Thursday, May 17, 2018

Benarkah Pendidikan Karakter Solusi Kerusakan Moral Anak


Oleh : Siti Ruaida. S.Pd


Baru- baru ini kita dihebohkan video viral perilaku tidak senonoh yang dilakukan oleh anak usia sekolah dasar, yang divideo dan di tonton oleh teman-temannya karena terjadi dilingkungan sekolah. Perilaku tidak senonoh ini tentu mengagetkan karena dilakukan oleh anak kecil yang tentu tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Umumnya mereka hanya meniru tanpa tahu apa akibatnya.

Kemungkinan anak ini pernah menonton adegan tersebut dan mencoba melakukan dengan temannya. Sungguh hal yang ironi dan menjadi kado buruk dihari pendidikan nasional tahun ini, ditengah gencarnya penanaman  dan pelaksanan konsep pendidikan karakter dalam kurikulum pendidikan nasional.


Kita harus mengurai kembali mengapa konsep pendidikan berkarakter yang menjadi kurikulum pendidikan nasional seakan-akan  belum mampu menyelesaikan persoalan moral yang merusàk anak didik hari ini. Persoalan kerusakan moral anak terus bermunculan mulai dari tawuran, narkoba, menyontek saat ujian, pergaulan bebas, pelajar membunuh teman bahkan membunuh guru dan sebagainya.


Sudah banyak upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut, bahkan sudah melibatkan lembaga yang terkait seperti LPAI (Lembaga Perlindungan Anak Indonesia), Komnas Ham dan seluruh elemen masyarakat,seperti BNN (Badan Narkotika Nasional) yang melakukan pencegahan dan pembinaan terhadap pelajar agar mengatakan tidak pada narkoba, serta berbagai program pendidikan dan pelatihan untuk peningkatan kualitas guru, bahkan gonta ganti kurikulum pun dilakukan, jadi sudah tidak terhitung banyaknya program yang dibuat pemerintah dan tentu tidak sedikit dana yang digelontorkan untuk mengatasi kerusakan moral anak, tetapi permasalahan tak kunjung selesai, bahkan seakan-akan anak semakin kreatif berekspresi melakukan tindakan yang tidak bermoral.


Ada apa dengan sistem pendidikan kita, sehingga tidak mampu melahirkan anak yang berkarekter terpuji seperti yang kita harapkan bersama. Langkah evaluasi harus kita lakukan secara serius supaya bisa menuntaskan masalah sampai ke akar.


Ada beberapa penyebab yang membentuk karakter anak hari ini. Sejatinya anak seperti kertas putih, jadi tergantung bagaimana kita memberi goresan dan warna terhadap anak. Di zaman now ini sudah tidak bisa dipungkiri, orang tua sibuk dengan pekerjaan, anak hanya diberikan uang dan pasilitas agar bisa menjadi anak manis,  padahal anak tidak hanya memerlukan materi tapi perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Anak  jarang dipeluk sehingga sulit membayangkan rasa cinta, kasih sayang serta empati, sehingga ruang batin anak kosong dan kering hal ini memicu kesedihan yang mendalam yang akhirnya dilampiaskan dengan perilaku yang menyimpang dari nilai moral dan akhlak.


Faktor lain yang menyumbang kerusakan moral anak adalah faktor lingkungan pergaulan dan pembiaran orang tua ketika mereka melakukan kekerasan semisal pada kawannya ,karena dianggap mempertahankan diri  sehingga dianggap hal yang wajar, seharusnya orang tua memberikan penjelasan kepada anak untuk menghindari tindakan kekerasan kepada teman , meskipun ada tindakan teman yang memancing emosi misalnya secara verbal seperti mengolok-olok ataupun kata kata penghinaan, hal ini bisa diupayakan diselesaikan sendiri oleh anak  secara baik,tanpa tindakan kekerasan, kalaupun tidak bisa diselesaikan bisa meminta solusi kepada orang tua dan guru. Hal ini untuk pembiasaan agar anak tidak emosional tapi mendahulukan tindakan santun dalam menyikapi masalah. Dalam hal ini orang tua harus siap menjadi pendengar dan membimbing anak sebagai upaya membantu anak dalam proses pendewasaan diri, untuk bekal mereka dalam menyelesaikan masalah yang muncul saat ini dan masa yang akan datang.


Faktor pemicu lainnya adakah faktor kemajuan teknologi yang belum siap diterima oleh sebagian besar masyarakat, bahwa tekhnologi memiliki sisi positif dan sisi negatif, yang parahnya kita lebih banyak menerima sisi negatif di bandingakan sisi positif karena kita sebagai pemakai bukan penghasil tekhnologi, ditambah tidak ada kontrol negara  sehingga apapun bisa diakses oleh anak, seperti pengaruh sosial media, acara televisi seperti sinetron yang merusak moràl karena berisi konten pornografi, pergaulan bebas dan kerasan, gank motor, tawuran, dan hura-hura. Pengaruh film yang tidak bermutu yang hanya mengumbar romantisme murahan, miskin cita-cita dan harapan masa depan yang menginspirasi, dan bahkan mau di tonton bareng entah dengan tujuan apa. Belum lagi video game yang merusàk daya kreatif anak dan konten kekerasan yang mencampakkan masa emas seorang anak, saat itu terlalu mudah untuk diakses anak zaman now hingga menginspirasi mereka melakukan tindakan kekerasan  àtau perbuatan yang tidak bermoràl.



Hal yang paling penting  adalah evaluasi kegagalan sistem pendidikan, untuk menciptakan arah dan pola pendidikan nasional untuk membentuk anak yang berkarakter, berakhlak mulia dan religius. Semua ini mengalami kegagalan adalah buah dari sekularisasi sistem pendidikan yang terbukti merusak akhlak anak. 


Minimnya pendidikan Agama yang hanya dua jam dalam seminggu, dan hanya sebatas teori serta minim aplikasi tentu tidak mampu membentengi anak dan membentuk akidah yang kokoh.

Diperparah lagi dengan program deradikalisasi disekolah.Dengan memojokkan Islam sebagai biang kekerasan dan terorisme, sehingga mencurigai siswa yang mengikuti kajian keagamaan.


Seperti pepatah buruk muka cermin dibelah, Kegagalan membentuk karakter anak yang berbudi  malah menyalahkan agama. Bahkan menakuti anak dan orang tua dengan dalih bisa terpengaruh Islam radikal. 


Lemahnya peran Orang tua khususnya ibu sebagai ummu warabatul bait  madrasah yang pertama bagi anak,  yang membentuk karakter berakhlak dan bermoral agar menjadi generasi tangguh.serta orang tua sebagai teladan utama bagi anak. Semisal keteladanan menutup aurat, disiplin sholat lima waktu,dan membuat suasana yang kondusif untuk ketundukan dan ketaatan kepada Allah. Sehingga anak termotivasi untuk selalu dalam ketaatan  kepada Allah, menghadirkan ruh atau kesadaran akan hubungan dengan Allah. Sehingga anak menyadari konsekuensi akan pertanggung-jawaban perbuatannya dihadapan Allah.


Di sekolah guru sudah seharusnya memberikan keteladanan  juga memiliki motivasi ruhiyah bahwa mengajar bukan hanya mengejar kurikulum dan gaji tapi penyambung amal sholeh. Iman dan akhlaq guru  adalah elemen yang sangat menentukan . Jadi luruskan niat, tanamkan keikhlasan, dan banyak melakukan amal sholeh serta senantiasa berdoa untuk kesuksesan anak didik, karena doa guru InsyaAllah di ijabah Allah.


Sedangkan individu-individu dalam masyarakat melaksanakan tanggung-jawab sebagai kontrol masyarakat  melaksanakan kewajiban berdakwah  baik secara pribadi dan dakwah berjamaah tetap dilakukan secara senergis dengan  aturan negara yang menjamin terlaksananya penerapan hukum.

Sehingga dapat mencegah dan meminimalisir kerusakan moral dan pelangkaran. 'Barangsiapa yg menyeru pada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala‐pahala orang‐orang yg mengikutinya, hal tsb tidak mengurangi pahala‐pahala mereka sedikitpun dan barang siapa yg menyeru pada sebuah kesesatan maka atasnya dosa seperti dosa‐dosa yg

mengikutinya, hal tsb tidak mengurangi dosa‐dosa mereka  sedikitpun (HR. Muslim)



Akhirnya peran negara menjadi sangat penting dalam menerapkan sistem pendidikan islam dan sistem pergaulan islam. Yaitu kurikulum yang sesuai nilai-nilai agama yang mengedepankan keterikatan dengan hukum Allah, tentu tidak ada pilihan lain karena segala sesuatu yang berasal dari sang pencipta pastilah sudah paripurna dan teruji._'Dari Aisyah ra bahwa Nabi SAW berdoa :  *Ya Allah, barangsiapa yg diberikan amanah mengurus urusan umatku lalu dia mempersulit mereka maka persulitlah mereka, dan barangsiapa yg diberikan amanah mengurus urusan umatku lalu dia berlaku baik kepada mereka, maka, perlakukanlah dia dengan baik pula*

HR.Muslim, Ahmad, Ibnu Hibban dll.

Semoga pemangku jabatan dan pihak yang berwenang yang diamanahi urusan untuk mengurus umat, khususnya masalah pendidikan benar-benar menjalankan amanah. Wallahu'alam



Penulis adalah Guru IPS di MTs Pangeran Antasari Martapura


Member Akademi Menulis Kreatif(AMK)

KalSel





Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!