Tarian Erotis, Bikin Miris

Oleh : Sunarti


Satu peristiwa menggegerkan bumi Kartini. Tiga penari erotis memamerkan tubuh gemualainy di depan khlayak umum. Diiringi alunan musik dan decak kagum para penonton. Diikuti berjogetnya ratusan pengunjung.
Dengan hanya mengenakan pakaian dalam yaitu lingerie dan BH, mereka menari dalam musik menghentak. 
(tribunjateng.com, 14/4/2018).

Berita bak asap, tersebar ke berbagai media. Tanggapan pun beranekaragam. 
Pro dan kontra, pasti bermunculan. 
Negeri yang mayoritas muslim, namun berperadaban kebebasan, memunculkan penilaian berbeda terhadap tarian tersebut. 
Dengan alasan kebebasan berekspresi. Pasti akan mendukung, membela, bahkan menyanjungnya. 

Masyarakat di negeri ini, lebih memilih tontonan daripada tuntunan. Kejenuhan dengan berbagai permasalahan hidup, membawa pemikiran masyarakat ke arah kebebasan. 
Hingga pelampiasan diarahkan pada hura-hura. 
Urat malu, sudah jauh dari perilaku dan pemikiran. Asalkan senang, dirasa puas dan mendatangkan uang. 
Kebebasan yang semakin kebablasan.

Meskipun berbagai pihak telah bertindak, tidak menutup kemungkinan hal serupa terus terulang. Lemahnya jerat hukum bagi pelaku dan penikmat pornografi dan pornoaksi, menjadikan individu-individu makin berani. Dengan alasan kebebasan berekspresi. Jadilah lepas satu persatu urat malu yang dimilikinya. 

Perlahan namun pasti, peradaban "telanjang" akan merasuki anak negeri. 
Ketidak tegasan hukum, membuka peluang yang sangat besar. 
 
Naudzubillahi min dzalik. 


Dalam sistem Islam, aurat wanita diatur. Ada perintah menutup aurat bagi wanita yang keluar rumah. 
Ada juga larangan berlenggak-lenggok di hadapan pria bukan mahrom dan juga di tempat umum. 

Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allâh maha mengatahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [an-Nûr/24:31]

Pergaulan antara pria dan wanitapun diatur.
Ada larangan ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan).

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al-Ahzab: 53)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsir tentang ayat ini berkata, “Yaitu, sebagaimana aku larang kalian memasuki tempat kaum perempuan, demikian pula janganlah kalian melihatnya secara keseluruhan. Jika diantara kalian memiliki keperluan yang ingin diambil dari mereka, maka jangan lihat mereka dan jangan tanya keperluan mereka kecuali dari balik tabir.

So, jangan biarkan generasi masa depan menjadi "generasi telanjang" !
Jangan biarkan kebiasaan "tak beradab" hinggap dalam benak! 
Tanamkan peradaban mulia dari Sang Pencipta! 
Ajaran Rosulullah pembawa keridhlaan dan rahmatan lil alamin.

Wallahu alam bisawab

Post a Comment

0 Comments