Waspada! Ada Magnet Cinta Antara Kau dan Dia

Oleh : Sakinah RA (Member Back to Muslim Identity Meulaboh)



ALLAH telah menjadikan pria dan wanita untuk hidup bersama dalam satu masyarakat. Allah juga telah menetapkan bahwa kelestarian manusia juga bergantung dari hubungan antar keduanya (laki-laki dan perempuan).
 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ 

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal" (QS. Al-Hujurat: 13)

Maka dari itu Allah pula yang memberikan potensi yang sama (fitrah) dalam setiap individu, dimana potensi itu yang kemudian selalu mendorong manusia melakukan kegiatan dan menuntut pemuasan. Potensi ini sendiri bisa kita kenal dalam dua bentuk.

Pertama, yang menuntut adanya pemenuhan yang sifatnya pasti, kalau tidak terpenuhi manusia bakalan binasa. Inilah yang disebut kebutuhan jasmani (haajatul 'udwiyah), seperti kebutuhan makan, minum, tidur, bernafas, buang hajat dll. 

Kedua, yang menuntut adanya pemenuhan saja, tapi kalau tidak terpenuhi manusia tidak bakalan mati, cuma bakal gelisah (tidak tenang) sampai terpenuhinya tuntutan tersebut, yang disebut naluri atau keinginan (gharizah). Kemudian naluri ini di bagi menjadi 3 macam yang penting yaitu :

Gharizatul baqa' 
(naluri untuk mempertahankan diri) misalnya rasa takut, rasa marah, cinta harta, cinta pada kedudukan, ingin diakui, dll

Gharizatut tadayyun
(naluri untuk mensucikan sesuatu/ naluri beragama) yaitu kecenderungan manusia untuk melakukan penyembahan/ beragama kepada sesuatu yang layak untuk disembah.

Gharizatun nau' 
(naluri untuk mengembangkan dan melestarikan jenisnya) manivestasinya bisa berupa rasa sayang kita kepada ibu, teman, saudara, kebutuhan untuk disayangi dan rasa suka kepada lawan jenis.

Dalam kehidupan bermasyarakat, kita tidak bisa terhindar dari interaksi dengan lawan jenis. Misal dalam hal jual beli, dimana dalam transaksi jual beli tersebut pasti terjadi pertemuan, komunikasi bahkan bertatap muka sampai akad jual beli tersebut selesai. Begitu pula dalam kesehatan dan pendidikan, akan ada interaksi yang terjadi antara pria dan wanita karena setiap manusia harus memenuhi berbagai macam kepentingan. Namun dari mana cinta itu bermula dan apa saja konsekuensinya??

Manusia cenderung suka pada sesuatu yang menarik baginya, indah dalam pandangannya dan nyaman bila bersamanya, sehingga sesuatu yang disukai itu akan memberikan rasa bahagia pada dirinya. Untuk mendapatkan rasa bahagia itu tidak sedikit dari manusia yang rela melakukan apapun, mulai dari mengorbankan waktu, harta, bahkan nyawa. Namun ada beberapa hal yang memicu kita menyukai sesuatu.

Pandangan

Pandangan akan menyusup ke dalam hati seperti anak panah yang melesak saat dibidikkan. Jika tidak membunuh, tentu akan membuat luka. Atau dia seperti bara api yang dilemparkan ke dahan-dahan kering. Jika tidak membakar seluruhnya, tentu akan menghanguskan sebagiannya.

Sesungguhnya pandangan akan melahirkan rasa cinta, yaitu bergantungnya hati kepada apa yang dia pandang. Kemudian bertambah kuat sehingga terhujam ke dasar jiwanya. Ketika cinta itu semakin dibiarkan menggebu, maka ia akan menjadi penghambaan diri laksana budak yang tak bisa menolak perintah tuannya.

Cinta yang dipicu oleh pandangan mata bisa saja terjadi ketika kita berjalan di pasar. Ada saja barang-barang yang membuat kita ingin membelinya padahal tak terlalu membutuhkannya. Begitu pula dalam mencintai, ada sesuatu yang membuat mata kita terpaku pada seseorang yang memikat hati, atau sering disebut "cinta pada pandangan pertama". Namun bagaimana kita menyikapi cinta pada pandangan pertama ini?
Rasulullah Saw. bersabda:


(يَا عَلِيُّ، لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ؟ فَإِنَّ لَكَ الأُوْلَى، وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ) 

Wahai Ali, jangan kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena yang pertama itu boleh (dimaafkan) sedangkan yang berikutnya tidak. (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud dan di-hasan-kan oleh Al-Bani).

Selain dari itu, Allah SWT. juga memerintahkan kita dalam firman-Nya :


قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ


Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat" (QS. An-Nur : 30)

Oleh karena itu, puncak dari segala cinta paling sering bermula dari pandangan. Sehingga banyak orang-orang terjerumus dalam lembah kemaksiatan (pacaran) karena tidak bisa mengatasi syahwat yang bermula dari pandangan.

Tulisan

Bahwasanya tak hanya gelombang suara dan tatapan mata yang sanggup menggetarkan hati. Rangkaian tulisan pun bisa. Ada rasa kagum, gembira, simpati ketika membaca sebait tulisan yang kita temukan. Hal ini banyak ditemukan pada orang-orang yang gemar membaca. Ia tak lagi peduli siapa yang menulis dan bagaimana rupanya. Selama tulisannya menarik untuk dibaca maka seseorang akan rela antri hanya untuk mendapatkan buku dari si penulisnya.

Pada dasarnya tulisan dan perasaan itu saling bertaut. Hal ini sering di rasakan oleh para penikmat puisi, sejarah dan berbagai tulisan menarik lainnya. Mengapa kita bisa mencintai Rasulullah? Karena keteladanan Rasulullah di abadikan dalam tulisan Sirah Nabawiyah. 

Interaksi

Manusia dikatakan mahluk sosial yaitu mahluk yang di dalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia lain. Manusia dikatakan mahluk sosial, juga di karenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain. Ada kebutuhan sosial (social need) untuk hidup berkelompok dengan orang lain. Seringkali didasari oleh kesamaan ciri atau kepentingan masing-masing. 

Disamping itu, baik atau tidaknya hubungan seseorang juga di dominasi dari interaksi yang terjalin. Dan dari interaksi ini pula seseorang akan merasa nyaman dan bahkan memberikan kepercayaan untuk saling berbagi keluh kesah. Namun dari interaksi ini pula tak sedikit yang berujung musibah. Seperti maraknya kasus perselingkuhan, pacaran dan ghibah yang menghancurkan hidup seseorang.
Bagaimana cara kita mengatasi musibah yang sebabkan oleh interaksi ini?

Jangan memberi peluang

Peluang disini maksudnya adalah segala sesuatu yang dapat memicu hal-hal yang tidak diinginkan. Contohnya saja seseorang terbiasa ghibah (gosip) karena ada peluang bagi dirinya membicarakan keburukan orang lain. Bagaimana cara mengatasinya? Hindari tempat-tempat dan komunitas yang sering membuka pintu ghibah seperti nongkrong di waktu sore atau di siang hari. Coba manfaatkan waktu luang tersebut dengan sesuatu yang lebih bermanfaat, misalnya membaca buku atau belajar resep masakan terbaru.

Begitu pula dalam cinta. Hindari peluang-peluang yang dapat memicu rasa cinta pada seseorang yang belum halal. Misalnya hindari khalwat (berduaan) antara laki-laki dan perempuan walaupun hal itu hanya dari segi chattingan. Karena rasa cinta juga dapat di picu dari tulisan (chattingan) yang sering memberikan rasa nyaman. Chattingan yang harus dihindari disini yaitu chattingan tanpa kepentingan syar'i seperti obrolan masalah pribadi. Karena benih-benih cinta yang menjurus kepada kemaksiatan ada banyak jalan.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:


كُـتِبَ عَلَـى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُـهُ مِنَ الـِزّنَا مُدْرِكٌ ذٰلِكَ لَا مَـحَالَـةَ : فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُـمَـا النَّظَرُ ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُـمَـا الْاِسْتِمَـاعُ ، وَالـِلّسَانُ زِنَاهُ الْـكَلَامُ ، وَالْيَـدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْـخُطَى ، وَالْقَلْبُ يَـهْوَى وَيَتَمَنَّى ، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَ يُـكَـذِّبُـهُ


Telah ditentukan atas anak Adam (manusia) bagian zinanya yang tidak dapat dihindarinya : Zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah dengan meraba atau memegang (wanita yang bukan mahram, Pen.), zina kaki adalah melangkah, dan zina hati adalah menginginkan dan berangan-angan, lalu semua itu dibenarkan (direalisasikan) atau didustakan (tidak direalisasikan) oleh kemaluannya (HR. Bukhari & Muslim)

Selain jangan memberi peluang pada chattingan tanpa kepentingan, hindari juga menikmati musik atau drama yang berkaitan dengan percintaan. Karena hal tersebut juga dapat memicu perasaan dan khayalan. Untuk mengatasinya cobalah isi waktu luang yang biasanya dihabiskan untuk menonton drama di ganti dengan menonton tausiah. Apalagi media sekarang serba mudah. Hanya menggerakkan jari di android, segala hal bisa di dapatkan.

Kurangi memfollow akun-akun yang cenderung memamerkan foto atau video kemesraan (walaupun itu dengan kekasih halalnya). Karena hal itu juga dapat memicu rasa nau' atau hasrat syahwat seseorang.

Namun, hal yang paling mudah agar terhindar dari perasaan yang tak semestinya adalah perbanyaklah mengkaji Islam dan berkumpullah dengan orang-orang yang senantiasa mengingatkan kita pada jalan kebaikan.
Jika hasrat sudah terlanjur menggerogoti jiwa maka Islam juga punya solusinya.
Rasulullah Saw. bersabda: 


يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

"Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng)". (HR. Bukhari)

Maka dari itu, menghindari segala sesuatu yang dapat menjerumuskan diri kita ke dalam lembah kemaksiatan lebih baik dari pada menikmati sesuatu yang diharamkan.


Jika kita mampu menghindarinya, maka Allah pun akan menolong kita dengan cara-Nya.
Rasulullah Saw. bersabda:

ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ: اَلْمُكَـاتَبُ الَّذِي يُرِيْدُ اْلأَدَاءَ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيْدُ الْعَفَافَ، وَالْمُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ.


“Ada tiga golongan yang pasti akan ditolong oleh Allah; seorang budak yang ingin menebus dirinya dengan mencicil kepada tuannya, orang yang menikah karena ingin memelihara kesucian, dan pejuang di jalan Allah". (HR. Tirmidzi)

Post a Comment

0 Comments