Waspada Pahitnya Narkoba di Manisnya Secuil Permen

Oleh : Ummu Aqeela (Pemerhati Media Sosial)



Di zaman serba canggih dan modern ini siapa yang tidak mengenal kata narkoba. Narkoba sendiri sudah tidak asing lagi di telinga kita, semua orang tau apa itu narkoba dan dampak yang ditimbulkan dari narkoba. Jutaan orang telah terjerumus kedalam penyalahgunaan narkoba, ribuan nyawa melayang setiap harinya karena jeratan narkoba dan telah banyak keluarga yang hancur karena narkoba, serta tidak sedikit jumlah para pemuda penerus bangsa yang kehilangan masa depannya karena terperangkap kedalam obat haram tersebut. Kini narkoba tidak hanya menyasar para remaja dan orang dewasa saja tapi sudah mulai melebarkan target sayapnya ke anak-anak. Seorang ibu dan balita di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, positif terindikasi narkoba usai menjalani tes urine. Hal ini terjadi setelah keduanya diduga mengonsumsi permen yang mengandung zat narkoba, yaitu methafetamin. Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau sendiri belum mengetahui  hasil penelitian BBPOM Riau terhadap sample permen yang dikonsumsi seorang bocah di Kabupaten Meranti. Sample permen ini dikirim oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Meranti ke BBPOM Riau untuk diteliti kandungannya.
Ini dilakukan karena sang urin bocah diketahui positif mengandung senyawa narkotika.( TribunNews 04/04/2018 )

Sebenarnya peristiwa ini bukanlah hal yang asing lagi, banyak kejadian yang serupa pernah terjadi sebelumnya.Penyebab utamanya adalah penerapan sistem sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) dalam masyarakat saat ini. Ketika kehidupan dunia sudah tidak diatur dengan syari’at Allah, maka hal ini mengakibatkan banyak yang lalai akan tujuan hidup, lupa bahwa kehidupan ini adalah sawah dan ladang beramal untuk akhirat. Akibatnya suburlah pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Masyarakat diubah menjadi pemburu kesenangan dan kepuasan. Prinsipnya bukan halal-haram atau pahala-dosa, tetapi  “uang dan badan saya yang penting tidak mengganggu anda urusan dosa ditanggung masing-masing” kembali lagi ke HAM yang disalah artikan. Akhirnya, miras, narkoba, perzinaan, seks bebas, pelacuran, dsb, menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat.
Ditambah lagi dengan sistem hukum yang saat ini, pecandu narkoba tidak lagi dipandang sebagai pelaku tindak kriminal, tetapi hanya korban atau seperti orang sakit. 

 Meskipun sudah ada jeratan hukuman mati sekalipun seolah tidak membuat takut dan gentar mereka. Malah semakin membuat para pembisnis narkoba ini berpikir kreatif mengembangkan bisnis narkobanya agar dapat meraih untung sebanyak-banyaknya dengan melebarkan sayap targetnya. Berkamuflase dengan berbagai bentuk untuk menarik perhatian anak-anak usia sekolah SD-SMP mulai dari bentuk kue, permen, jajanan anak, yang kesemuanya itu dibumbui dengan zat-zat narkotika didalamnya. Sehingga dapat menyebabkan ketergantungan untuk mengkonsumsinya lagi dan lagi. 

Ada 3 pilar yang dibutuhkan eksistensinya untuk melindungi generasi dalam jeratan narkoba Pilar Keluarga, Pilar lingkungan masyarakat, dan Pilar Negara atau Pemerintah. Ketiganya ini tidak bisa dilepaskan dan melepaskan diri satu sama lain. Kerjasama yang solid dan bahu membahu untuk melindungi generasi dari jeratan narkoba. Keluarga adalah tumpuan pertama dalam mendidik karakter dan penanaman iman yang kuat untuk mengenalkan standart halal dan haram terhadap segala sesuatu. Masyarakat sendiri sebagai kontroler atau CCTV, kepekaan dan rasa aware masyarakat dibutuhkan untuk penjagaan ketika individu melakukan eksistensi diluar rumah. Pemerintah sendiri adalah pilar terkuat yang diharapkan bisa menciptakan keadaan yang kondusif dan penjagaan ekstra ketat terhadap masyrakatnya, karena segala bentuk hukum dan birokrasi hanya pemerintah yang mempunyai kewenangan untuk menindaknya.

Dalam pandangan islam sendiri sebenarnya telah dijelaskan sejak lama. Tepatnya pada 10 Februari 1976, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa bahwa penyalahgunaan dan peredaran narkoba hukumnya bersifat haram. Keputusan tersebut tentu didasari atas dalil-dalil agama yang bersumber dari Al-quaran dan hadist. Menurut ulama, narkoba adalah sesuatu yang bersifat mukhoddirot (mematikan rasa) dan mufattirot (membuat lemah). 
Allah swt berfirman :

“Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” (QS. Al A’rof: 157). 

Pagari diri dengan ketakwaan dan keimanan yang kuat. Terapkan keta'atan terhadap syari'at yang tujuannya untuk kebaikan umat. Yakin bahwa segala aturan yang datang dari Allah swt adalah yang terbaik buat kita semua. 

"Lindungi diri dan Generasi dari bahaya Narkoba"


Wallahu a’lam bi ash showab.

Post a Comment

0 Comments