Sistem Sosial (Pergaulan) Islam Penting Jadi Pegangan

Oleh : Yeni Ummu Aliya (Komunitas Revowriter dan Muslimah Peduli Generasi)



Sayup-sayup terdengar percakapan penuh kemarahan. Saat menoleh ternyata di sudut kolam renang terdapat dua perempuan dan satu laki-laki yang menjadi tokoh utama. Salah satu perempuan berapi-api meminta sumpah bahwa tidak ada perselingkuhan, dan dua tokoh lainnya bersedia bersumpah dengan menjabat tangan perempuan yang penuh kemarahan itu dengan menyatakan secara tegas tidak ada hubungan apapun antara keduanya, murni tak saling mengenal.

Sumpah ternyata belum menyelesaikan persoalan. Kemarahan masih belum tertuntaskan. Sang laki-laki dipaksa pulang. Perempuan yang mendapat tuduhan pun tak luput dari cacian dan makian yang tak berkesudahan.

Kejadian itu menyita perhatian seluruh pengunjung, namun hanya lirikan dan bisikan antar teman, karena tak mampu menjadi penengah keributan.

Ternyata kejadian itu berawal karena perempuan yang dituduh selingkuhan sekedar mengobrol di pinggir kolam renang walau tak saling mengenal. Sang Istri kebetulan datang namun terlanjur memiliki persepsi berlebihan. Benar-benar hal yang memalukan.

Betapa Islam sudah sangat jelas mengatur Sistem Sosial, yakni sistem yang mengatur hubungan laki-laki dengan perempuan dan sebaliknya, mengatur hubungan yang timbul di antara mereka karena hubungan tersebut.
Sungguh telah banyak ditemukan pergaulan bebas, hubungan antara laki-laki dan perempuan bagai tak mengenal aturan. Pacaran sudah menjadi kebiasaan, taman-taman penuh dengan yang berduaan setiap malam mingguan.Tak ragu boncengan karena merasa berteman. Tak kenal tapi asyik merajut obrolan. Hubungan intim dilakukan hingga hidup serumah dijalankan padahal tanpa ikatan pernikahan. Semakin hari semakin tak ada bedanya dengan hewan.

Islam telah mengatur bagaimana sistem sosial harus dijalankan. Dalam hal lingkungan kehidupan, Islam memisahkan antara kehidupan umum dan kehidupan khusus.

Kehidupan umum adalah tempat yang siapapun ketika memasukinya tak memerlukan izin. Contohnya antaralain sekolah, pasar, rumah sakit, jalan dan sebagainya. 

Kehidupan khusus adalah tempat yang siapapun memasukinya harus mendapatkan izin dari si Pemilik tempat tersebut. Contohnya antara lain rumah dan mobil pribadi.

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah orang lain sehingga kalian mendapatkan izin dan kalian mengucapkan salam kepada penghuninya". (TQS.an-Nur [24]: 27)

Aktifitas pertemuan baik di tempat umum maupun tempat khusus telah diatur dalam Islam. Di tempat umum pertemuan dilihat apakah tanpa adanya interaksi (ijtima') ataukah dengan interaksi (ikhtilat). Ijtima' dibolehkan asalkan tidak dengan berkhalwat (berdua-duaan) antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom. Ikhtilat juga dibolehkan asalkan apa yang dibicarakan bukanlah hal yang diharamkan dan tentunya tidak dengan berkhalwat. Ingat pula dalam tempat umum ini baik laki-laki maupun perempuan harus dalam kondisi tertutup auratnya.

Pertemuan antara laki-laki dan perempuan di tempat khusus hanya dibolehkan jika sang perempuan ditemani oleh beberapa orang yang dibolehkan. Kendatipun terjadi ikhtilat, apa yang dibicarakan terbatas pada apa yang diperbolehkan oleh syariah. Adapun orang yang dibolehkan menemani perempuan di tempat khusus adalah suaminya, ayahnya, ayah suaminya, putra-putranya, putra-putra suaminya, saudara laki-lakinya, putra-putra saudara laki-lakinya, putra-putra saudara perempuannya, perempuan-perempuan Islam, budak-budak yang dimiliknya, pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan (QS. an-Nur [24]: 31).

Ketika aturan Islam dijalankan, dalam hal ini sistem sosial yang tentunya dibarengi dengan penerapan sistem kehidupan lainnya, niscaya ketenangan yang akan dirasakan. Tak ada lagi kecurigaan, tak ada lagi tuduhan tak beralasan, yang ada hanyalah penjagaan dari benih kemaksiatan, yang ada hanyalah penjagaan kehormatan. Kemaksiatan, perselingkuhan, pengrusakan kehormatan bisa terjadi karena adanya sebuah kesempatan akibat sistem sosial (pergaulan) Islam tak menjadi pegangan.

Post a Comment

0 Comments