Saturday, May 19, 2018

Arah Hembusan Angin Terorisme


Oleh: Eka Purwanigsih, S.Pd

 (Pemerhati Gerakan Islam, Anggota Komunitas Menulis Revowriter).


Islam sangat menjaga kehormatan, kerukunan, ketenangan, ketentraman bukan hanya untuk kaum Muslimin, tapi juga untuk seluruh alam. Jangankan membunuh nyawa orang lain tanpa hak, bunuh diri saja diharamkan di dalam Islam. Islam juga melarang tindakan teror yang akan menimbulkan ketakutan, keresahan, kericuhan di tengah-tengah masyarakat seperti beberapa kasus teror yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia seperti Surabaya, Sidoarjo, Riau dan daerah lainnya menjelang Ramadhan beberapa hari yang lalu. Dalam berjihadpun di dalam Islam ada adab-adabnya seperti tidak boleh merusak tempat Ibadah, tidak boleh membunuh anak-anak, orang yang sudah menyerah, tidak boleh merusak pepohonan, dan lain-lain. Dari sini jelas bahwa Islam tidak mengajarkan terorisme. Terorisme bukanlah ajaran Islam.


Indonesia adalah Negara yang aktif menjalankan berbagai program perang melawan terorisme. Bisa dilihat dari adanya badan dan perangkat khusus untuk menanggulangi Terorisme. Penanggulangannya harus dengan penegakkan hukum yang menerapkan prinsip keadilan, keterbukaan, berdasarkan bukti yang kuat, dan manusiawi. Penegakkan hukum janganlah menggunakan cara-cara kasar dan brutal. Sebab, hal ini tidak akan meraih simpati publik, malah akan memunculkan kemarahan dan penolakan masyarakat. Dikhawatirkan bukannya menghetikan Terorisme, malah akan semakin memupuk dendam yang tidak berkesudahan bagi keluarga dan simpatisan terduga teroris.


Penanggulangan terorisme juga bisa menggunakan pendekatan mengeluarkan legal frame, misalnya dengan disahkannya Undang-undang yang berkaitan dengan war on Terorism. Serta dengn melakukan program deradikalisasi. Sayangnya pemberantasan terorisme di Indonesia tidak terlepas dari peran Amerika Serikat (AS). Seperti baru-baru ini, AS menawarkan bantuan untuk mengungkap dalang aksi terorisme yang belakangan terjadi. Ini merupakan bunuh diri politik. Awalnya perang melawan terorisme, kemudian beralih ke Isu Radikalisme. Ini berbahaya sebab seringkali narasi dan pelabelan teroris dan radikal oleh negara adidaya itu disematkan pada Islam.


Sebagai Negara adidaya, mereka tahu betul bahwa yang mampu menumbangkan keangkuhannya adalah Islam Ideologis. Mereka akan menghalangi dan menghadang tegaknya Institusi Islam dalam bingkai Khilafah. Yang akan mampu meghancurkan hegemoni, kerakusan dan penjajahan mereka. Merubah penghambaan haya kepada Allah bukan yang lain.


Isu terorisme semakin lama akan kehilangan momentum, seiring dengan makin cerdas dan kritisnya umat. Peraturan saat ini hanya bisa menghukum tindak kekerasan dan tidak bisa menghukum ide dan gagasan. Mereka tahu bahwa orang-orang atau kelompok yang betul-betul memperjuangkan Islam Ideologis akan senantiasa mengikuti metode dakwah Rasulullah. Berdakwah tanpa kekerasan. Maka digiringlah isu terorisme ini ke isu lain yaitu radikalisme. Semua ini akan bermuara pada pembuatan berbagai perangkat hukum seperti RUU anti terorisme yang sedang digodog dan didesak untuk segera digolkan, agar ide dan gagasan menjadi kategori yang dapat ditindak. Maka isu radikalisme sangat pas dan ampuh utuk membungkam dan menghadang orang-orang atau kelompok ini.


Namun, Isu Radikalisme seringkali dijadikan alat untuk memonstrenisasi ajaran Islam. Mulai dari celana cingkrang, berjenggot, hijab syar'ie, cadar, keluarga islami, dan terutama terkait Khilafah. Fenomena ISIS dengan karakter buruk yang ditampilkan, akan membuat umat takut akan Khilafah. Jika sudah begitu, Khilafah akan dimusuhi, dibenci, difitnah, termasuk orang atau kelompok-kelompok yang memperjuangkannya.


Padahal Khilafah adalah ajaran Islam. Akhirnya akan muncul stigma negatif dan kecurigaan terhadap rohis, remaja masjid, santri, pesantren, kajian-kajian keIslaman bahkan kampuspun dianggap sebagai tempat yang berpotensi melahirkan gerakan radikal.


Orang tua akan lebih khawatir jika anaknya ikut kajian keIslaman daripada nongkrong dipiggir jalan, pacaran, dan gaul bebas ala remaja sekarang. Umat Islam akan semakin jauh dari agamanya, syari'ah Islam, dan pemikiran Islam yang benar.


Kita sepakat mengutuk keras aksi terorisme yang menghilangkan nyawa, membuat ketakutan dan melanggar kemanusiaan memang kejam. Tapi mengkriminalisasi ajaran-ajaran Islam, menyudutkan, menstigmatisasi, melabeli, mengait-ngaitkan orang, pihak-pihak, kelompok-kelompok lurus yang tidak terkait dengan terorisme adalah jauh lebih kejam.




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!