Wednesday, May 9, 2018

2030 : Bubar yang Diharapkan


Oleh : Aulia Rahmah


Ditengah carut marutnya kondisi kehidupan di negeri ini yang tak tentu arah dan tujuannya, lalu timbul pertanyaan dalam benak "sebenarnya negara ada untuk siapa?". SDA berlimpah tetapi hutang negara semakin menggunung. Merdeka sudah hampir 80 tahun tetapi masih banyak anak - anak yang putus sekolah. Menganut sistem politik demokrasi tetapi pemerintah kerap menggunakan tangan besinya untuk membungkam rakyat yang kritis. Belum lagi banyak beredar makanan import palsu, basi, dan beracun.

Dari seabrek persoalan yang terjadi, dengan penuh keberanian Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa di luar negeri banyak sekali tulisan - tulisan yang memprediksi Indonesia akan bubar di tahun 2030. (https://nasional.kompas.com/read/2018/03/22/13062072/prabowo-ungkap-pidatonya-soal-indonesia-bubar-tahun-2030-atas-kajian-ahli ).

Benar kah ini akan terjadi ?

Indonesia dihuni turun  - temurun oleh mayoritas muslim. Jika ada prediksi yang semacam itu, harusnya rakyat yang muslim ini perlu untuk merenung dan introspeksi. Mengapa Indonesia tidak dihargai di mata dunia? Mengapa kita dianggap mati oleh warga dunia saat berada di tahun 2030 ? Bukankah kekayaan Indonesia banyak sehingga cukup untuk bekal hidup di tahun - tahun mendatang?

Tentunya ada yang salah dengan pola pendidikan kita. Label yang selama ini disematkan kepada Indenesia sebagai negara berkembang, tak kunjung menjadikan negeri ini dewasa dan mandiri. Justru diperkirakan akan mati, entah dengan sebab dijajah atau kelaparan. Sungguh mengenaskan.

Sekulerisme-kapitalisme yang dijadikan asas berpijak di dunia pendidikan, mencetak pribadi - pribadi sekularis yang tunduk dan patuh pada arahan barat. Padahal Amerika sebagai pengemban Ideologi ini adalah pelaku dari neo imperialisme dan neo kolonialisme. Bukankah dengan bercokolnya perusahaan freeport, Indonesia banyak dirugikan ? Mengingat SDA adalah kepemilikan umum rakyat tetapi negara dengan bujukan manis freeport menyerahkan dengan suka rela blok Irian yang kaya emas tersebut ?

Di waktu yang sama Syariat Islam kaffah yang menyangkut sistem ekonomi, sistem politik, hukum hudud dan jinayat, tata pergaulan islami, dll tidak diberikan alokasi waktu yang cukup di sekolah untuk dipelajari, dikaji lalu diupayakan implementasinya.

Seorang muslim yang mengambil sistem ideologi diluar Islam ibarat peribahasa "hidup segan mati tak mau " . Sudah hidup semakin susah, matipun belum tentu masuk surga. Koruptor menguasai banyak harta tetapi dikejar - kejar oleh KPK. Yang miskin  merasakan susahnya menahan lapar, dimarginalkan pula dalam kehidupan sebab kepemilikan umum telah berpindah ke tangan2 swasta. Tak bisa merasakan nyamannya melewati jalan tol. Tak bisa merasakan pendidikan gratis, pelayanan kesehatan gratis, dll.

Jika sudah begini tentunya kita tanggalkan saja Ideologi Kapitalisme - Sekularisme, lalu menggantinya dengan Ideologi Islam. Jangan lagi menganggap Islam sebatas agama ritual, kita patut mengambilnya sebagai way of life.  Jalan yang harus kita lalui bersama - sama.

Dalam kehidupan pribadi kita perlu banyak belajar untuk mendalami Islam kaffah, hadir di pengajian, senantiasa dekat dengan ulama, dan memohon kepada Allah SWT agar diberi kemudahan untuk memahami Islam, diberi kekuatan dan keteguhan iman serta istiqomah.

Dalam kehidupan bermasyarakat kita harus jeli mengamati segala kemungkinan terjadinya kemaksiatan, lalu bersama - sama saling mengingatkan dan menasehati untuk selalu berbuat kebaikan.

Dalam kehidupan bernegara. Kita sebagai seorang muslim mempunyai kewajiban untuk ber-amar ma'ruf nahi munkar. Senantiasa aktif mengontrol kinerja para pemimpin negara, bukan untuk memata - matai tetapi agar selalu berada dalam koridor Syariat Islam. Selanjutnya akan tercapai kehidupan yang harmonis, cita - cita menjadi negara yang "baldatun toyyibatun warobbun ghofur" mudah untuk diwujudkan.

Tentunya harapan terbaik diatas dapat dicapai ketika kita sepakat untuk melakukan revolusi kehidupan dengan menjadikan Ideologi Islam sebagai satu - satunya asas yang layak untuk mengatur kehidupan pribadi, masyarakat, dan negara kita. Sistem Khilafah sangat kompeten bagi Indonesia untuk memfilter pemikiran asing dan dapat membebaskan dari bentuk kolonialisme gaya baru. Jadi mungkinkah Indonesia bubar di tahun 2030 ? Ya, Bubar dari sistem ideologi kapitalisme - sekularisme,  dan dibangun diatas tanah airnya Sistem Politik Khilafah.


Aulia Rahmah, Gresik




Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!