Thursday, May 3, 2018

Antara KADES Dengan Para Pemuda Desa


Oleh : Diana Ummu Nusaibah (Revowriter Bogor)


Di negeri antah berantah. Lahirlah, seorang pemimpin desa yang anarkis, tapi belaga manis. Masyarkatnya dominan muslim. Di antara rakyatnya, ada yang memegang teguh ajarannya. Tapi, ada pula yang hanya termaktub dalam kartu identitas.

Pengajian membaca dan menghafal Al-Qur'an rutin diadakan. Dzikir akbar bebas tanpa pengawasan. Sa'i sambil bernyanyi pun tiada larangan. Bahkan, shalawat kepada nabinya di aransemen ke falsafah hidup desanya, tanpa ada pemborgolan. 

Tapi ada kejanggalan yang terang benderang di desa. Ustadz muda dengan follower ribuan, dilarang dakwahkan Islam. Hanya karena, terindikasi dari golongan terlarang. Dicekal dan dihina dengan pembatalan di berbagai masjid desa. 

Komunitas penyampai risalah di anggap salah. Dibubarkanlah ia. Tanpa bukti kesalahan. Dipersulit dengan dicabutnya surat izin komunitas desa. Kiyai desa di penjara tanpa ampun walau usianya semakin menua dan sakit melanda. Apa salahnya? Lagi, kata petugas kedesaan, dia otak yang membom rumah warga.

Kades pernah berpidato kepada warganya, agar 'menceraikan' agama dari politik. Tapi pencoblosan kades baru semakin dekat. Kades kelimpungan. Di dekatilah 'para pelaku agama'. Bernegosiasilah ia dan para pendukungnya. Meninta nasihat dan do'a. Rupanya dia lupa, saat para ulama dan jutaan rakyatnya main ke rumah megahnya. Diajak shalat jum'at berjama'ah dan diskusikan penghinaan agama. Ia malah tinggalkan rumah. 

Yang terbaru, kata kantip desa. Pak Kades membuat bank wakaf di pondok para santri dengan bunga 3%. Pak Kades membandingkan dengan bank resmi yang bunganya bisa sampai 20%. Padahal sekecil apapun bunganya, tetaplah dosa. Katanya untuk menggenjot ekonomi desa. Ya, desa mereka memang kaya. Tapi ekonominya kolaps dengan tumpukan hutang yang kian menggunung. 

PERNIAGAAN PARA PEMUDA TIADA RUGI 

Banyak sekali lulusan sarjana bahkan profesor di desa itu, tapi doyan membuat bualan sesat nan membodohkan. Syukur saja, Allah masih melindungi desa yang kian berada di ujung kehancuran. Dengan lahirnya anak-anak sholih yang tak hanya menghafal Qur'an tapi berjuang menerapkan. Anak-anak cerdas, yang menulis kebenaran. Mencatat sejarah kebobrokan dan mengejawantahkan ajaran Islam.

Lahir pula anak-anak kritis, yang tak hanya menganalisa desanya, tapi desa tetangga bahkan satu negeri. Membeberkan fakta dan analisa tajamnya berdasarkan Islam. Demi mencerdaskan rakyat. Menyembuhkan buta dari pencitraan. Menggebrak dan sadarkan berbagai pandangan. Bahwa sudah terlalu jauh dari Sang Pembuat Aturan. Sang Pencipta Alam.

Anak-anak itu tumbuh menjadi pemuda. Para pemuda yang tak pernah habis kobaran semangatnya. Bila lowbath segera dicharger kembali dengan asupan nutrisi kajian Islam. Walau komunitasnya dibubarkan, dakwah tak pernah berhenti mereka gencarkan. Para pemuda yang rela menjual raga, nyawa dan hartanya demi Dien-Nya. Penjara desa dan ancaman nyawa melayang, mereka hiraukan. Tiada lain, hanya sebuah pengharapan besar. Kelak tak hanya desanya, tapi seluruh pelosok desa menerapkan Aturan Tuhannya yang kini dicampakkan.

"Kami tengah berniaga dengan Rabb kami. Menjual kehidupan dunia yang semu dengan kehidupan hakiki. Biarlah nyawa terlepas dari raga. Biarlah waktu dan tenaga terkuras habis. Karena kami Lillah. Karena kami rindu Syariat-Nya menyebarkan rahmat ke seluruh alam." ungkap salah satu pemuda. 

_________________

اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَــنَّةَ   ۗ  يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَ يُقْتَلُوْنَ ۗ  وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰٮةِ وَالْاِنْجِيْلِ وَالْقُرْاٰنِ   ۗ  وَ مِنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسْتَـبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖ  ۗ  وَذٰ لِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung." (QS. At-Taubah 9: 111)

*Kisah fiktif yang terinspirasi dari berbagai tragedi yang terjadi di salah satu negeri



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!