwa hanya Islam lah satu-satunya jalan yang harus ditempuh umat ini untuk mengembalikan kebangkitan, kejayaan, dan keagungannya. Sebagaimana Islam pula lah yang telah membangkitkan umat ini dahulu, mengangkat mereka dari hinanya kekufuran dan kejahilan menuju agungnya dengan Islam."


Ramadhan menjadi inspirasi kebangkitan umat Islam. Sejak zaman Rasulullah hingga saat ini, Ramadhan dianggap sebagai bulan yang penuh dengan momentum–momentum kebangkitan umat. Seperti peristiwa perang Badar, Fathu makkah, perebutan Al quds, pembebasan Andalusia (Spanyol), bulan dimana di turunkannya Al-Qur'an dan lain- lainnya.


Kebangkitan umat Islam yang memasuki fase pembentukan Negara Islam di Madinah. Ujian dari kebangkitan itu pertama sekali terjadi di Badar yang terkenal dengan perang Badar. Ketika di Mekah, kaum muslimin tidak mampu melakukan perlawanan jika disiksa, akan tetapi sekarang kaum muslimin siap melawan serangan dari musuh-musuhnya.


Bulan Ramadhan merupakan ujian dari kebangkitan ummat Islam, karena pada bulan tersebut kaum muslimin berperang di daerah Badar dengan jumlah pasukan dan persenjataan yang sangat minim harus berhadapan  dengan pasukan musyrikin yang jumlah personilnya tiga kali lipat pasukan muslim  dengan dilengkapi persenjataan yang canggih pada masa itu. Ujian ini dilalui kaum muslimin dengan kemenangan gilang gemilang, begitu banyak pengorbana kaum muslimin untuk meraih kemenangan.


Kunci kebangkitan umat Islam saat ini yakni Nashr Allah atau pertolongan Allah. Hanya melalui pertolongan-Nya lah umat Islam akan kembali berjaya dan turun bersamanya keberkahan-keberkahan. Lalu pertanyaannnya adalah bagaimana kita mendatangkan pertolongan Allah?Jawabannya adalah kembali pada Islam dan Al-Quran. Menyampaikan dakwah yang membangkitkan dan menggerakan pemikiran umat.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!