Semangat dan Kejujuranmu, Meluluhkanku

Oleh : Sunarti



7 tahun lalu, dirimu masih mungil dan imut. Tubuhmu yang semampai menampakkan betapa dirimu tidak begitu berdaging. Tanganmu yang tampak kecil namun lihai dalam menulis.


Dari kecil sudah tertanam rasa percaya diri dalam dirimu ditambah sifat jujur yang semakin membuatmu tak pernah mau kalah jikalau dikau benar. 
Justru kadangkala aku yang meragukanmu. 
Tak jarang saat engkau memperoleh nilai jauh di bawah teman-temanmu, aku yang merasa shock.  
Namun, engkau selalu memberiku kepercayaan. 
"Ibuk, ini nilai saya, bukan nilai mereka", katamu meyakinkanku. 


Aku tak mengerti dengan apa yang kau maksudkan dalam perkataanmu.
Dalam benakku masih saja terpenuhi tanda tanya. 
Karena menurutku, engkau gadisku yang cantik dan lihai dalam swmua mata pelajaran dan juga hafalan. 

Tapi, di sisi lain, kenapa rangkingmu masih berada di bawah teman-temanmu ?
Itu pertanyaan yang selalu menggelayutiku. 
Namu tak pernah terucap padamu. 
Seolah engkau selalu tahu apa yang aku pikirkan, dengan mantab engkau selalu mengucap kata yang sama. Kau yakinkan aku, kalau itu nilaimu. 

Ketika ujian nasional tiba, aku hanya bisa menemaninu belajar. Kadang kantukku tak kuasa aku tahan dan berbaring di dekatmu menjadi pilihanku. 
Kau tak relakan malam larut tiba begitu saja, kau tetap berbaring memeluk bukumu. 


Tak begitu tahu perkembangan ujian nasionalmu waktu itu. 
Seingatku engkau hanya sering bertanya, soalnya begini jawabnya apa, Buk. Begitu beberapa hari berlalu, dan kujawab seingatku. 
Namun engkau hanya bilang "yes".
Akupun hanya berprasangka, kalau itu jawabanmu pasti benar. 


Berakhir ujian nasional, dan seolah tak ada kabar darimu. 
Waktu aku bertanya, seperti tidak ada hal yang menarik dengan hasil nilaimu. 
Pihak sekolah diam-diam dan tanpa isyarat apapun untuk memberitahu nilaimu. 

Waktu perpisahan tiba, engkau mengajak ayahmu untuk datang ke sekolah. Dan tidak ada firasat apapun di hatiku waktu itu. 
Wajar, naluri seorang ibu, menginginkan anaknya mendapat nilai baik, tapi kali ini rasanya, seperti harus menerima keadaan, jikalau anakku biasa-biasa saja. Itupun tak pernah terungkap padamu, kusimpan rapat-rapat dalam relung hatiku. 


Kepala sekolahmu memberi kabar, kalau salah satu nilai mata pelajaranmu mendapat nilai sempurna. 
Dan ayahmu mendapat kehormatan mendapat kenang-kenangan dari sekolah. 
Bergetar hatiku, menetes air mataku, saat ayahmu menceriterakannya padaku. 


Tidak kusangka, engkau begitu istimewa. Maafkan, ibumu, Nak !
Yang selama ini masih meragukannmu, kataku sembari mengelus kerudungmu. 


Tak kusangka, engkau berceritera dengan raut muka yang berseri. . 
"Berapapun nilaiku, Ibuk, aku akan selalu merasa lega. 
Aku berusaha sungguh-sungguh dan tak pernah berfikir untuk mendapatkan nilai yang baik. Aku hanya berusaha mengerjakan sesuai kemampuanku dan berusaha untuk selalu jujur", katamu dengan berapi-api. 

Masyaallah, ternyata luar biasa pemikiran itu yertanam dalam benakmu. 


Teman, bagaimana dengan kita sekarang ?
Apakah sifat jujur sudah kita miliki ?
Apakah kalau kita sekarang melaksanakan salah satu aqlak baik, yaitu jujur, tidak akan celaka ?
Kalau orang jawa bilang, di zaman now jujur itu sama dengan "ajor".
Astagfirullah. 

Ternyata alam kapitalis telah membawa penghuninya menjadi manusia-manusia penuh tipu daya. 
Masihkah yakin dengan aturan buatan manusia ?

Berlaku jujurlah kalian, karena kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Ketika seseorang selalu jujur dan menjaga kejujurannya, maka Allah ï‰ akan menetapkannya sebagai orang yang jujur. Dan janganlah kalian berbohong, karena kebohongan akan mengantarkan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa akan mengantar seseorang masuk neraka. Jika seseorang selalu bohong dan membiasakan diri berbohong, maka Allah akan menetapkannya sebagai pembohong. (HR. Bukhari, Muslim (6591), Abu Dawud, dan at-Turmudzi (1976))

Post a Comment

0 Comments