Yang Muda Yang Bertakwa, Menjawab Tantangan Pemuda Zaman Now

Oleh : Suci Hardiana Idrus



Generasi muda adalah tiang peradaban. Sebab generasi muda menjadi salah satu unsur penting dalam membangun sebuah peradaban. Untuk itu sebagai generasi muda, apalagi zaman now sudah sepatutnya agar bisa lebih baik daripada para pemuda sebelumnya. Semakin baik kualitas generasinya, maka semakin baik pula peradabannya. Sudahkah kita menjadikan diri kita sebagai generasi yang unggul? Dimana masa depan bangsa dan agama ada di tangan para pemudanya. Kita adalah penerus pemuda sebelumnya yang saat ini mewakilkan amanahnya kepada kita untuk menjaga bangsa dan agama agar tak lagi merasakan pahitnya hidup dalam keadaan terjajah secara fisik, meski saat ini aura-aura penjajahan itu kini mulai terdengar selalu di telinga hingga menusuk ke hati. Ya, sangat terasa praktek Neo-imperialisme mencengkram negeri kita tercinta secara halus dan perlahan. Cobalah analisis segala peristiwa yang terpampang nyata yang belakangan ini marak terjadi. Sangat menghantarkan kepada fakta yang nyata.

Dalam Islam, sebaik-baik pemuda adalah yang bertakwa. Takwa akan mendorong seseorang untuk bertanggungwajab atas masa depan generasi dan peradabannya. Hingga ia tak lalai meski kehidupan sekarang serba malalaikan dengan banyaknya inovasi yang sengaja dibuat untuk mengalihkan perhatian pemuda dalam urusan agama. Salah satunya game dan media sosial. Dan di sistem kapitalis saat ini pula seakan mengharuskan pemuda untuk fokus mengejar karir tanpa diimbangi dengan menuntut ilmu agama demi mengejar surga suatu saat nanti.

Sebaik-baik pemuda adalah ia yang tetap bertakwa meski pergaulan diluar sana begitu menggoda. Tetap menjaga hubungan dengan Allah meski maksiat tampak lebih mudah dan dibuat terasa indah. Berbeda dengan takwa, dimana ia harus digenggam erat, tak menutup kemungkinan bahwa menggenggamnya pun laksana menggenggam bara api. Namun semua punya balasannya masing-masing. Tak perlu risau wahai pemuda! Utamakan takwa, maka galaumu akan sirna. Jadilah andil dalam perubahan, karena kalian adalah yang muda yang bertakwa.

Tanpa harus menunggu tua, kita memang sudah sepatutnya untuk bertakwa kepada Allah. Karena ajal tak menunggu keriputnya kulit, karena ajal tak memilih usia. Tua atau muda sama saja, semua yang bernyawa akan merasakan mati. Akan tetapi, perlu kita sadari bersama bahwa tantangan anak muda zaman sekarang sungguh berat. Berkembangnya teknologi yang semakin canggih tak membuatnya semakin berbudi pekerti. Mudahnya mengakses segala informasi tak membuatnya semakin dekat pada Ilahi. Padahal sarana informasi seputar Islam sangat mudah ditemui andai tak sempat ikut serta dalam majelis ilmu.

Sangat jauh berbeda dengan era sebelum teknologi berkembang pesat. Jika kita flashback lagi, pada zaman Rasulullah dan para sahabat tentu lebih sulit lagi, dimana kehidupan mereka tak tersentuh oleh kecanggihan teknologi sama sekali. Akan tetapi, prestasi pemudanya kala itu jauh lebih unggul dan tangguh. Tidak lain karena mereka hanya berbekal takwa dan kegigihan untuk mencari ilmu, terutama dalam ilmu agama. Dari situ lahirlah para ilmuwan-ilmuwan Muslim yang begitu berpengaruh pada zamannya hingga saat ini. Yakni Ibnu Khaldun (Bapak Sosiologi, Sejarah, dan Ekonomi Modern), Ibnu Rusdh Sina (Avicenna) (Bapak Pengobatan Modern), Jabir Ibnu Hayyan/Ibnu Geber (Bapak Kimia Modern) ...

Mereka adalah beberapa dari banyaknya ilmuan Islam lainnya yang tak tersentuh teknologi. Akan tetapi mereka lahir dari takwa dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Saat hendak menuntut ilmu pun, seringkali mereka harus menempuh jarak yang teramat jauh, kemudian berpindah tempat demi mendapatkan ilmu lainnya. Ulama demi ulama mereka temui, majelis demi majelis mereka datangi hanya untuk mendapatkan sebuah ilmu yang menjadi dasar ketakwaannya kepada Allah.

Pemuda terdahulu sangat hormat kepada gurunya, sebab mereka paham bahwa adab lebih didahulukan sebelum berilmu. Akan tetapi tampak jauh berbeda dengan sekarang, dimana seorang murid tak lagi bisa menjaga perasaan gurunya, tak hormat, bahkan dianiaya hingga akhirnya meninggal dunia, sebagaimana yang pernah terjadi belum lama ini, yakni meninggalnya seorang guru di tangan muridnya sendiri yang telah dikutip dari TribunNews.com 4 Februari, 2018. Tak hanya sekali, namun berkali-kali kasus yang sama terjadi. Ditambah tak ada hukum yang tegas atas pelakunya yang lantas tak membuat jerah. Belum lagi kasus lainnya yang kebanyakan pelakunya adalah seorang pemuda. Kemana perginya akhlak terpuji para pemuda saat ini.

Sadar atau tidak, pemuda adalah sasaran utama untuk merusak kemuliaan peradaban Islam. Dengan segenap usaha, mereka yang memusuhi Islam baik secara tersembunyi maupun terang-terangan tak berhenti berupaya untuk menjatuhkan Islam dengan merobohkan pondasinya, yakni pemudanya, dengan cara mengalihkan pandangan dan tingkah laku mereka terhadap Islam. Pelemahan intelektual secara politis dan islamis serta pelemahan mental jiwa para pemuda adalah bentuk separuh dari kebarhasilan meraka saat ini. Karena misi mereka tidak hanya berhenti sampai di situ sebelum mereka menguasai dan mengendalikan dunia dengan cara mereka sendiri, yakni menciptakan tatanan dunia baru.

Takwanya seorang pemuda lebih Allah senangi dan dicintai daripada takwanya seorang yang lanjut usia. Masing-masing punya keutamaan disisi-Nya. Alangkah beruntung jika masa muda dihiasi dengan takwallah tanpa harus ketinggalan zaman dengan penghunaan teknolongi dan informasi secara bijak dan penuh dengan visi dan misi, yakni mengemban Islam keseluruh penjuru dunia baik di dunia nyata maupun di dunia maya, demi menjawab tantangan pemuda zaman now.

Post a Comment

0 Comments