Sunday, April 29, 2018

Soal Pelik Bikin Panik



Oleh. Tety Kurniawati ( Anggota Akademi Menulis Kreatif)

Ujian Nasional Berbasis Komputer ( UNBK ) sebenarnya diterapkan sejak 2015. Namun tahun ini muncul curahan hati para siswa yang merasa soal UNBK 2018 terlalu sulit.
Curahan hati (curhat) para siswa itu dilampiaskan ke media sosial. Sebagian mereka mengeluhkan soal yang berbeda dengan kisi-kisi.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kemudian berniat menemui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait soal UNBK yang dianggap susah ini. Mereka menilai ada malpraktik pendidikan dalam pelaksanaan UNBK 2018 ( detiknews.com 17/04/2018). 

Polemik sulitnya soal matematika dalam UNBK masih terus berlanjut. Para stakeholder dunia pendidikan masih saling berseteru. Satu kubu mengklaim bahwa materi yang diujikan belum pernah diajarkan  sementara kubu  lainnya mengklaim bahwa materi yang diujikan sudah sesuai dengan apa yang pernah diajarkan disekolah. 

Soal HOTS yang dianggap pelik oleh para siswa, diklaim Kemendikbud bertujuan untuk mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan anak bangsa lewat peningkatan kesulitan soal UNBK. Mendikbud Muhadjir Effendy menyatakan bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia dan Asia Tenggara.  Hal ini tercermin dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA). 

Menanggapi pernyataan tersebut, pemerhati pendidikan dari Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen mengatakan konsep dan praktik pembelajaran perlu dibenahi dulu sebelum menerapkan soal ujian HOTS. Pendapat senada yang menyiratkan kekecewaan terhadap Kemendikbud ditunjukkan oleh Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Kreativitas dan Budaya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Elvi Hendrani. Beliau menyatakan bahwa pihaknya merekomendasikan untuk mempertimbangkan penghapusan UNBK. 

Akar masalah munculnya polemik soal HOTS berawal dari penerapan sistem sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Para pengembannya percaya bahwa akal adalah aset luar biasa manusia yang bisa memecahkan setiap problematika kehidupan. Akibatnya kemanfaatan dan tersalurkannya kepentingan merupakan tujuan atas setiap perilaku. Tak terkecuali yang terjadi di dunia pendidikan. Pemahaman dan penguasaan materi tak lagi jadi prioritas. Karena hasil belajar beberapa tahun hanya dihargai sederet  nilai di atas kertas. 

Hal ini tentu berbeda dengan apa yang bisa kita temui dalam naungan Islam. Sistem pendidikan Islam mensyaratkan peserta didik untuk tidak sekedar menghafal dan mampu mengungkapkan kembali materi.  Tapi lebih kepada bagaimana peserta didik memahami dan menguasai materi itu sendiri,  sehingga mampu direalisasikan secara nyata dalam kehidupan. Para siswa tidak dikondisikan menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi semata. Namun juga memiliki pemahaman ajaran agama yang mumpuni. Proses belajar didesain sedemikian rupa agar peserta didik mampu mengaktualisasikan penggabungan antara kecerdasan duniawi dan ukhrowi. Para peserta didik tidak hanya menerima transfer ilmu dari para pendidik,  tapi dibimbing pemikirannya untuk selalu menjadikan  Islam sebagai qiyadah fikriyahnya. Tentu saja disertai proses tazkhif ( pembinaan) yang terus berkesinambungan agar bisa menghasilkan peserta didik yang berkepribadian Islam. Kurikulum sistem pendidikan Islam disusun berdasarkan aqidah Islam. Konsekuensinya, evaluasi dalam sistem pendidikan Islam dilakukan oleh para pendidik sesuai kebutuhan individu peserta didik. Karena Islam memahami benar bahwa tiap individu memiliki kemampuan dan potensi menyerap ilmu yang berberda-beda. Hal ini tidak berlaku jika materi yang dievaluasikan berupa pengetahuan umum yang wajib diketahui setiap individu rakyat. Maka proses evaluasi boleh dilaksanakan secara serentak bersama-sama. Firman Allah : "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar" . (QS Al Baqarah 155) Lebih lanjut, proses evaluasi dalam sistem pendidikan Islam ditujukan untuk menghasilkan peserta didik yang bertakwa. Firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18).

Demikianlah jika negara ingin meningkatkan kualitas  pendidikan tanpa membuat gusar para pelajar.  Maka siatem pendidikan  Islamlah solusinya. Sistem pendidikan yang mampu mencetak generasi pemimpin peradaban gemilang dan membawa kembali masa-masa kejayaan Islam ke tengah umat manusia. Sebagaimana firman Allah : "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96).  Wallahu a'lam bish showab.



Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!