Standart Bahagia dalam Keluarga

Oleh : Sunarti 



Rajab dan Ruwah musim "manten", kalo orang jawa bilang. 
Memang, dalam tradisi Jawa, menikah itu harus dicari jodoh yang baik. Dalam artian ada beberapa syarat yang harus "diugemi" oleh calon pasangan. Entah itu yang mau menikah atau masih sebatas pacaran. Mulai dari hari kelahiran, arah mata angin kedua pasangan, latar belakang, "bibit, bobot, bebet", dan lain sebagainya.
Mulai hari,, somo, anggoro, budho, respati, sukro, tumpak, dite. Juga weton : pon,wage, kliwon, legi pahing (kasih, manis, jenar dst). Juga anak nomer berapa, orang tua/ayah anak nomer berapa. 
Setelah semua cocok barulah ditentukan hari yang baik, bulan yang baik, dan tentu saja tidak bersamaan dengan hari lahir ibu/ayah, hari kematian leluhurnya juga. 
Nanti kalau sudah dirasa "gathuk", barulah diteruskan ke agenda berikutnya. "Tuwek-tuwekan", lamaran/"ambruk" baru dilanjut ke penghitungan hari pernikahan. 
Semua itu ditujukan agar tidak terjadi "rubedo"/permaslahan dibelakang hari dan menempuh rumah tangga dengan bahagia. 
Seluruh upaya dilakukan untuk meraih kebahagiaan, meskipun terdapat kesyrikan di dalamnya. 

Berbeda lagi dengan pemahaman anak-anak remaja dan dewasa di zaman now yang sudah menginginkan untuk menikah. Mereka tidak lagi menggunakan adat/tradisi Jawa. Ada yang langsung melamar, ada yang lebih suka pacaran dengan alasan "njajaki"/mendalami calonnya. Ada juga yang mengumpulkan modal dulu sebanyak-banyaknya demi kebahagiaan 
Tidak dipungkiri jikalau mereka yang sudah punya niat untuk menikah semua menginginkan kebahagiaan. 

Standar bahagia memang nerbeda pada setiap individu. Ada keluarga yang memahami "mangan ra mangan pokok'e ngumpul", artinya makan maupun tidak pokonya berkumpul, itu adalah sebuah kebahagiaan. 
Ada juga yang memahami kebahagiaan itu ketika berlimpah akan harta.
Tak bisa dipungkiri, untuk standart bahagia adalah berlimpahnya harta menjadi pilihan secara umum di masyarakat kita. 
Namun ternyata, itu juga bukan jaminan kebahagiaan sebuah keluarga. 
Terbukti, banyak kalangan artis, pengusaha kaya raya, para pejabat yang bergelimang harta mengalami kegagalan dalam berumah tangga. 

Tidak sedikit malahan, yang berakhir di meja persidangan. 
Meski pada awalnya juga telah berjanji sehidup semati sebagaimana yang ditayangkan pada sinetron-sinetron, dram, dan film-film romantis. 
Tidak disangka, tatkala menemui sedikit saja permasalahan antara suami istri, terjadilah percek-cokan. Terlebih bisa berakhir di meja pengadilan atau yang lebih mengerikan, berakhir dengan kisah tragis (penganiayaan hingga pembunuhan
Tak jarang pula, kasus perselingkuhan yang menimpa sebuah keluarga, baik yang baru diarungi maupun yang sudah puluhan tahun betsama. Tidak hanya kaum pria, tapi juga dilakukan oleh kaum hawa. Diawali dengan ketidak puasan pada pasangan, diliriklah orang lain yang dirasa dekat dengannya, maka terjadilah menyimpang dari jalan rumah tangganya. 
Ibarat kapal karam atau kapal pecah sebelum sampai di dermaga.

Romantis, bahagia memudar sejalan dengan usia pernikahan yang semakin bertambah.
Baik yang baru terhitung hari, bulan hingga yang puluhan tahun, bisa berakhir pernikahannya, kandas. 
Masalah mendasar tak dimiliki oleh masing-masing individu, suami atau istri. 
Konon pernikahan berangkat pada rasa cinta dan kepercayaan yang nantinya akan meraih bahagia ketika menikah.  
Terutama cinta kepada manusia hanya dengan dorongan nau'nya. 
Apakah ini benar ?
Faktanya cinta bisa berakhir saat perekonomian menghimpit, dapat berakhir ketika penampilan fisik sudah tak menarik, pun bisa berakhir saat menemui masalah ketidak cocokan pada hal sepele, dan lain sebagainya.  

Tujuan menikah. 

Islam mengajarkan tujuan menikah adalah melaksanakan sunah Rosul, menghindari fitnah, menjaga kehormatan, mendapatakan keturunan yang sah di mata hukum syara' (termasuk di dalamnya adalah menjaga nasab/keturunan). 
Upaya untuk menjaga keutuhan rumah tangga adalah meraih kebahagiaan bersama dalam RidhloNya.. Niatkan semua perbuatan untuk mendapatkan RidhloNya. Jadikan standart kebahagiaan dalam seluruh penghuni rumah (keluarga) memiliki pemahaman bersama, yaitu kebahagiaan adalah ketika Allah ridhlo dengan seluruh amalan. Tidak perlu memandang kebahagiaan orang lain yang berlimpah secara materi. Pun, tidak perlu memandang kebahagiaan keluarga yang lain yang memiliki standart berbeda. 

Yang berikutnya adalah meraih surga bersama, tujuan ini yang sering terlupakan. 
Kadangkala manusia berpikir cukup dengan tujuan yang diatas, hingga melupakan tujuan yang terakhir. Efeknya, masing-masing individu memiliki kecenderungan memperhatikan tugas dan kewajiban masing-masing. Merasa sudah gugur kewajiban apabila sudah tertunaikan dan merasa sudah cukup dengan perannya masing-masing. 
Untuk saling mengingatkan/amar makruf, nahi munkar pada seluruh anggota keluarga, malah dilupakan. 
Sebenarnya, dalam posisi ini antara suami, istri, anak-anak (mungkin orang tua yang masih menjadi satu), masing-masing punya tugas yang sama, untuk saling mengingatkan.  
Janganlah sampai terjadi tumpang tindih dan saling tuduh kesalahan dan tidak ada muhasabah di tiap-tiap individu.
Bukankah Allah SWT sudah mengingatkan dalam FirmanNya QS. At Tahrim : 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
6. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Waallahu alam bisawab.

Post a Comment

0 Comments