Thursday, May 10, 2018

Bercanda Malah Berdosa, Kok Bisa?


Oleh : Tuti Rahmayani, dr

Komunitas Revowriter Surabaya


Sobat,


Kita semua senang orang humoris kan ya? Kalo di deket dia, rasanya hidup hepi. Pintar mengolah kata untuk membuat orang tertawa. 


Tapi, tahukah sob, kalo dunia perlawakan dihebohkan dengan aksi komedian yang tanpa rasa bersalah, para artis lawak ini menyinggung bahkan menista agama. Pastinya menimbulkan potensi konflik dan menganggu ketenangan hidup di masyarakat.



Bercanda dibutuhkan dalam kehidupan untuk menghilangkan stres dan penat keseharian. Namun, perlu diperhatikan bahwa bercanda tak sekedar membuat orang tertawa tanpa ada batasan. 



Gak papa bo'ong dikit.. Kan cuma bercanda. Eits, bohong tetep ndak boleh ya sob. Sebab bohong atau dusta adalah perbuatan tercela dalam Islam. Dan karenanya, bisa mendapatkan dosa bagi pelakunya. 



“Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya, Kecelakaan untuknya.” (Riwayat Abu Dawud)



“Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada perbuatan baik, dan perbuatan baik menunjukkan kepada surga dan sesungguhnya seseorang yang membiasakan jujur ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan, sesungguhnya dusta menunjukkan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa menunjukkan kepada neraka, dan sesungguhnya seseorang yang biasa berdusta ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari Muslim).



Nah, pastinya sobat muda ga mau kan jadi dosa gara-gara bercanda..



Sobat,


Sayangnya dunia pertelevisian kita sering diisi program komedi yang minus edukasi. Betul gak? Harusnya, karena sudah menjadi tayangan yang digemari, maka lawakan perlu mengakomodir nilai-nilai untuk menjaga moral masyarakat. Bukan justru malah memuat isi yang merusak moral masyarakat. Alih-alih mendidik, tayangan semacam ini justru membahayakan. Kenapa? Karena program ini pasti ditonton semua umur. Seringkali dalam tayangan bergenre komedi, disisipkan istilah-istilah pornografi, LGBT, fitnah, kebohongan, dll. Dengan dalih bercanda, semua seolah jadi boleh. Kan hanya bercanda.



Hal ini terjadi karena iklim kebebasan yang menjadi atmosfir dalam masyarakat. Atas nama kebebasan, lantas tak mengindahkan norma-norma yang sudah ada. Kebebasan seolah menjadi aturan baru yang menggantikan norma yang sudah ada. Padahal, masyarakat bisa tetap terjaga tenang dan terjaga, karena norma yang sudah ada. Dengan kebebasan (liberalisme) ini masyarakat bisa rusak moralnya.



Harusnya nih, kalo pelawak/komedian benar-benar jenius, maka dia kan mengkreasikan komedi tanpa dusta, tanpa menyakiti orang lain, tanpa kebohongan dan tanpa merusak moral generasi. Bahkan seharusnya bisa mencerdaskan masyarakat dan membuat jadi lebih bertakwa. Ini yang berpahala.



Tuti Rahmayani, dr


komunitas revowriter Surabaya


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!