Tuesday, May 8, 2018

Aturan Setengah Mateng


Oleh: Irah Wati Murni, S.Pd (Anggota Komunitas Revowriter 7, Ibu Rumah Tangga)


“Emangnya ganti presiden enak apa? Ada aturannya. Kita ini masyarakat punya aturan atau tidak?"


MEWABAHNYA fenomena pemakaian kaos yang bertuliskan #2019gantipresiden rupanya turut menyita perhatian Ketua Umum Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDIP), Megawati Soekarnoputri. 


Tak hanya Presiden Jokowi yang memberikan komentar pada fenomena tersebut, namun baru-baru ini Megawati juga turut serta menyumbangkan komentarnya. Ia memberikan sindiran keras kepada pembuat kaos tagar 2019 ganti presiden ketika berada dalam sebuah acara di Surabaya, Jawa Timur.


Dilansir Tribunpekanbaru. com (Ahad, 29/4/18), Megawati menilai bahwa orang yang membuat jargon ganti presiden tidak taat peraturan. 


"Lah kan lucu ya? Saya lihat saja, ada namanya kaos terus ditulis presiden ganti, terus saya mikir yang pake baju ini ngerti atau tidak?" kata Megawati.


“Emangnya ganti presiden enak apa?Ada aturannya. Kita ini masyarakat punya aturan atau tidak?,” ujarnya menanyakan kepada para pendengarnya.


Ada satu pertanyaan unik yang terlintas ketika mendengar Megawati mengomentari fenomena kaos ber-tagar ganti presiden tersebut. Di dalam video itu, Megawati menegaskan bahwa mengganti presiden tidak mudah, harus melewati aturan. “Kita ini masyarakat punya aturan”. 


Pertanyaannya : aturan dari siapa dan untuk siapa aturannya?


Sebagai seorang muslim tentu aturan yang wajib kita taati adalah aturan dari sang pencipta, Allah Subhanahu wa ta’ala bukan aturan selainnya. Jangan sampai ketika kita lebih menaati aturan yang dibuat oleh manusia daripada Allah dan Rasul-Nya. 



Pasalnya, aturan yang dibuat manusia bukan bersumber dari Al Qur’an dan Hadits. Justru cenderung banyak menggunakan hawa nafsu dan logika serta kepentingan tertentu. Sehingga hasilnya pasti selalu tidak sempurna dan aturan yang dibuat setengah mateng. Terus diperbaruhi dan selalu direvisi. Mengapa? Karena ia buatan manusia yang tidak sempurna, bukan dari Allah yang Maha Sempurna.


Karena aturannya setengah mateng, maka wajar saja jika banyak aturan-aturan yang dibuat dalam sistem ini selalu ada perubahan dan terus direvisi, bahkan terkadang aturan itu dibuat menyesuaikan dengan kepentingan kelompok tertentu. Hasilnya? 


Lihat saja berbagai kebijakan undang-undang saat ini yang banyak merugikan kaum yang lemah, orang miskin, dan tidak punya apa-apa. Bahkan saat ini banyak aturan yang cenderung melemahkan umat islam dan memecahbelah persatuan bersama. Sebaliknya, yang kaya semakin kaya, yang punya modal semakin terdepan, yang punya kepentingan semakin didahulukan. Jika hal ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin jika sistem saat ini bisa seperti sistem rimba di hutan. “Yang kuat adalah yang berkuasa, yang menang adalah yang punya kekuatan, bahkan yang tidak mampu maka siap-siap jadi hamba raja hutan.”


Mengapa hal ini terjadi?


Sebab sistem yang menaungi pemimpin saat ini bukan berasal dari islam-agama yang sempurna lagi paripurna-. Jika dianalogikan sistem itu ibarat sebuah mobil, sementara sopir adalah penguasanya.


Saat ini sejatinya yang harus menjadi pusat perhatian bukan pada sopir saja, tapi perhatikan juga kondisi mobil yang menjadi tumpangan sang sopir. Apakah mobil tersebut rusak atau memang sudah tamat riwayatnya. Apabila kondisi mobil tidak mendapat perhatian, maka percuma saja jika terus-menerus mengganti sopirnya. Sebab, yang bermasalah bukan pada sopir tapi mobilnya. Mobil tidak akan berjalan, meski sopir sudah lelah menyopirinya. Karena memang mobil yang ditumpangi adalah mobil rusak.


Ibarat mobil yang sudah rusak mau berapa kali berganti supirpun (sekalipun supir tersebut yang paling mahir ) mobil tersebut tidak akan pernah bisa jalan, sebab yang rusak itu mobilnya bukan hanya sopirnya.


Dengan demikian, penguasa atau rezim sejatinya hanyalah menjalankan apa yang telah ada sebelumnya dan menjalankan sistem yang sudah diterapkan. Sistem yang dimaksud disini adalah sistem demokrasi-kapitalis yang diterapkan di Indonesia. Sistem ini bukan berasal dari islam. Sistem ini berasal dari barat. Ia bukan dari pencipta manusia, tapi dibuat oleh manusia. Jika tak sempurna, maka wajar saja karena yang membuat bukan pencipta tapi yang dicipta. Karena manusia tidak akan pernah bisa menjadi sempurna, sementara Allah Maha Sempurna. Waallahu’alam. []






Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!