Tragis, Krisis Iman Kakak Perkosa Adik Kandung

Oleh: Masniati, S. Pd (Member Akademi Menulis Kreatif Regional Bima) 



Perilaku bejat kembali terjadi di kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat. Seorang remaja tega menghamili adik kandungnya sendiri. Pelaku inisial DP, 17 tahun, pengangguran, alamat desa Tolokako, kecamatan Kempo, harus berurusan dengan aparat Polres Dompu, karena diketahui menghamili adiknya FN, 14 tahun.   


Kapolres Dompu Ajun Komisaris Besar Erwin Suwondo mengatakan pihaknya sudah menangkap pelaku pada hari Sabtu, 10 Februari 2018, dan dalam proses pemeriksaan di Mapolres. Penangkapan terhadap pelaku setelah adanya laporan dari orang tua korban, dimana orang tuanya mengetahui bahwa anaknya tiba-tiba hamil besar sekitar 6 bulan. Saat ditanya kepada buah hatinya, ternyata pelakunya anak kandungnya sendiri.  


Dijelaskan Erwin, pada bulan Agustus 2017, pelaku tega memperkosa adiknya saat korban sedang tidur pulas. Aksi birahi pelaku tidak hanya dilakukan sekali, namun sering kali sehingga mengakibatkan adiknya hamil. Kejadian pilu yang diderita korban tidak berani diceritakan karena mendapat ancaman dari pelaku. "Pelaku sendiri mengakui perbuatannya," terang Erwin. (suarabbc.com , 10/02/2018).  


Kasus pemerkosaan yang terjadi saat ini sangatlah miris. Bagaimana tidak, pemerkosaan bisa saja dilakukan oleh orang terdekat korban. Seakan tak bisa diterima oleh akal sehat kita, jika pelakunya adalah ayah kandung atau bahkan saudara sekandung.    


Kasus seperti ini, sebenarnya tidak hanya terjadi di kabupaten Dompu, melainkan hampir terjadi di setiap daerah di negeri ini. Kasus pemerkosaan seperti fenomena gunung es, yang terlapor hanya sedikit, tapi fakta sesungguhnya jauh lebih besar.    



Keluarga yang seharusnya menjadi tempat pertama yang memberikan perlindungan dan pengayoman terhadap anggota keluarga yang lain. Namun, kondisi itu tidak lagi bisa didapat dalam lingkup keluarga.   



Dalam tatanan hidup yang serba liberal dan sekuler saat ini, selalu membuka ruang besar untuk merajalelanya berbagai kemaksiatan.    



Faktor-faktor pemicunyapun terbuka lebar dalam seluruh sendi kehidupan. Maraknya media yang mempertontonkan porno grafi, porno aksi, merebaknya peredaran barang haram seperti miras dan narkoba kerap menjadi pemicu berbagai kemaksiatan.   


Sekularisme, liberalisme menjamin adanya kebebasan berperilaku. Bahkan pelaku kemaksiatan dilindungi dibalik jargon Hak Asasi Manusia. Hingga sanksi hukumpun tak tegas untuk memberikan efek jera bagi pelaku. Kondisi seperti ini sangat berbeda jauh dari tatanan kehidupan yang diatur dengan Islam. Islam dengan aqidah dan syari'ahnya mampu memberikan solusi bagi problematika kehidupan manusia. Maka, selayaknya kita kembali pada aturan yang berasal dari Allah Ta'ala pencipta manusia.   


Namun, hal ini tidak hanya dikembalikan kepada individu masyarakat, melainkan butuh peranan semua pihak. Unsur-unsur tersebut diantaranya peranan keluarga, masyarakat dan negara.   


Peranan keluarga   


Keluarga adalah madrasah pertama dan utama bagi anak. Keluarga adalah benteng pertahanan awal bagi anak. Diantara hal-hal yang bisa ditanamkan keluarga pada anak sesuai tuntunan Islam:    



1. Membentingi anak dengan ketakwaan. Ketakwaan adalah pencegahan internal yang paling kuat. tatkala anak memiliki sifat takwa, ia akan takut pada adzab Allah Ta'ala dan menjadikan hidupnya berjalan untuk mendapatkan ridho Allah. Agar tercipta ketakwaan ini, maka orang tua menanamkan aqidah yang kokoh pada anak sedini mungkin.    



2. Menanamkan pemahaman seputar aurat dan menjaganya. Islam menetapkan aurat laki-laki berbeda dengan aurat perempuan. Begitu pula batasan aurat perempuan dihadapan mahromnya dengan yang bukan mahrom. Aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut. Ini berdasarkan hadits Rasulullah saw. 

"Aurat laki-laki ialah antara pusat sampai dua lutut." (HR. Ad Daruquthni dan Al Baihaqi). Adapun aurat perempuan dihadapan mahrom dan bukan mahrom dijelaskan dalam QS. An Nur ayat 31.    

Di hadapan mahrom, aurat perempuan adalah apa yang bukan merupakan mahaluz-zinah atau tempat-tempat perhiasan perempuan, yaitu apa yang selain rambut, wajah, leher, dada atas, tangan sampai lengan dan kaki sampai betis. Selain itu harus ditutup dan tak boleh ditampakan. Sedangkan di hadapan non mahromnya, aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.    


3. Memisahkan tempat tidur anak. Tidurnya dua anak dalam satu tempat tidur (madhja') merupakan aktivitas yang bisa mengantarkan pada perzinahan. Karena ini merupakan bentuk perbuatan mudhaja'ah (tidur bersama). Sebagaimana diperkuat oleh hadits Nabi saw. 

"Perintahkanlah anak-anak kalian sholat ketika usia mereka tujuh tahun. Pukullah mereka karena (meninggalkan)nya saat berusia sepuluh tahun. Dan pisahkanlah mereka di tempat tidur (HR. Abu Dawud). 


4. Mendidik anak untuk bergaul sesuai tuntunan syariah. Misalnya bergaul dengan teman-teman yang sholeh dan sholihah. 


5. Mengajari dan membiasakan anak shaum sunnah. Puasa bisa menjadi perisai bagi pemuda dalam mengahadapi bergejolaknya nafsu biologis. 


6. Memberikan kasih sayang yang cukup pada anak-anak.    



Peranan Masyarakat   


Kontrol masyarakat dalam pencegahan terhadap berbagai kemaksiatan juga sangat penting. Upaya ini dilakukan melalui amar ma'ruf nahi munkar. Kontrol sosil terhadap berbagai media juga harus digencarkan sehingga tidak ada ruang bagi munculnya pembangkit hasrat seksual.    


Peranan Negara 


Negara memiliki andil yang sangat besar dalam melindungi rakyatnya dari berbagai tindak kriminal. Negaralah benteng pertahanan yang paling kokoh dalam melindungi anak dari berbagai penyimpanga. Negara memiliki kekuasaan untuk menutup media-media massa yang menyebarkan situs porno grafi, porno aksi dan sebagainya. 

Menyusun kurikulum pendidikan yang berasaskan aqidah Islam dan memberikan sanksi yang tegas bagi pelaku kemaksiatan. Namun, negara yang mampu melaksanakan fungsi dan peranan ini bukanlah negara sekuler liberal, melainkan negara yang menerapkan hukum-hukum Islam secara utuh dan menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu a'lam bish showwab  

Post a Comment

0 Comments