Toleransi Milik Siapa ?

Oleh : Siti Fatimah (Praktisi Pendidikan – Tulungagung)


SUDAH menjadi keharusan bagi setiap warga negara untuk memegang teguh toleransi karena masyarakat kita adalah masyarakat majemuk yang terdiri dari banyak suku/ras dan agama. Toleransi dimaknai sebagai suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok/individu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi diharapkan mampu menghindarkan terjadinya diskriminasi walaupun banyak terdapat kelompok/golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Namun, seperti diketahui akhir-akhir ini makna toleransi memiliki standar ganda. Di saat orang yang melakukan intoleransi adalah seorang muslim maka reaksi yang berlebihan pun muncul sehingga menimbulkan image bahwa seolah-olah umat islam kurang toleran. Meskipun faktanya umat Islam adalah umat yang amat sangat toleran akan tetapi tetap saja dicitrakan negatif.

Lain lagi bila sikap intoleran ditunjukkan oleh kaum minoritas, justru respon yang ditunjukkan melemah dan menimbulkan asumsi bahwa itu adalah kesalahan dari umat islam. Sebut saja PGGJ (Persekutan Gereja Gereja Jayapura) yang mempesoalkan adzan dengan pengeras suara. Mereka meminta agar suara adzan yang diperdengarkan untuk khalayak umum diarahkan kedalam masjid agar tidak mengganggu masyarakat di sekitarnya. Juga pelarangan pembangunan masjid di Desa Arfai 2 Kelurahan Andai Kecamatan Manukwari selatan Papua Barat dengan alasan bahwa Kota Manukwari merupakan Kota Injil.

Tidak hanya masalah toleransi yang memiliki standar ganda tetapi perlakuan diskriminatif pun kerap dialami oleh umat muslim. Pelarangan muslimah memakai cadar di kampus sampai pembubaran pengajian dan tausiah oleh ustadz-ustadz yang membela agama Allah SWT. Mirisnya, penguasa seperti lamban dalam menangani masalah-masalah yang sejatinya amat sangat serius dan sensitif ini. Sulit sekali untuk tidak melihat keberpihakan penguasa negeri terhadap kasus-kasus semacam ini yang notabene seakan pro terhadap para diskriminator. 

Pembiaran hal-hal yang berbau intoleransi dan diskriminasi ini telah memunculkan isu baru yaitu kriminalisasi terhadap salah satu ulama besar di Indonesia dengan fitnahan keji berupa chat mesum. Meskipun tidak terbukti kebenarannya akan tetapi respon para pembenci Islam sungguh sangat menyakitkan dan lagi-lagi penguasa seakan ikut menyudutkan ulama dan umat Islam. Belum lagi kini bermunculan kasus-kasus intimidasi berupa pembacokan para kyai serta ulama pondok pesantren yang pelakunya oleh aparat kepolisian dengan mudahnya di identifikasi sebagai "orang gila". Peristiwa ini merata terjadi di beberapa tempat di Pulau Jawa. 

Beginilah apabila sistem Demokrasi diterapkan. Demokrasi sistem kufur yang melahirkan berbagai keburukan dan kerusakan. Tidak hanya menimbulkan masalah intoleransi dan kegaduhan sosial yang sering memojokkan Islam yang merupakan mayoritas, akan tetapi juga menimbulkan fitnah-fitnah keji, kriminalisai ulama dan siapa saja yang menghalangi kepentingan. Bahkan intimidasi yang menyebabkan korban luka-luka dan korban jiwa. Demokrasi mencetak para koruptor dan pemimpin-pemimpin yang tidak amanah terhadap rakyatnya. Kekuasaan telah membutakan mata hati mereka, harta telah membuat mereka lupa terhadap Rabb-nya dan lalai terhadap kewajiban-kewajiban untuk melaksanakan hukum-hukum Allah Azza Wa Jalla yang diciptakan untuk mensejahterakan ummat Islam dan alam semesta.

Allah SWT berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالْبَـنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَـيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَـرْثِ ۗ ذٰ لِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ
"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 14)



Post a Comment

0 Comments