Monday, May 14, 2018

Agar Ramadhan Tak  Sekedar Taubat Musiman


Oleh Suhaeni, M.Si

(Dosen dan Pemerhati Remaja)


Bulan suci yang dinanti tinggal menghitung hari. Tidak terasa putaran waktu begitu cepat. Siang berganti malam, malam berganti siang. Kini Ramadhan yang dirindu telah di depan mata. Sungguh kenikmatan yang sangat luar biasa bisa dipertemukan kembali dengan bulan yang penuh ampunan ini. 


“Allohuma Ballighna Ramadhan”

“Ya Alloh sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan”

(Ini merupakan doa yang selalu diulang-ulang oleh Rasulallah menjelang Ramadhan)


Rasa syukur yang luar biasa terpanjat ketika Alloh memberikan anugerah umur yang panjang kepada kita. Tentu dengan segala macam kenikmatan yang telah kita terima berupa nikmat sehat, ilmu, rizki, sahabat dan dan keluarga yang mendukung kita menjadi pribadi yang lebih baik.


Terkadang kita terlena dengan aktivitas duniawi yang datang silih berganti. Hingga kita tidak sempat atau enatah pura-pura lupa untuk melunasi hutang puasa pada Ramadhan tahun kemarin. Kini bulan suci telah di depan mata. 


“Hayo, ngaku siapa yang belum bayar hutang puasa Ramadhan tahun kemarin?”


Komitmen diri sendiri untuk melakukan peningkatan ibadah pada Ramadhan kemarin pun belum terelasisai. Yup, waktu ibarat roda yang terus berputar yang akan menggilas kehiduan kita bila tidak pandai memanfaatkannya. 


Bulan Ramadhan, bulan yang dinanti-nanti oleh kaum meuslimin di seluruh dunia. Karena bulan suci ini penuh rahmat, keberkahan dan pengampunan. Di bulan suci inilah diturunkannya al-Quran ke langit dunia (Baitul Izzah) yang kemudian diturunkan ke dunia berangsur-angsur selama 23 tahun. Bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Syaitan-syaitan dibelenggu di bulan ini.


Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan didasari keimanan dan hanya berharap keridlaan Alloh SWT semata, maka ia akan bersih dari dosa sebagiamana bayi baru dilahirkan. Pada bulan ini juga setiap pahala akan dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali lipat. Bahkan lebih dari itu. 


Bulan Ramadhan juga merupakan bulan sabar, jihad dan kemenangan. Sejarah Islam membuktikan kepada kita bahwa di bulan Ramadhan Alloh memberikan pertolongan kepada kaum muslimin dengan kemenangan dalam pembebasan kota Mekkah (Futuh Makkah), perang badar dan berbagai kemenangan lainnya. Seperti penaklukan Andalusia (Kini Spanyol dan Portugis). Bukan itu saja, bulan Ramadhan juga merupakan bulan membaca Al-Quran, bulan mengeluarkan zakat fitrah, bulan memakmurkan mesjid, bulan taubat kepada Alloh. Itulah Ramadhan, bulan yang semua waktunya merupakan kemuliaan dan keutamaan. 


Namun sayang seribu sayang, banyak orang yang melewatkan Ramadhan begitu saja. Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja. Sebagimana sabda Nabi shallalluhu’alaihi wassalam:


رُبَّ صَاىِٔمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ

“Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah no.1690 dan Syaikh Albani berkata, ”Hasan Shahih.”)


Hal tersebut terjadi karena ia tidak berpuasa dari apa yang Allah Ta’ala haramkan, ia seakan menganggap bahwa puasa itu hanya menahan dari pembatal-pembatal puasa saja. 


Fenonema Ramadhan selalu disambut dengan semarak. Bahkan semaraknya tidak ada yang menyamainya. Secara visual, bukan hanya kegiatan shalat tarawih di mesjid dan mushola, tapi acara buka puasa bersama (bukber) bersama sahabat atau rekan kerja seolah menjadi agenda wajib yang tidak boleh terlewatkan. Terlepas dia puasa atau tidak. Bahkan banyak di masyarakat menjadikan Ramadhan sebagai musimnya untuk tobat, musimnya taat, musimnya jadi orang baik dan sebagainya. Akan tetapi, jika Ramadhan usai, maka selesai pula tobatnya, selesai pula jadi orang baiknya. Padahal Ramadhan ini adalah momen terbaik sepanjang hidup kita. So, maksimalkan sebaik-baiknya. Jangan biarkan Ramadhan berlalu begitu saja. 

Berikut ini ada beberapa hal yang perlu dipahami, agar kita tidak menajadikan Ramadhan hanya sekedar sebagai taubat atau ibadah musiman semata.


Kenali apa tujuan adanya Ramadhan

Adanya Ramadhan bertujuan agar kita menjadi orang bertaqwa. Bukan bulan bersenang-senang tapi bulan pendidikan, penggemblengan, latihan dan kesungguhan untuk membentuk karakter seseorang mendapatkan gelar taqwa, bukan gelar yang lain.

Alloh SWT mengaitkan puasa bulan Ramadhan dengan ketaqwaan, sebagaimana firman-Nya:


“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. AL-Baqarah:183). 


Berkaitan dengan hal ini Alloh SWT juga telah menegaskan di dalam firman-Nya:


“Dan barang siapa yang taat kepada Alloh dan Rasul-Nya, takut kepada Alloh dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nur: 52)


Alloh sudah menyiapkan surga bagi orang-orang yang bertaqwa. So, Ramadhan itu bulan pendidikan bagi kita agar kita layak mendapatkan gelar taqwa dan bisa masuk syurga-Nya Alloh. Insya Alloh.


Sarana Perubahan Secara Kaffah

Banyak orang yang berubah di bulan Ramadhan. Menjadi baik, jadi inget agama, bahasan pembicaraan temanya seputar agama, banyak yang rajin ngaji, rajin ke mesjid, rajin infak dan sadaqah, dan sebagainya. Bahkan tidak hanya masyarakat yang berubah,  artis-artis pun tak kalah ikut berubah. Mereka yang awalnya mengumbar aurat kemudian beramai-ramai mulai menutup aurat, acara televisi banyak yang bertemakan agama, grup band buat lagu dan nyanyi lagu-lagu yang ada unsur islaminya.


Namun sayang seribu sayang, ternyata perubahan tersebut hanya terjadi ketika Ramadhan saja. Setelah itu kembali ke kebiasaan semula. Padahal, sejatinya satu bulan Ramadhan bisa menjadi bekal taqwa dan iman untuk menghadapi sebelas bulan berikutnya. Jadi tidak hanya sebatas ibadah atau taubat musiman semata. Ramadhan sejatinya harus dijadikan momen perubahan yang kaffah. Yang awalnya hanya memahami Islam sebagai agama ritual semata, kemudian bertambah pemahamannya dan menjadikan Islam sebagai aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia di berbagai bidang. 


Kesalahpahaman di Ramadhan

Kesalahpahaman yang sering terjadi di masyarakat sudah menjamur dan sulit diubah. Misalnya,  lebih penting sholat tarawih daridapa sholat 5 waktu. Biasanya sholat tarawihnya rajin banget tapi sholat subuhnya lewat. Mereka juga salah dengan puasa itu sendiri, puasanya semangat banget tapi sholatnya malah bolong-bolong. Banyak yang puasa tapi pacaran tetap jalan. Tidak sedikit pula yang menjalankan puasa tapi tetap bergelut dengan riba, dan sebagianya. 

Nah, kesalahpahaman ini mesti segera diluruskan. Agar aktivitas puasa bisa bernilai ibadah di mata Alloh SWT.


Ramadhan kado terbaik buat umat Islam

Kado terbesar di bulan Ramadhan adalah malam lailatul qadr dan ampuan dari Alloh SWT. Malam lailatur qadr itu malam seribu bulan, dimana kalau kita mendapatkan malam itu maka ibadah kita di malam itu akan dicatat ibadah sejumlah seribu bulan.  Wow, banget lah pastinya, secara umur saja gak ada yang sampai 100. Banyak bolong ibadahnya pula. Eh, ini langsung dapat seribu bulan. Belum lagi hadiah ampunan dari Alloh SWT. Coba kita pikirkan, hadiah apa yang terbaik selain mendapatkan ampunan Alloh. 

Agar kita bisa maksimal dalam mengerjakan amalan di bulan Ramadhan, anggap saja Ramadhan tahun ini sebagai Ramadhan terakhir. Maka dengan demikian kita akan optimal dan penuh kesungguhan dalam menjalankannya.


So, jangan hanya menjadikan bulan Ramadhan sebagai ibadah atau taubat musiman semata. Tetaplah menjadi baik, tetaplah menjadi sholih/sholihah, tetaplah taat pada segala perintah Alloh mesikupun Ramadhan telah berlalu. Insya Alloh dengan demikian predikat taqwa akan direngkuh. 


Yuk, awali dengan bismillah, niat yang ikhlas karena Alloh. Semoga Ramadhan yang tinggal hitungan hari lagi benar-benar membuat kita berubah. 

Wallahu a’lam bishawab.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!