Saturday, May 19, 2018

Anak Ingusan dan Bom Ditangannya


Oleh: Kamiliya Jannah (Anggota komunitas revowriter)


Pernahkah anda melihat ilustrasi foto anak Palestina yang menghadang mobil Tank Baja hanya berbekal kerikil? Disitu digambarkan perjuangan sejak dini anak-anak Palestina mempertahankan tanah air tercintanya dari serangan tentara Yahudi Israel. Melihat ini, tentu semua sepakat haru dan memberi respon kekaguman bahkan teriakan takbir atas aksi heroik ini.


Namun apahal jika yang terjadi adalah anak-anak yang ikut terlibat dalam aksi terorisme?

Peristiwa pengeboman beruntun yg terjadi kemaren menghadirkan fakta ini.


 -Aksi teror bom di Surabaya melibatkan sejumlah anak dalam keluarga bom bunuh diri. Bom bunuh diri di Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro Surabaya, dilakukan oleh seorang ibu dan 2 anak perempuannya. Ketiganya tewas di lokasi.


Sementara bom bunuh diri keluarga di Mapolrestabes Surabaya juga membawa seorang anak, namun selamat setelah terlempar 3 meter dari titik peledakan.


Meledaknya bom di Rusun Wonocolo, Sidoarjo, juga menewaskan seorang anak, sementara 3 lainnya selamat, dan mengalami luka serius sehingga harus dirawat intensif di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim.


Polisi juga mengamankan 3 anak lagi dari penangkapan terduga teroris di Jalan Sikatan, Kelurahan Manukan Kulon, Kecamatan Tandes, Surabaya( Http://regional.kompas.com, Rabu (16/5/2018).


Keterlibatan anak dalam aksi kejahatan tentu membuat kita miris dan prihatin. Anak adalah aset berharga yang seharusnya diharapkan kelak menjadi generasi muda penerus peradaban. Mereka sebagai tunas, potensi, penerus cita-cita perjuangan bangsa sudah seharusnya diasuh, dilindungi, dan dididik dengan baik. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.


Sehingga kepada mereka haruslah ditanam kan nilai nilai agama yang lurus, adab dan norma-norma kehidupan.


Dalam hal ini Ideologi orang tua sangatlah berperan penting. Melalui orang tua dan lingkungannya anak-anak ini kelak hendak di arahkan dan dicetak seperti apa.


Allah SWT menciptakan manusia dalam keadaan fitrah. Anak-anak Bersih suci seperti kertas putih. Orangtua dan lingkungan akan mewarnai dan membentuk pemahaman dan karakternya

Rasullah SAW Bersabda:


كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَة فَأبُوْاهُ يَهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ



Artinya: “Tiap-tiap anak dilahirkan diatas fitrah maka ibu dan ayahnya lah yang mendidiknya menjadi orang yang beragama yahudi, nasrani, dan majusi” (HR, Bukhari).


Orang tua adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas hal ini.


Menanamkan ideologi yang benar kepada anak akan menghasilkan anak pejuang peradaban yang tangguh. Namun jika orang tua menanamkan ideologi yang keliru seperti kapitalisme sekuler atau bahkan berbahaya seperti terorisme maka akan menghasilkan anak-anak dengan pemahaman yang menyimpang. 


Bayangkan seorang anak dengan bom yang ada ditangannya bersiap hendak meledakkan seluruh kota, yang berisi warna sipil tak bersalah. Ini tentu sungguh membahayakan. Gambaran monster mengerikan dalam tubuh seorang anak kecil.


Atau seperti kisah seorang anak berusia hampir lima tahun di Arab Saudi menembak ayahnya hingga tewas karena tidak dibelikan play station. Menurut pihak kepolisian Jizan Selatan dalam harian Saudi Asharq, anak tersebut mengamuk lalu menembak kepala ayahnya. Ini ia lakukan ketika sang ayah melepas bajunya dan meletakkan pistol di meja. Sang anak mengambil dan menembakkan ke arah ayahnya.


Maka alih-alih menjadi aset bangsa yang di andalkan, anak-anak ini justru bisa merusaknya.


Kisah-kisah tersebut memberikan pelajaran bagi kita, bagaimana pentingnya mengendalikan anak. Pola asuh yang menentukan pembentukan karakter anak


Ini adalah PR kita bersama sebagai orang tua.


Sesungguhnya anak-anak adalah amanah dan ujian bagi orang tua. Cara orang tua menghadapi masalah, kesabaran dan  kesungguhan mendidik akan menjadi ladang pahala.


Seorang ibu memilki peran yang sangat luar biasa dalam mendidik anak-anaknya, mereka adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ibu ibarat sekolah, ia adalah kunci untuk mempersiapkan suatu generasi yang kokoh dan kuat.


Untuk itu sangat penting untuk terlebih dahulu menciptakan orangtua dengan pemahaman Islam yang lurus yang nantinya akan mencetak generasi penerus yang lurus pula.


Tak cukup hanya dari orangtua. Harus pula tercipta lingkungan yang kondusif  dengan pemahaman yang lurus. Maka Ini adalah peran penjagaan oleh negara.


Rasulullah SAW sang “TELADAN MANUSIA” telah menyatakan bahwa anak merupakan buah hati dan makhluk suci. “Anak adalah ‘buah hati’, karena itu termasuk dari wangi surga” (HR Tirmidzi). Beliau telah menetapkan dan memberi contoh langsung bahwa negara lah yang menjadi penanggung jawab utama bagi semua kebutuhan rakyatnya termasuk anak. Dalam hadits riwayat Imam bukhari-muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya” (HR.Bukhari dan Muslim).


Anak sebagai bagian dari masyarakat juga harus mendapatkan hak-haknya secara utuh dan benar sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya.


Dengan adanya penjagaan Negara, akan menjaga pemahaman orang tua dan lingkungan membersihkan dari pemahaman yang keliru


Dengan demikian hanya dalam naungan Khilafah Islamiyah sajalah anak-anak Indonesia termasuk anak-anak di dunia mampu menjalani kehidupannya dengan bahagia, ceria, menyenangkan dan berkualitas, karena adanya jaminan yang pasti dari Allah SWT. 


Sekarang saatnya setiap kaum muslimin yang memiliki kepedulian untuk menuntaskan permasalahan yang dihadapi anak-anak sudah selayaknya mengambil Islam dan Khilafah sebagai diin dan sistem yang sempurna dan menjanjikan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh alam.

Wallahu a'lam bishowab




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!