The Meaning of happiness

Oleh: Khaulah al-Azwar (member komunitas menulis revowriter)

TAK perlu diragukan lagi, setiap orang pasti ingin hidupnya bahagia. Nah, tapi standar untuk dikatakan bahagia tiap orang itu berbeda. Ada yang bilang...
"Bahagia itu ketika kita bisa selalu bersama dengan orang yang kita cintai"
"Bahagia itu sederhana, bisa ngedapetin apa yang kita impikan selama ini"
"Bahagia itu kalau hidup loe nggak ada yang ngatur, terserah apa yang loe mau, ya, lakuin aja"
Dikutip dari perkataan seorang pisikiater asal Amerika, Robert Waldinger, berdasarkan hasil dari studinya meniliti berbagai macam manusia. Akhirnya ia menyimpulkan bahwa ketenaran, kekayaan, dan pencapaian diri adalah hal yang dibutuhkan agar hidup bahagia.
Ehm, tapi kenapa ya standar kebahagiaan tiap orang itu berbeda? Trus apa yang harus aku lakukan untuk mencari makna dari kebahagiaan yang sebenarnya?
Mungkin pertanyaan diatas sempat terlintas di pikiran teman-teman. Iya kaann? Hehehe.
Ngomongin bahagia nih ya, standar kebahagiaan itu tergantung pemikiran masing-masing atau bisa diartikan tergantung persepsi kita terhadap segala sesuatu. Nah, kita kan sebagai seorang Muslim, sebagai hambanya Allah. Yang pasti tolak ukur kehidupan kita harus sesuai dengan Islam, hidup kita di dunia ini harus sesuai dengan aturan Sang Pencipta. Lah, kenapa? Karena kita adalah makhluk(ciptaan) yang lemah, terbatas dan bergantung pada yang lain. Sebab itu lah Allah sudah berikan pedoman hidup yaitu al-Qur'an dan al-Hadits, yang mana juga Allah udah ngasih kita akal untuk berfikir dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Setiap apa yang ada di kehidupan ini adalah makhluk(ciptaan) Allah. Berasal, bergantung, dan pasti akan kembali kepada Allah. Sebagaimana dalam firman-Nya :
 "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali). (Al-Baqarah 2:156).
Jika kebahagiaan yang ingin kita capai hanya sebatas materi atau kesenangan dunia, maka itu bukanlah kebahagiaan yang hakiki. Mengejar dunia boleh, tapi harus seimbang dengan akhirat. Itulah sebabnya mengapa kebahagiaan seorang Muslim itu ketika mendapatkan ridho-Nya Allah, ia pasti berusaha menggapai keridhoan Allah dengan ketaatan, mentaati segala perintah-Nya dan mencegah darinya segala kemungkaran.
Sesungguhnya orang-orang yang bersegera menuju ampunan Allah dan surga-Nya, serta bersegera melaksanakan berbagai amal shalih, mereka dapat dijumpai di masa Rasulullah saw dan di masa-masa sesudahnya. Umat senantiasa memuliakan mereka yang bergegas menyambut perintah Allah dan mengorbankan diri mereka, semata-mata mencari ridho Allah. Diantaranya adalah:
Di dalam hadits Jabir yang disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim, beliau menyatakan yang artinya:
"Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah saw pada perang Uhud, "Tahukah Engkau dimana tempatku berada jika aku terbunuh?" Rasulullah bersabda, "Engkau akan berada di surga."
Mendengar sabda Rasullah saw tersebut, maka laki-laki itu serta-merta melemparkan buah-buah kurma yang ada di tangannya, kemudian ia maju untuk berperang hingga terbunuh di medan perang."
Maa Syaa Allah ya, meskipun taruhannya itu adalah nyawa, ia berani maju ke medan perang. Bagaimana dengan kita kawan? Apakah kita akan mengorbankan apa yang kita miliki, termasuk nyawa kita untuk agama Islam? Atau jangan-jangan kita takut mati seperti orang-orang yang tak beriman?
Sungguh, kebahagian seorang Muslim itu ketika berjumpa dengan Allah. Dunia hanyalah tempat persinggahan. Di dunia kita persiapkan bekal sebaik mungkin agar kita dapat berkumpul bersama dengan mereka yang mencintai Allah dan Rasulullah. Aamiin Allahumma Aamiin. Wallahu 'alam bis-shawwab.

Post a Comment

0 Comments