Terjajah Hallyu?




 Oleh : Toreni Yurista (Ummu Taqiy

Sobat Muslim pasti udah familiar dengan hallyu. Ternyata pandemi hallyu ngga hanya menjangkiti kaum muda, lho. Sejumlah peneliti internasional pun ikut menaruh perhatian besar. Sebenarnya, seberapa penting, sih, fenomena hallyu ini sampai-sampai bisa menggelitik pena para ilmuwan?

Diam-diam Menghanyutkan

Hallyu atau disebut juga dengan Korean-wave adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea Selatan ke berbagai negara di dunia sejak medio ‘90-an. Istilah Hán liú (韓流, Bahasa Korea:한류;Hallyu) pertama kali digunakan oleh media massa China tatkala album grupband Korea, H.O.T, meledak di pasaran.

Di Indonesia, Sobat bisa lihat sendiri bagaimana segala hal tentang Korea ditiru habis-habisan. Dandanan ala Korea jadi trend di kalangan pelajar hingga ibu-ibu kondangan. Wajah putih seperti porselen dihiasi bibir ber-liptint mengalahkan jilbab Kartini dan baju kurung Cut Nyak Dien.

Fanatisme penggemar K-pop ngga perlu dipertanyakan lagi. Mereka tidak segan menunggu selama 10 jam demi bisa melihat oppa yang hanya muncul di konser kurang dari 10 menit. Menariknya, mereka sampai ikut bunuh diri ketika oppa-nya bunuh diri. Ngeriii!

Hallyu memang mampu bikin baper pemirsanya di Asia melebihi pengaruh film-film Hollywood. Personel boyband-girlband Korea dituntut bisa menyuguhkan kharisma khas Asia dan berpenampilan sempurna baik di lokasi syuting maupun kehidupan nyata. Sesuatu yang tidak ada di dunia hiburan Barat.

Pun, karakter pada drama Korea diatur agar menampilkan pesona romantis, kekar tapi mudah menangis, dan rela melewati momen-momen sedih demi seorang kekasih. Uuuh, perempuan mana yang ngga luluh? 

Waspada, Remaja Ala Korea
Psst, tahu ngga, sih, ternyata fenomena hallyu ini banyak diamati oleh para ilmuwan. Menurut ilmuwan politik Amerika, Joseph Nye, hallyu tak sekedar mempromosikan budaya pop, lho. Sebuah tesis di Universitas Leiden, Belanda, bahkan menyebut hallyu sebagai bagian dari kultural imperialisme.

Kultural imperialisme itu makanan apaan, sih? Bukan makanan, kalee. Itu adalah suatu bentuk penjajahan gaya baru. Soft-core imperialism alias negara terjajah tidak sadar kalau lagi dijajah.

Prosesnya, suatu negara yang lebih unggul memasukkan pada negara lain seperangkat keyakinan, nilai, pengetahuan, dan norma perilaku serta gaya hidup sehingga menggeser jati diri negara yang bersangkutan.

Kata Valérie Gelézeau, seorang peneliti Prancis, di Korea saat ini terdapat sebuah pemikiran aneh. Karena pemikiran ini, masyarakat yang berpola hidup sederhana bergeser menjadi sangat konsumtif, terutama terhadap produk kosmetik:

“Kamu harus menjadi momjjang atau ŏljjang (memiliki tubuh / wajah yang sempurna) jika kamu ingin sukses dalam hidup. Menjadi kebalikannya, yaitu momkkwang atau ŏlkkwang, akan meracuni masa depanmu.

Kamu perlu melakukan kyŏrhon sŏnghyŏng (operasi plastik untuk menjamin perkawinan yang sukses) dan chigŏp sŏnghyŏng (operasi plastik untuk mengamankan pekerjaan yang baik)

Tidak peduli apakah kamu pria atau wanita, jika kamu bukan mi-in (orang yang cantik), berarti kamu termasuk miyŏng hawui kyegŭp (kelas bawah), dengan kata lain kesejahteraan sosialmu bisa berisiko buruk.”

Ckckck...orientasinya keduniawian sekali ya, Sob. Tak hanya itu, hallyu juga berhasil mewarnai masyarakat agar menerima gaya hidup lesbian, gay, biseksual dan transgender.

Sobat pasti pernah denger film King ang The Clown (Wangui Namja) yang menjadi megahit pada tahun 2005. Film ini menandai kesuksesan komoditas gay di pasar mainstream Korea. Setelahnya, drama televisi, reality show, dan panggung musikal yang berbau queer udah nggak lagi dianggap tabu.

Apakah Sobat udah mulai ngga risih lihat cowok feminim dan cewek maskulin? Perlu bertanya, tuh, sama diri sendiri. Jangan-jangan pemikiran kita udah teracuni?

Penikmat Hallyu Jadi Target Bisnis
Sob, hallyu tak sekedar fenomena budaya. Ada industri besar dan suprasistem di balik kesuksesannya.

Industrialisasi yang pesat pada akhir abad ke-20 di Korea Selatan memungkinkan pengusaha dan pekerja Korea membuat produk budaya yang lebih kece dan mutakhir. Perusahaan Korea secara masif membentuk kemitraan dengan perusahaan lokal di seluruh Asia yang dikenal dengan nama "Pan-Asia Cultural Production Network." Tugasnya, memasarkan gaya hidup Korea di kalangan generasi muda.

Korporat multinasional membidik penggemar hallyu sebagai sasaran empuk. Kegilaan mereka terhadap estetika menguntungkan industri barang mewah. Di Korea aja, penjualan merk-merk mewah naik 3-4% (merk Tiffany, Gucci) bahkan mencapai 20% (Prada) dalam satu dekade terakhir.

Cewek-cewek Korea Selatan adalah konsumen nomor satu barang-barang kosmetik di dunia. Mereka mengaplikasikan 5 sampai 9 produk kecantikan di wajah, enam kali lebih banyak daripada wanita Prancis dan Inggris. Boros banget, kaaan?

Angka operasi plastik, setelah dimulainya gelombang hallyu, melejit bak roket nubruk satelit. Bayangin, 20% wanita Korea udah melakukan operasi plastik. Hal yang sama terjadi di Taiwan dan Hongkong. Operasi plastik juga dilakukan oleh 15% pria Korea (bandingkan dengan di Amerika Serikat yang hanya kurang dari separuh angka ini).

Pemerintah Korea dengan cerdik mengemas bisnis pariwisata operasi plastik. Tahun 2009, Majelis Nasional Korea udah mengeluarkan amandemen undang-undang kesehatan sehingga rumah sakit Korea bisa menarik pasien asing dari luar negeri. Pariwisata medis di Korea diprediksi bakal menghasilkan efek ekonomi sekitar 4.000 miliar won dari kantong para penggemar hallyu dari mancanegara.

Aroma Kapitalisme
Begitulah, Sob, meskipun penjajahan pakai kekerasan udah ngga laku lagi, bukan berarti penjajahan di dunia ini udah terhapuskan. Selama ideologi kapitalisme masih berjaya, imperialisme-yang merupakan karakter bawaan kapitalisme- bakal tetap ada.

Ngga salah kalau beberapa pengamat memandang hallyu sebagai bagian dari pengembangan produk kapitalisme. Misalnya, menurut Hyejung Cho-Han, K-pop adalah versi Korea dari budaya komersial Amerika dan hallyu merupakan perpanjangan dari industri ekspor Korea.

Produk utama hallyu adalah produk kapitalisme berkekuatan "turbo" yang membawa penikmatnya meninggalkan tradisi bangsa sendiri dengan perlahan tetapi pasti. Tak jarang negara terjajah tidak menyadari bahwa dirinya sedang dijajah. Tahu-tahu, jati diri bangsanya sudah lenyap dan kekayaannya telah berpindah tangan.

Jati Diri Remaja Muslim

Nah, Sobat Muslim, kiranya kita perlu kembali merenungkan sabda Rasulullah saw.,

 Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)

Pesan Rasul saw ini bertujuan menjaga agar kita tidak mudah terhanyut budaya asing. Mencintai Islam dan bangga dengan jati diri seorang muslim berarti melindungi diri kita sendiri dari perangkap bisnis kapitalis. 

Bukan berarti menonton K-drama dan K-pop dilarang sama sekali, namun kita perlu membatasi diri. Bukankah diantara kebaikan seorang muslim adalah menpersedikit perkara mubah dan memperbanyak sunnah?

Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976)

So, Sobat Muslim jangan malu dibilang kurang gaul hanya karena kita tidak ikut K-fashion. Ngga usah parno dibilang sok suci karena kita lebih banyak mengaji dari pada nonton drama. Sebab sejatinya, Rabbmu kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shobwah* [HR. Ahmad]

Allahu ‘alam bi ash-shawab

*shobwah: kecenderungan menyimpang dari kebenaran


Bahan Bacaan

  1. Al-Quran Al-Kariim
  2. Kwon, Jungmin. Commodifying the Gay Body: Globalization, the Film Industry, and Female Prosumers in the Contemporary Korean Mediascape. International Journal of Communication 10 (2016),1563–1580
  3. Yang, Jonghoe. The Korean Wave (Hallyu) in East Asia: A Comparison of Chinese, Japanese, and Taiwanese Audiences Who Watch Korean TV Dramas. Development and Society 41-1 (2012).
  4. Kim, Bok-Rae. Past, Present and Future of Hallyu (Korean Wave). American International Journal of Contemporary Research 5-5 (2015)
  5. Lee, Won-Jun. The Effects of the Korean Wave (Hallyu) Star and Receiver Characteristics on T.V Drama Satisfaction and Intention to Revisit. International Journal of Science and Technology 8-11 (2015), 347-356

  1. Duong Nguyen Hoai Phuong. Korean Wave as Cultural Imperialism, A study of K-pop Reception in Vietnam. https://openaccess.leidenuniv.nl/bitstream/handle/1887/37300/Phuong_thesis_1.docx.pdf?sequence=1
  2. Gelézeau, Valérie. The body, cosmetics and aesthetics in South Korea The emergence of a field of research. 2015. <halshs-01211686
  3. Eun, Seok-Chan. Brilliant Hallyu and Plastic Surgery. Journal of Korean Medical Science 28-11 (2013 ), 1561–1562.
9.      Ravina, Mark. Introduction: Conceptualizing the Korean Wave. Southeast Review of Asian Studies (2009).
  1. Nye, Joseph. "South Korea's Growing Soft Power". Analysis & Opinions, Daily Times, 11 November 2011


Biodata Penulis
Nama  : Toreni Yurista (Ummu Taqiy)
Profesi: Dokter umum dan ibu rumah tangga
Alamat: Vila Mutiara Bogor Blok G1/29 F
Organisasi: Komunitas Ibu Produktif, Healthcare Professional for Sharia (HELP-S)


Post a Comment

0 Comments