Friday, May 11, 2018

Anak Adalah Amanah, Lindungi Dari Kekerasan



Oleh: Epi aryani 

(Ibu 3 anak dan anggota komunitas revowriter) 



Penasaran dengan video tentang bapak tendang anak yang ramai dibincangkan di media sosial beberapa waktu lalu (liputan6.com).


Ditengok lah.


Sesudah nya perasaan jadi campur aduk. Apalagi sesudah punya anak, semakin sensitif kalau menyangkut kekerasan terhadap anak. Suka tiba-tiba ingat ke anak sendiri. Bagaimana jika anak saya yang ada diposisi itu. Sedih.


Terlihat dari kamera cctv di area bermain dalam sebuah pusat perbelanjaan, seorang anak laki-laki usia balita sedang bermain ayunan. Melaju kencang dengan kecepatan yang stabil. Berayun tinggi bolak-balik. Wus.. wus..


Kemudian anak batita perempuan berjalan ke arah belakang ayunan dan sudah bisa dipastikan, dia tertabrak dan jatuh tersungkur.


Orang-orang yang ada disekelilingnya mendekat, termasuk seorang bapak yang langsung mendaratkan tendangannya ke punggung anak laki-laki yang masih duduk di ayunan. Yang kemudian diketahui sebagai bapak dari anak batita perempuan yang terpelanting.


Kejadian ini langsung direspon oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang memperingatkan bahwa orang tua untuk tidak menggunakan kekerasan (detik.com) dan pelaku terancam pidana 5 tahun penjara (liputan6.com).

 

*Anak, antara tanggung jawab orang tua, masyarakat dan negara* 


"Telah diangkat pena, seorang anak sampai ia baligh" (HR. Tirmizi) 


Anak yang belum baligh sejatinya belum terbebani hukum syara, apalagi masih usia balita yang belum bisa membedakan baik dan buruk. Terlebih dari kejadian tersebut murni kecelakaan karena si penabrak dan tertabrak sama-sama tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya.


Sebagai orang tua, kita lah yang seharusnya bijak menyikapi. Misal, orang tua mengawasi anak yang bermain, mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.


Ketika orang tua lalai kemudian terjadi kecelakaan, maka orang tua pelaku mengajak anaknya untuk bersama-sama meminta maaf dan bertanggung jawab mengobati sampai tuntas jika terjadi cedera. Kemudian orang tua korban mengajak anaknya untuk bersama-sama memaafkan. Kemudian kedua belah pihak sama-sama _legowo_ . Selesai.


Namun nyatanya tidak seperti itu. Tentu karena ada beberapa faktor penyebab. Yang juga menjadi penyebab umum masih maraknya kasus kekerasan terhadap anak.


Pertama, orang tua belum memahami hakikat anak adalah tanggung jawab orang tua sampai dia baligh (nafkah dan pengasuhan/ perlindungannya). Karena sejatinya dia belum bisa terbebani hukum syara, tersebab akalnya yang belum sempurna. Orang tua akan dimintai pertanggung jawabannya kelak dihadapan Allah tentang anaknya, sesuai dengan kabar dari Rosululloh SAW


"... Seorang lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Sorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya dan ia akan ditanya tentang mereka. ..." (HR. Bukhari dan Muslim) 


Kedua, abainya masyarakat pada kondisi lingkungan. Merasa bukan urusannya jika terjadi kasus kekerasan terhadap anak dalam suatu keluarga. Tidak ada pemberian peringatan atau aktifitas saling menasehati ketika melihat suatu kedzoliman.


Ketikapun mau terlibat tidak ada keuntungan yang akan didapat, malah membuatnya terjebak dalam keribetan seperti dimusuhi pihak keluarga pelaku kekerasan atau penyelamatan si anak yang memberatan secara ekonomi karena harus dibiayai kehidupannya atau birokrasi panjang dan berliku menuju pihak yang berwajib.


Padahal islam telah memberikan tuntunan untuk bersikap peduli atas kerusakan yang terjadi di masyarakat.


"Jika engkau melihat kedzoliman/kemunkaran, maka cegahlah dengan tangan. Jika tidak mampu, maka cegahlah dengan lisan. Jika tidak mampu, maka cegahlah dengan hati, dan itulah selemah-lemahnya iman" (HR...)


 *Solusi Islam* 


Penetapan sanksi bagi pelaku kekerasan oleh negara, nampaknya belum cukup untuk menghilangkan maraknya kasus kekerasan pada anak. Karena setiap tahun kasusnya semakin meningkat.


Harus ada perubahan mendasar di tengah masyarakat, sehingga kehidupan hanya berdasar pada aqidah dan tolak ukur yang berasal dari syariat islam.


Islam menempatkan anak pada posisi strategis sebagai aset generasi di masa depan. Karenanya islam memeberi aturan yang menjamin tercapainya fungsi strategis anak dengan aturan yang komprehensif di berbagai aspek kehidupan termasuk persaksian.


Negara menerapkan sistem ekonomi berbasis islam, sehingga terjamin kesejahteraan masyarakat. Karena tidak sedikit kasus kekerasan terhadap anak terjadi disebabkan karena faktor ekonomi/kemiskinan.


Kemudian memberikan sanksi tegas, yaitu qishos atas tindakan kekerasan yang diterima anak. Mata balas mata. Nyawa balas nyawa. Selain punya efek jera, pemberian sanksi secara syar'i juga sebagai peluntur dosa bagi pelaku tindak pidana.


Dengan demikian, optimalisasi peran orang tua, masyarakat sampai dengan negara hanya bisa terwujud hanya dengan penerapan syariat islam.


Ketiganya bersama-sama menciptakan suasana kondusif bagi anak untuk bertumbuh dan berkembang. Sehingga anak tidak lagi berada dalam bayang-bayang tindak kekerasan


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!