Suka Oblongan, Takut Kaos Oblong

Oleh : Lina Afriyani ( Mahasiswi Faperta ULM Banjarbaru kalsel)



Seakan tidak terbentung antusias masyarakat dengan munculnya kaos bertajuk #2019gantipresiden. Gerakan #2019gantipresiden yang ramai di media sosial ini dicetuskan petama kali oleh Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera Mardani Ali Sera. Gerakan ini kata Mardani dibuat untuk mendidik masyarakat dalam berpolitik sekaligus antitesis dari gerakan yang sudah bergulir #duaperiode untuk presiden Joko Widodo (Tempo.co/9/4/2018).
 
Laksana tren baru di dunia perkaosan, kaos oblong bertulisan 2019gantipresisden ini menjadi viral dan ditanggapi mulai dari elit negeri sampai rakyat pribumi. Tidak hanya sekedar cuitan netizen namun tren ini menjadi ladang usaha bagi mereka yang mampu melihat peluang. Pasalnya banyak masyarakat menjual si kaos oblong sebagai wadah mencari rupiah. Jadilah makin terkenal si kaos oblong diberbagai daerah.

Menaggapi tren kaos #2019gantipresiden Pak Joko Widodo sendiri berseru dalam pidatonya pada acara Konvensi nasional 2018 di Puri Begawan, kota Bogor, sabtu (7/4/2018) beliau berujar “ sekarang isusnya ganti lagi, isu kaos. Masak pake kaos bisa ganti presiden ya enggak bisa “ seakan bentuk ketakutan akan lengsernya kekuasaan.

Memang pada dasarnya kaos hanyalah kaos, namun tulisan yang terpampang di kaos itu seakan menjadi senjata ampuh guna membentuk opini tentang kinerja presiden saat ini. Masyarakat mulai risih dengan pencitraan yang sama dan kepemimpinan yang dirasa tidak mensejahterakan mereka yang diwakili bahkan sebaliknya, justru menyengsarakan. Wajar saja masyarakat antusias menanggapi gerakan #2019gantipresiden sebagai bentuk kekecewaan selama masa periode jabatan presiden Joko Widodo.

Pertanyaannya adalah mampukah mereka yang menggantikan presiden tahun 2019 memimpin secara adil dan sesuai aspirasi rakyat ?, ibarat sebuah mobil rusak total yang mengharuskan untuk diganti akankah normal kembali hanya dengan mengganti sopir ?. Kenyataannya negeri ini telah di jajah dari berbagai aspek kehidupan mulai dari Pendidikan, Pergaulan, sosial, ekonomi, politik dan berbagai sisi kehidupan lainnya. Negeri ini terikat akan sistem rusak bernama Sekuler-Kapitalisme yang bathil dan menyengsarakan. Dimana mereka yang punya kuasa dan kapital buta jabatan dan haus kekuasaan. Umat harus rela menjadi penonton kemewahan para pejabat negara yang diperoleh dari pungutan pajak berkedok kepentingan rakyat
.
Harusnya sebagai umat muslim yang menjunjung tinggi tauhid dan taat syariat sadar bahwa tidak hanya pemimpin dzalim yang perlu di ganti, namun sistem negara ini perlu dibenahi. Karena Allah SWT menjajikan kesejahteraan yaitu rahmatan lil alamin bagi yang menjalankan syariat islam secara menyeluruh (kaffah). Bukankah sudah nyata bukti kesejahteraan rakyat ketika adil dan tegasnya Khalifah Umar Bin Khatab dan bagaimana politik islam dalam mengurusi urusan umat. MasyaAllah. Harusnya kita Rindu dengan sistem Allah yang maha sempurna dan berjuang dalam penegakannya di muka bumi Allah SWT.

Wallahu alam bishawab

Post a Comment

0 Comments