Thursday, May 3, 2018

Anak Kita Mendadak "Islami"?


Oleh : Bhakti Aditya P (Islamic Social Worker)


Fenomena hijrahnya sebagian pemuda muslim menjadi muslim-muslimah sejati, menarik perhatian orang tua. Kekhawatiran, cemas, dan curiga pun muncul di benak mereka. Hal ini diawali ketika anak perempuan kita mulai memakai hijab syar'i, atau anak laki-laki kita mulai rajin tilawah dan shalat di masjid. Lantas bagaimana menyikapi hal tersebut?

Sekularisme sejak dulu

Para orangtua harus memahami bahwa kekhawatiran, kecemasan, dan kecurigaan yang muncul pada benak mereka adalah hasil dari penanaman faham sekuler yang sudah terjadi sejak dulu. Bahkan bisa jadi terjadi sejak para orang tua(yg sekarang mungkin usianya sekitar 50-65 tahun) menginjak usia balita. Pasalnya, faham ini sudah menjangkiti kaum muslim sejak sebelum runtuhnya kekhilafahan tahun 1924 silam. Apalagi orangtua kaum muslim Indonesia, yg dakwah Islam saja masuk pada saat kekuatan politik Islam melemah, sehingga mudah bagi penjajah untuk menanamkan pemahaman yang justru kontraproduktif dengan pemikiran-pemikiran Islam.

Kondisi ini diperparah dengan sistem pendidikan Indonesia yang memang sejak awal diusung dan dilaksanakan, sudah menganut faham sekuler. Faham sekuler (sekulerisme) adalah sebuah pemikiran yang menganut ide pemisahan kehidupan dengan agama. Tentu hal ini menjadi ancaman serius bagi kaum muslim, sebab dalam ajaran Islam, syariat Islam(aturan Islam) harus dilaksanakan sepenuhnya dalam kehidupan, tanpa dikurangi sedikitpun. Jadi, para orangtua ini terbiasa dengan pemisahan kehidupan dengan agama sejak dulu. Sehingga wajar, ketika para orangtua melihat fenomena anak-anaknya berhijrah(menjadi lebih taat dengan belajar melaksanakan seluruh titah agama), merasa khawatir, keheranan, dan ketakutan.

Singkirkan ego, belajarlah Islam

Bagi orangtua yang anaknya sudah mulai belajar melaksanakan seluruh perintah Alloh, jangan khawatir, bapak-ibu seharusnya bersyukur dengan kondisi tersebut. Sebab, Alloh telah menyelamatkan kehidupan anak bapak-ibu dari rusaknya pergaulan, lingkungan, gaya hidup, dan moral. Artinya, justru Alloh subhaanahu wa ta'ala telah menyelamatkan masa depan keturunan kalian.

Pada posisi ini, orangtua harus memahami kondisi psikologis anaknya. Harus menurunkan egosentris, dan mulailah mempelajari pemikiran mereka. Mempelajari Islam dari sudut pandang anak kita adalah langkah awal yang tepat untuk memahami cara berfikir dan pemahaman agama anak kita. Apakah kemudian harus kita khawatirkan, atau justru harus kita dukung dan ikuti langkah hijrahnya.





Sikap terbaik adalah mendukungnya

Positif reinforcement (penguatan dan dukungan yang positif berupa perkataan dan perbuatan) dari orang tua adalah hal yang paling dibutuhkan oleh anak ketika mereka mulai mempelajari dan mengamalkan Islam yang mereka baru fahami. Tekanan dan larangan justru akan membuat mereka tidak terkontrol dan cenderung tertutup kepada orangtuanya. Sikap berlebihan yang dimunculkan orangtua terhadap anaknya yang baru belajar mengamalkan Islam tersebut akan menghancurkan kepercayaan anak terhadap orangtua. Apalagi justru selain melarang, orang tua pun tidak bisa menunjukkan teladan yang dapat mengambil perhatian anaknya yang sedang semangat-semangatnya mempelajari agama.

Ajak mereka diskusi, ambil pengetahuan darinya, bisa jadi orangtua belum memahami apa yang difahami oleh anaknya. Bahkan mungkin, anak tersebut justru membawa ilmu Islam yang dibutuhkan oleh bapak-ibu sekalian. Dukungan terhadap mereka, akan menguatkan anak kita untuk mencari Islam dengan ajaran yang benar. Keterbukaan anak kita tentang hijrahnya mereka adalah bukti bahwa mereka mulai percaya orangtuanya bukanlah ancaman bagi dirinya dan apa yang sedang mereka pelajari.

Konsultasi dengan Ahlinya

Orangtua harus konsultasi kepada ahli, khususnya di bidang agama. Menyampaikan info tentang pemikiran-pemikiran anaknya yang telah ia gali dari diskusi-diskusi mereka dengan si anak. Memilih ahli ini tentu harus hati-hati. Sebab, mencari ulama di akhir zaman seperti sekarang ini, bagaikan mencari permata di tengah gurun pasir. Sulit.

Ketika orangtua telah menemukan seorang ustadz atau ulama yang faqih, bijak, dan memiliki pemahaman luas, orangtua harus mencari sumber rujukan lain selain ustadz tersebut sebagai pembanding. Bisa ustadz yang lain, atau buku bacaan, atau juga mungkin bertanya kepada orang tua lainnya yang dianggap telah berhasil mengantarkan anaknya menjadi anak-anak yang shalih lagi shalihah.

Poin-poin tersebut tentu akan berbeda-beda pada tatanan implementasinya. Orangtua harus mampu menciptakan dinamika yang positif dalam hal ini dengan mengacu poin-poin pentingnya.

Penulis doakan, semoga, bapak-ibu dikaruniai anak yang shalih lagi shalihah. Kalau pun belum, penulis doakan semoga anak-anak kita segera mendapat hidayah dan kembali ke jalan yang lurus, sesuai apa yang Alloh ridhoi. Aamiin ya rabbal 'aalamiin.

Walloohul muwaafiq



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!