Teman Karena Allah Tak Sekedar sahabat Biasa

Oleh: Najwa Alifah (Member Back to Muslim Identity Aceh)



Teman adalah kawan, seseorang yang pernah dikenal, berjalan berbuat bekerja sama dalam aktivitas tertentu. Begitu kata mbah KBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Setiap orang punya teman, tapi tidak semua orang mengenal arti sahabat. So sweet, sedikit baperan ya. 
Dalam dunia pertemanan banyak orang berbeda memaknainya padahal tetap satu kata yaitu "teman". 

Ada orang yang menamainya teman biasa. Ada juga dengan istilah gaulnya remaja "friend forever" teman untuk selamanya. Dan ada juga menyebutnya dengan istilah TTM (Teman Tapi Mesra) ooh no..! 
Yang terakhir kedengarannya sedikit asing namun terasa melekat di hati yaitu "teman karena Lillah".

Sebenarnya istilah teman lahir ketika seseorang telah bertemu berkomunikasi menjalin keakraban hingga membawanya lulus menjadi sosok sahabat. 

Sahabat adalah seseorang yang selalu ada saat dibutuhkan menjadi teman curhat dalam suka ataupun duka. Wah, selintas jadi teringat lagu tempoe doelo yang dipopulerkan oleh Deddy dores & Maya sari di tahun 1980-1990-an. Kamu pasti enggak terlalu kenal, itukan zaman remaja emak dan bapak kita, kali ya?

Teman itu banyak jenis model dan gayanya. Ada teman yang gila gaul alias anak yang enggak kuper bin norak. Ada yang sukanya baca buku kemana-mana bawa buku, sampai dijuluki buku yang dikutukan, ssttt... salah, "kutu buku" maksudnya.

Terus ada juga teman yang ketika melihatnya tu terasa sejuk seakan bagai di kutub utara, iih lebay.

Yang satu ini sering menebar senyum, tapi enggak senyum-senyum sendiri juga. Kemana-mana ketemu siapa saja dia mencoba jalin keakraban dengan modal sok kenal ajalah. 

Dalam lingkup remaja dan kampus dia sering disebut "bunga dakwah" wiihh keren, pasti harum ya? So pasti.

Tujuannya karena Lillah mengajak teman-teman yang lain kearah jalan yang berbeda dari apa yang ditempuh remaja bebek hari ini dengan gaya hidup kebarat-baratan ngikutin trend dengan modal yang besar.  

Padahal itu semua merupakan upaya penjajahan barat dengan jurus sekulerisasi remaja, budaya dan pergaulan untuk menghancurkan generasi muslim sebagai pengemban peradaban islam.

Ditengah-tengah derasnya arus peradaban asing, sahabat Lillah ini hadir terus berusaha menyadarkan teman-temannya dengan islam mengajak mereka kearah hidup yang bermakna yaitu menjadi seorang hamba yang taat pada perintah al-khaliq (Allah subhanallahu wata'ala) dengan belajar islam memperbanyak amal sebagai bekal akhirat, Itulah teman sejati.

Sahabat, teman sangat menentukan arah hidupmu dan islam merangkan itu. Jika engkau berteman dengan pelaku maksiat maka engkau akan tergiring kejalan maksiat. Jika engkau berteman dengan yang sholeh/sholehah maka engkau akan ikut menjadi sholeh. 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Seseorang itu berada pada agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapakah yang dia jadikan teman karibnya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi & Ahmad).

Maka dari itu jangan salah memilih teman karena dirimu cerminan dari temanmu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ.
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”(QS. az-Zukhruf [43]: 67
)

Dari ayat tersebut jelas jika kasih sayang dalam persahabatan yang kita jalin dengan teman kita bukan didasari karena Allah, maka kelak hal itu akan berbalik menjadi permusuhan di hari kiamat. Apalagi jika teman kita tersebut sering mengajak dan menjerumuskan kita ke dalam perbuatan yang dimurkai oleh Allah seperti kesyirikan, pergaulan bebas dan kemaksiatan lainnya, maka bisa dipastikan dia akan menjadi musuh yang nyata bagi kita di hari kiamat, duhh ngerinya.

Maka bertemanlah karena Allah, Dan selalu bersama dengan orang-orang yang mengajakmu untuk taat, bukan untuk maksiat yang malah menabung dosa. 

Menjalin ukhwah karena Lillah itu sangat indah, lebih indah dari sekedar konde yang dipakai bu Sukma. Karena persaudaraannya

bukan terletak atas dasar hawa nafsu, tapi disatukan oleh ikatan Aqidah (Keimanan) yang akan membentuk pemikiran, perasaan dan aturan yang sama yaitu islam. Sehingga tidak ada menyakiti yang ada saling menasehati kepada yang ma'ruf dari hal yang munkar, mengajak kepada kebenaran bersama dalam perjuangan meraih ridha Allah semata agar kelak kembali dipersatukan di JannahNya, sangat indah bukan?

Wallahu A'lam bisshawab

Post a Comment

0 Comments