Monday, May 21, 2018

Agar Tulisanmu Berjiwa


Oleh: Nor Aniyah, S.Pd


Sulitkah menjadi penulis itu? Sebenarnya mudah, namun perlu jerih payah. Untuk bisa menulis memang dibutuhkan wawasan luas. Seringlah membaca. Bukan hanya terbatas pada buku saja. Bacalah diri, lingkungan, masyarakat, dan fenomena apa yang ada di alam semesta ini. Hal itu akan membantu kita menjadi penulis yang peka. 


Memang kita harus selalu mengasah kecerdasan pikiran dan kepekaan perasaan, supaya dapat memaknai setiap momen yang ada. Munculkanlah kesadaran pada diri kita bahwa hal ini bisa dipelajari. Mahir menulis nggak dibawa dari lahir.  


Bagaimana agar tulisan bisa berjiwa? Ya, maksudnya di sini adalah agar bisa menghidupkan dan memberikan pengaruh positif (kebaikan) dengan keberadaan tulisannya. Maka sebelumnya perlu tahu apa tujuan menulis. Kenapa kamu memilih menulis dalam hidupmu? 


Hidup ibarat sebuah perjalanan. Penting punya visi dan misi. Akan ke mana kamu mau berjalan? Jalan mana yang akan kamu pilih? Dan apa yang ingin kamu siapkan untuk bekal di perjalanan itu? Jawabannya, tergantung pilihan kita masing-masing. 


Akal. Sesuatu yang hanya diberikan Allah SWT kepada kita, tidak kepada makhluk yang lain. Dengan adanya akal, manusia bisa berpikir dan menyerap pengetahuan. Dengan akal manusia bisa mempertimbangkan yang baik dan buruk. 


Setelah direnungi, ternyata di dunia kita tidak diciptakan dengan sia-sia. Kita diciptakan oleh Allah SWT dan kelak akan kembali kepada-Nya. Wah, hidup di dunia hanya sekali! Berarti kudu melakukan sebaik-baik amal  sekaligus membuat karya besar selama hidup ini. 


Mau membuat apa ya? Nggak usah bingung. Islam sebagai "way of life" telah memberikan kita arah pandangan. 


Firman Allah SWT: "Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama bagimu..." (TQS: Al-Maidah: 3). 


Jalani hidup dengan berpedoman pada petunjuk aturan Islam. Lakukanlah yang kita bisa. Menulis misalnya. Dan ciptakan tulisan yang dapat dibanggakan kelak di hadapan-Nya. Itulah, sebaik-baik tujuan seorang penulis. 


Nah, kalau kita lihat ke sejarah, sebelumnya peradaban Islam juga memiliki peradaban emas. Hal ini di antaranya dengan tingginya kemampuan literasi dan lahirnya banyak ilmuan dan ulama besar beserta karya-karya fenomenal dari pendahulu kita kaum Muslim.


Pernah membaca tentang abad kejayaan Islam? Oke. Akan dikisahkan kembali deh dari buku yang pernah dibaca. Supaya kita semua jadi makin bangkit semangat juangnya.


Sepanjang masa Kekhilafahan Islam, khususnya Kekhilafahan 'Abbasiyyah,' perpustakaan-perpustakaan telah tersebar luas di berbagai wilayah Kekhilafahan, seperti: Baghdad, Ram Hurmuz, Rayy (Raghes), Merv, Bulkh, Bukhara, Ghazani, dan sebagainya. Bahkan, di setiap masjid juga terdapat perpustakaan. 


Pada abad ke-10, misalnya di Andalusia telah terdapat 20 perpustakaan umum. Di antara yang terkenal yaitu Perpustakaan Umum Cordoba, yang memiliki tak kurang dari 400 ribu judul buku. Ukuran jumlah yang luar biasa untuk masa itu. 


Empat abad setelahnya, Perpustakaan Darul Hikmah di Kairo, mengoleksi tak kurang dari 2 juta judul buku. Sementara, dalam catatan Chatolique Encyclopedia, Perpustakaan Gereja Canterbury, yang katanya terlengkap pada abad ke-14 hanya punya sekitar 1800 judul buku saja. 


Kemudian, Perpustakaan Umum Tripoli di Syam, yang pernah dibakar oleh Pasukan Salib Eropa, telah mengoleksi lebih dari 3 juta judul buku, termasuk 50 ribu eksemplar Al-Qur'an dan tafsirnya. Pernah pula di Andalusia terdapat Perpustakaan al-Hakim yang mempunyai 40 buah ruangan. Tiap ruangan berisi tak kurang dari 18 ribu judul buku. Jadi, totalnya kurang lebih sekitar 720 judul buku. 


Kemajuan masa Islam pada saat itu pernah digambarkan oleh Blom dan Blair bahwa, "Rata-rata tingkat kemampuan literasi (kemampuan melek huruf membaca dan menulis Dunia Islam di abad pertengahan lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa. Karya tulis ditemukan di setiap tempat dalam peradaban ini." (Jonathan Bloom & Sheila Blair, Islam - A Thousand Years of Faith and Power, Yale University Press, London, 2002, p-105). 


Begitu pun juga, tanpa kehadiran para ilmuwan dan cendekiawan Muslim yang telah mewariskan sebuah peradaban yang agung, kemajuan Barat saat ini tidak mungkin dapat terjadi. Hal ini, secara jujur diakui oleh seorang cendekiawan Barat sendiri, yaitu Emmanuel Deutscheu yang berasal dari Jerman. 


Ia menyatakan bahwa, "Semua ini (yakni kemajuan peradaban Islam) telah memberikan kesempatan baik bagi kami untuk mencapai kebangkitan (renaissance) dalam ilmu pengetahuan modern. Karena itu, sewajarnyalah kami senantiasa mencucurkan air mata tatkala kami teringat akan saat-saat jatuhnya Granada." (Granada merupakan benteng terakhir Kekhilafahan Islam di Andalusia yang jatuh ke tangan orang-orang Eropa). 


Sama seperti mereka. Sebagai Muslim, kita juga punya "pandangan hidup" atau biasa disebut dengan "Mabda Islam." Ketika ia telah terinternalisasi dalam diri, kita tidak akan mampu untuk menyimpannya. Karena memang mabda Islam  itu sifatnya menggerakkan, tidak bisa diam.


Nah, apa keterkaitannya dengan menulis? Biasanya orang kebingungan, apa yang bisa membuatnya terus bertahan, konsisten untuk menulis? Memang semangat itu wajar kadang naik turun. Hingga penulis bisa kehilangan jiwa untuk menulis. 


Bila kita semua punya mabda khas, yakni Islam kita tidak akan stagnan. Pemahaman dan keyakinan kita pada hal inilah yang akan selalu mendorong kita untuk menyampaikan, salah satunya melalui tulisan. Jadi, akan terus menyampaikan kebenaran.


Terlebih, dalam hidup ini akan selalu ada pertarungan. Ibarat perang, ini pun terjadi di dunia pena. Misalnya, tersebarnya opini jahat yang menyudutkan kaum Muslim. Tulisan-tulisan yang sengaja dibuat untuk menghalangi persatuan dan kebangkitan Islam. Semua itu harus kita lawan pula dengan tulisan. 


Maka, yang haq (benar) harus menang bisa melawan kebathilan (yang salah). Di sinilah pentingnya peran kita untuk menggoreskan pena, mengayunkan jari untuk membela yang shahih (benar). Semoga kita termasuk dalam golongan yang berjuang dan memperoleh kemenangan hakiki. 


Sebagaimana firman-Nya: "Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru pada kebaikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang yang beruntung." (TQS. Ali-Imran: 104)


Namun, ada yang perlu diingat juga. Dalam menulis sangat perlu adanya ilmu. Maka bekali diri kita dengan keilmuan (tsaqofah) Islam sebanyak-banyaknya. Harus makin giat Ngaji Islam. Mencari ilmu, diamalkan, lalu disampaikan lewat lisan dan tulisan. Sampai kemuliaan sistem Islam bisa hadir kembali ke tengah bumi. 


So, let's move on! Pilihan di tangan kita. Mau jadi pemain, penonton atau masyarakat luar stadion. Di antara ketiganya, hanya pemain yang punya kesempatan dapat hadiah dan meraih kemenangan. Pastinya, mainkan penamu untuk mengikat makna dan hasilkan tulisan berjiwa.[]



*) Pemerhati Masalah Sosial dan Remaja, Penulis dari Komunitas Muslimah Banua Menulis. Berdomisili di Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!